#story13
Aruna Daniella Suherman tidak menyangka jika dirinya di jodohkan oleh kedua orang tuanya. Di umurnya yang sudah menginjak angka 27, Aruna di paksa menikah dengan Calvin Dalbero Nugraha demi menjalin kerja sama dengan keluarga Nugraha. Perus...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Memutuskan untuk tidak melakukan rutinitasnya ke kantor lagi, dan memilih menjadi pengangguran. Calvin menghabiskan waktunya bersama Aruna di rumah, mengganti waktu yang sempat terbuang sia-sia, dan melakukan kegiatan yang belum pernah mereka lakukan karena segala masalah yang menerpa.
Calvin menghabiskan harinya dengan bermalas-malasan di atas kasur sambil memeluk Aruna. Mereka keluar kamar hanya saat makan saja, dan selebihnya berdiam di kasur. Melakukan kegiatan yang penuh dengan romansa, seperti menonton berdua, mengobrol, bercinta, bercinta, dan bercinta. Apalagi kegiatan penuh romansa yang dilakukan pasangan suami istri selain bercinta?
Setelah bergulat untuk ke sekian kalinya, Calvin berhenti juga. Laki-laki itu membawa Aruna untuk duduk di kasur, memeluk perempuan itu dari belakang. Keringat membasahi tubuh keduanya, dan napas mereka masih terengah menikmati sisa-sisa pelepasan.
Sepasang suami istri yang menjabat sebagai pengangguran itu menikmati harinya tanpa beban. Mereka menikmati hari ini tanpa memikirkan hari esok. Mereka tertawa bersama, berkeringat bersama, mendesah, dan mengerang, semuanya mereka lakukan di ranjang.
"Kapan tumbuhnya, ya?" tanya Aruna. Tangan perempuan itu mengusap perutnya sendiri. "Aku mau punya anak juga." Aruna menginginkan anak karena dia menyukai anak kecil. Bukan semata karena tuntutan dari orang tuanya. Aruna tidak lagi memikirkan keturunan untuk orang lain. Dia memikirkan keturunan untuk Calvin, suaminya.
Calvin menunduk, ikut mengusap perut datar Aruna. "Sabar, ya, Sayang. Kita usaha dulu."
"Udah rajin usaha." Aruna memasang wajah cemberut. Mereka sudah berusaha, setiap ada kesempatan, mereka melakukannya.
Calvin terkekeh. "Mungkin, spermanya lagi berenang di dalam. Biarin dia cari pasangannya dulu. Kalau udah ketemu, nanti jadi juga."
"Apa aku enggak bisa hamil, ya, Vin?" Aruna mulai pesimis dengan kesuburannya sendiri. Sampai saat ini, dirinya tak kunjung hamil juga, padahal Calvin sudah sering menumpahkan benihnya di dalam tubuhnya.
"Enggak boleh ngomong gitu. Kita tunggu dulu, ya?" Calvin berusaha menenangkan, membantu menepis segala pemikiran buruk yang muncul di benak Aruna.
Aruna sedikit menengadah, menatap Calvin. "Kalau aku benaran enggak bisa kasih kamu keturunan, gimana? Apa kamu bakal nikah lagi?"
"Kamu ini, pemikirannya." Calvin mengapit pelan hidung Aruna dengan gemas. "Walaupun kalau benar, seandainya kamu enggak bisa kasih aku keturunan, aku akan tetap bersama kamu. Aku enggak akan menikah lagi. Kalau ujung-ujungnya aku nikah lagi, buat apa aku ninggalin perusahaan?" Calvin menatap wajah Aruna yang tampak berpikir. "Udah, jangan mikirin yang aneh-aneh. Aku enggak pernah mikir buat nikah lagi, apa pun kondisinya nanti."
Selagi ada Aruna di sisinya, Calvin tidak butuh yang lain. Meskipun mereka tidak di berikan keturunan, maka Calvin akan menerima itu dengan lapang dada. Tujuannya menikahi Aruna adalah membuat perempuan itu menjadi miliknya, menemani harinya, bukan hanya untuk menghasilkan keturunan saja. Dia hanya ingin hidup bersama Aruna.