BAB 21

6.7K 227 3
                                        

***

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


***


"Ada apa ke sini, Mas?"

Kedatangan Abi dan Clara di sambut dengan pertanyaan oleh Calvin. Sore-sore, saat dirinya tengah asik memadu kasih dengan Aruna, seseorang menekan bel rumah. Calvin terpaksa harus menyudahi aktivitasnya itu karena tamu dadakan yang datang tanpa kabar. Laki-laki itu menatap ke arah Abi dan Clara yang duduk di depannya. Sementara Aruna, dia menyiapkan minuman untuk kakak iparnya itu.

"Kasih minum dulu, Vin. Kamu langsung nanya gitu aja." Aruna datang dengan membawa nampan berisi tiga gelas minuman untuk tamunya.

"Biar aku, Sayang." Calvin mengambil alih nampan dari tangan Aruna, kemudian menaruh gelas satu per satu di depan Abi dan Clara, sementara yang satu lagi dia biarkan di atas nampan.

Clara menatap ke arah Aruna yang duduk di sebelah Calvin, wajah perempuan itu tampak sedikit pucat. "Lagi sakit, Run?" tanyanya penasaran.

Aruna menatap Clara, tangannya bergerak meraba permukaan wajahnya yang terasa panas dari biasanya. Akhir-akhir ini, Aruna kelelahan karena Calvin menghabiskan waktu 24 jam bersamanya, dan tentu mereka melakukan kegiatan yang cukup menguras tenaga. "Enggak, Kak."

"Wajah kamu pucat," beri tahu Clara.

Aruna tersenyum. "Lagi enggak pakai make up, Kak. Di rumah aja, enggak ke mana-mana soalnya."

Calvin menoleh ke arah Aruna. Memang, dari tadi Calvin melihat wajah Aruna yang pucat, tapi perempuan itu selalu mengatakan jika dirinya baik-baik saja. Bahkan, saat Aruna pucat pun, Calvin masih menggempurnya. "Tidur di kamar aja, Run." Calvin meraih tangan Aruna, menggenggamnya. "Biar aku aja yang bicara sama Mas Adi dan Kak Clara."

Aruna menggeleng sambil tersenyum. Tidak enak jika dia tidak menyambut tamunya, dan malah tidur di kamar. "Aku enggak apa-apa." Aruna beralih menatap Abi dan Clara, keduanya datang tanpa membawa Cia. "Cia enggak ikut, Kak?"

Clara menggeleng. "Enggak. Cia Kakak tinggal sama adiknya Mas Abi, kebetulan dia lagi main di rumah." Clara beralih menatap Calvin yang duduk santai dengan baju kaus dan celana pendek, rambutnya terlihat berantakan. Clara mengulum senyum, adiknya itu pasti menikmati hidupnya bersama Aruna. "Enggak kerja lagi, Vin?"

"Enggak, mau ngabisin duit dulu. Kerja nanti aja pas duitnya udah habis," jawab Calvin santai.

Clara terkekeh. "Masih banyak tabungannya, Mas," ucapnya sambil menyikut tangan Abi. "Kalau duitnya udah habis, kamu mau kerja di mana? Kayaknya enggak pernah lagi datang ke kantor. Mas Abi sampai handle semuanya, dan pusing banget dia."

Semua pekerjaan di limpahkan kepada Abi, menantu keluarga Nugraha yang masih bertahan di perusahaan. Mau tidak mau, untuk sementara Abi yang membantu Darmawan mengurus perusahaan, dan banyak yang tidak Abi ketahui karena posisinya di bawah Calvin.

"Banyak klien yang enggak mau ketemu sama aku, Vin, bahkan sama Papa sekalipun. Mereka bilang kalau mereka bahas kerja samanya sama kamu, dan enggak mau lanjut tanda tangan kontrak kalau bukan kamu lagi," cerita Abi. Beberapa kali Abi di tolak oleh klien karena yang bertemu klien itu Calvin. Banyak penolakan yang Abi terima, membuat kepalanya pusing, hampir pecah.

Titik Tunggu (Sudah Revisi)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang