EPILOG

11.6K 262 15
                                        

Suara tangisan pertama dari bayi kembar yang baru saja lahir ke dunia itu menggema mengisi ruangan operasi

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Suara tangisan pertama dari bayi kembar yang baru saja lahir ke dunia itu menggema mengisi ruangan operasi. Calvin menggenggam erat tangan Aruna, dan mengecup kening istrinya yang berhasil bertahan sampai sejauh ini. Mata keduanya berair, tangis haru mereka pecah mendengarkan tangisan anak pertama mereka. Anak yang Tuhan anugerahkan kepada mereka, dan pemberian yang harus mereka jaga segenap jiwa dan raga.

Kedua bayi itu di bersihkan oleh perawat, dan akan di bawakan ke ruangan rawat inap Aruna nantinya. Sementara Aruna, perempuan itu harus tetap berada di ruangan operasi untuk menerima jahitan di perutnya. Aruna melahirkan secara Caesar. Pilihan ini di pilih berdasarkan kesepakatan antara Calvin dan Aruna, mereka mempertimbangkan segala kondisi yang ada. Demi keselamatan ketiganya, Calvin menyerahkan semuanya kepada Dokter.

“Cucu Mama cantik dan ganteng,” ucap Hera, menatap ke arah keranjang bayi yang berderet dua buah di dalam ruangan Aruna.

Di masing-masing keranjang bayi tertulis nama dari bayi Aruna dan Calvin. Bayi laki-laki di beri nama Arka Axel Nugraha, sementara bayi perempuan bernama Arsha Aziel Nugraha. Nama yang telah mereka pikirkan jauh-jauh hari sebelum jadwal melahirkan. Nama yang berisi harapan baik bagi bayi kembar itu.

“Papa di kasih cucu laki-laki, nih, Pa,” ujar Farida, mengangkat bayi yang memakai kain berwarna biru, Arka. “Di kasih sama Calvin kemauan Papa.”

Darmawan menitikkan air mata melihat kedua cucunya. Mereka lahir dengan sehat, begitu juga Aruna yang juga sehat. “Papa sayang ke mereka berdua, Ma. Arka dan Arsha, cucu kembar kita.”

Arsha yang berada di dalam gendongan Hera, menerima ciuman dari Omanya itu. “Gemas banget Oma sama kamu,” ucapnya, menatap Arsha yang tertidur. Tubuh kecilnya menggeliat akibat ciuman bertubi dari Hera.

“Nanti dia nangis gara-gara kamu, Ma,” ucap Panji. Laki-laki itu mengambil alih Arsha. “Cucu perempuan kita enggak kalah dari cucu laki-laki, Wan.” Panji mendekatkan Arsha ke arah Darmawan.

“Saya mau coba menggendongnya, Ji.” Darmawan mengambil Arsha dari gendongan Panji. Dia menatap Arsha dengan mata berkaca-kaca. Betapa bodohnya dirinya yang sudah menyakiti Aruna. Menantunya itu telah memberikannya dua cucu yang begitu lucu.

“Awas itu air mata kamu kena Arsha, Pa,” celetuk Farida. Arka yang tadi berada di gendongan Farida sudah berpindah ke tangan Hera. “Gantian aku, Pa. Aku belum gendong Arsha.” Farida mengambil alih Arsha dari gendongan Darmawan.

“Aku baru gendong, Ma.” Darmawan menatap Farida merajuk, mengundang gelak tawa dari yang lain.

Semua orang sibuk dengan si kembar, mereka di oper secara bergantian ke dalam gendongan kedua orang tua Aruna dan Calvin. Bahkan, Clara dan Abi ikut menyambut kedatangan buah hati mereka. Abi dan Clara ikut antusias, dan menggendong si kembar dengan gemas.

Melihat kebahagiaan keluarga mereka, membuat Aruna ikut bahagia. Perempuan itu duduk di ranjangnya dengan tatapan mengarah ke arah keributan yang keluarga mereka perbuat untuk rebutan menggendong si kembar. “Mereka di sambut dengan baik, Mas.”

Titik Tunggu (Sudah Revisi)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang