#story13
Aruna Daniella Suherman tidak menyangka jika dirinya di jodohkan oleh kedua orang tuanya. Di umurnya yang sudah menginjak angka 27, Aruna di paksa menikah dengan Calvin Dalbero Nugraha demi menjalin kerja sama dengan keluarga Nugraha. Perus...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini. Setiap orang memiliki kekurangan. Setiap orang pernah berbuat kesalahan, baik itu kesalahan yang di sengaja maupun tidak di sengaja. Tanpa sadar, terkadang kita menyakiti hati orang lain dengan segala perkataan yang meluncur dari mulut kita. Sebelum rasa sakitnya semakin tertanam semakin dalam, ada baiknya kita belajar untuk mengucapkan kata maaf kepada orang yang telah kita sakiti. Manusia tidak hanya di tuntut untuk belajar mengatakan maaf, tapi juga harus bisa memaafkan orang lain. Karena, tidak selamanya kita berada di posisi yang tersakiti, ada kalanya kita menjadi salah satu orang yang memberikan rasa sakit kepada orang lain.
Setelah kata maaf itu menjembatani mereka, maka segala permasalahan dapat di selesaikan dengan lapang dada. Seperti Darmawan yang berani meminta maaf kepada Aruna, tanpa pandang umur. Jika salah, maka harus meminta maaf, mau berbuat salah ke orang yang lebih tua, lebih muda, atau seusia, tetap saja harus meminta maaf ketika berbuat salah.
“Badan kamu makin panas, Run,” ucap Calvin. Tangan laki-laki itu berada di kening Aruna, memeriksa suhu tubuh sang istri yang semakin panas. Laki-laki itu memandangi wajah pucat Aruna yang tengah berbaring di atas kasur. Dua hari Aruna demam, tidak nafsu makan, dan tubuhnya begitu lemah.
“Aku enggak apa-apa. Kamu berangkat kerja aja, Vin.” Suara Aruna terdengar serak, dan sedikit bindeng. Selain badannya panas, Aruna juga flu berat. Calvin mengajaknya ke Rumah Sakit, dan Aruna selalu menolak. Dibelikan obat dari apotek pun, tidak ada satu pun obat yang Aruna minum. Perempuan itu tidak mau menyentuh obatnya.
Calvin menarik lepas dasi yang telah melekat dengan rapi di lehernya. Dirinya sudah rapi dengan kemeja, sudah siap untuk berangkat ke kantor. Semenjak Darmawan meminta maaf kepada Aruna, dan meminta Calvin untuk kembali mengurus perusahaan. Laki-laki itu menyetujui, asal tidak akan terulang lagi rencana untuk menikahkannya dengan perempuan lain hanya demi mendapatkan keturunan.
“Aku enggak bisa kerja kalau kayak gini, Run. Aku enggak bisa tinggalin kamu di rumah sendirian. Kemarin aja aku tinggalin kamu, kamu enggak makan seharian, jadinya kondisi kamu makin drop.”
Kemarin Calvin sudah mulai bekerja. Dia sudah mengatakan untuk masuk kerja nanti saja setelah Aruna sembuh, namun perempuan itu terus memaksanya untuk mengurus perusahaan yang sudah dia tinggalkan dalam waktu lama. Terpaksa Calvin berangkat bekerja dengan berat hati, dan sepanjang pekerjaannya fokusnya terpecah belah dengan Aruna yang tengah sakit di rumah. Sepulang kerja, Calvin mendapati sarapan yang dia buatkan masih utuh, dan Aruna tidak makan sampai sore.
“Berangkat kerja, Vin,” suru Aruna dengan suara pelan. Dia tidak punya tenaga untuk bersuara. Matanya juga terasa berat, sulit untuk terbuka. “Nanti aku minta Dian buat nemenin aku, atau enggak aku minta Kak Clara buat antar Cia ke sini.”
“Kalau kamu di temani Cia, yang ada dia jadi beban buat kamu, Run. Bukannya malah membantu kamu.” Calvin menggenggam tangan Aruna. Tangan perempuan itu saja terasa panas, seperti akan terbakar.