BAB 17

6.8K 230 3
                                        

Aruna berada di ambang kebingungan, memilih bertahan dan diduakan atau memilih mengundurkan diri seperti apa yang orang tuanya suruhkan padanya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Aruna berada di ambang kebingungan, memilih bertahan dan diduakan atau memilih mengundurkan diri seperti apa yang orang tuanya suruhkan padanya. Berhari-hari Aruna memikirkannya, tetap saja dirinya tidak menemukan pilihan yang tepat. Aruna tidak bisa memilih jalan hidupnya. Terbiasa di pilihkan, membuat Aruna kebingungan ketika di hadapkan pada dua pilihan.

“Melamun aja, Run,” tegur Erika. Perempuan itu duduk di sofa yang ada di seberang Aruna. Erika datang ke rumah Aruna karena permintaan dari Calvin untuk menemani Aruna di rumah. Berhubung dirinya sedang libur, jadi Erika bisa menemani Aruna. Erika tidak datang sendirian, dia membawa ikut serta Sesil, dan Dian juga ada di sana.

“Kayak banyak pikiran banget lo!” semprot Dian. Perempuan itu menatap kesal ke arah Aruna yang melamun semenjak dia datang. “Sesil jadi tertekan ada di pangkuan lo.”

Aruna menarik bibirnya membentuk senyuman, kemudian menundukkan kepalanya, menatap Sesil, bayi lucu yang sedari tadi berada di pangkuannya. “Sesil adem ayem aja di pangkuan gue.”

“Gue yang gerah lihat lo diam terus dari tadi,” ucap Dian, seperti biasa, dia yang paling kesal jika Aruna tengah di landa masalah. “Senyuman lo jelek, anjing!”

Aruna terkekeh. “Terus gue harus senyum kayak gimana lagi?”

“Senyum bahagia, bukan senyum menyedihkan,” balas Dian.

Erika menatap Aruna serius. “Kali ini, ada apa lagi, Run? Biasanya, tiap mau cerita, lo yang samperin kita. Tapi, tadi Calvin yang menelepon gue. Dia kelihatan khawatir banget sama lo, dia sampai mohon-mohon ke gue buat luangin waktu ke sini.”

Aruna terdiam beberapa saat. Ah, iya, dia terlalu banyak berpikir akhir-akhir ini sampai melupakan keberadaan Calvin. Laki-laki itu selalu berada di sisinya sepanjang waktu, dan Aruna tidak menceritakan apa-apa kepadanya. Jadi, wajar saja jika Calvin kebingungan dengan perubahan sikapnya. “Gue bakal punya teman baru.”

Erika dan Dian tampak bingung. “Teman baru?” ulang Erika yang di balas dengan anggukkan oleh Aruna. “Lo kenalan sama orang baru?”

Aruna menggeleng. Perempuan itu menundukkan kepalanya, menatap Sesil yang duduk di pangkuannya dengan wajah polos. “Sesil nanti punya Tante baru. Tante Sesil enggak cuman dua, tapi jadi tiga nanti.”

“Run, sumpah deh! Lo bisa jelasin yang jelas enggak?! Gue enggak bisa menerka apa yang lagi lo pikirin, Run.” Dian mengusap rambutnya dengan wajah frustrasi.

Aruna menarik matanya menatap Dian dan Erika yang duduk di sofa depannya. “Calvin akan nikah lagi,” beritahunya sambil memperlihatkan senyum. Demi tuhan, senyuman Aruna menyedihkan, sangat menyedihkan, matanya berkaca-kaca, dan dadanya sesak.

“Lo serius?” tanya Erika, memastikan lagi. Dan Aruna membalasnya dengan anggukkan.

“Kan, benar dugaan gue. Emang bangsat itu Calvin! Dia menikah lagi setelah dia menyentuh lo?! Bajingan!” Kemarahan Dian tak terkendali.

Aruna menutup telinga Sesil ketika Dian mengeluarkan kalimat umpatan berulang kali. “Yan, ada Sesil.”

Dian memutar bola matanya. “Sesil belum ngerti gue ngomong apa.”

Erika menahan tangan Dian saat perempuan itu hendak membuka mulut. “Calvin yang bilang sama lo?”

Aruna menggeleng. “Bukan. Mama gue, dia tahu langsung dari Papa Calvin.” Mata Aruna memanas. Erika yang paham jika Aruna ingin menangis, dia langsung mengambil Sesil dari pelukan Aruna, dan duduk di sebelah Aruna.

Aruna menengadahkan kepalanya sejenak, menghirup udara, dan menghembuskannya perlahan. “Calvin anak laki-laki satu-satunya di keluarga Nugraha, dan Kakak Calvin udah enggak bisa hamil lagi. Sementara gue, gue sampai hari ini belum hamil juga.”

“Eh, lo baru di sentuh laki lo, ya! Kalau lo di entot dari lama, belum hamil juga, baru bisa di pertanyakan.” Dian tidak terima kehamilan Aruna di pertanyakan oleh orang tua Calvin yang tidak tahu apa-apa itu.

Erika tidak ikut emosi seperti Dian, dia tampak lebih tenang menanggapi cerita Aruna. “Terus, jadi masalah buat keluarga dia? Dan Calvin di suruh nikah sama cewek lain?"

“Biar aja dia nikah sama yang lain! Lo lihatin aja, bisa langsung hamil enggak tuh cewek?! Kalau bisa langsung hamil, berarti udah DP duluan,” sambar Dian.

“Dian...” Erika menggelengkan kepalanya sambil menatap Dian memperingati. Setelah Dian menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa, dan terlihat tenang, baru Erika menatap Aruna lagi. “Lo bukannya enggak bisa hamil, Run, tapi kan, lo sama Calvin baru aja usaha. Baru beberapa bulan juga, kan?”

Aruna menoleh ke arah Erika. “Mereka enggak tahu semua itu, Er. Papa Calvin mengharapkan keturunan dari Calvin, dan dia berharap anak laki-laki. Kalau gue enggak bisa kasih Calvin keturunan, dia bisa cari menantu baru.”

“Hah!!” Dian membuang napas kasar. Perempuan itu di buat darah tinggi lagi. “Bacot banget itu bapak tua! Coba dia di posisi lo! Suruh dia hamil.”

“Dia cowok, Yan. Enggak bisa hamil,” beri tahu Erika dengan wajah datar. Kalau marah, Dian bicara tidak pakai otak. Apa yang melintas di kepalanya, itu yang Dian ucapkan.

Dian berdecak kesal karena Erika yang pakai mengoreksi ucapannya. “Pokoknya, permintaan dia enggak masuk akal. Salahin anaknya, tuh! Dia yang udah anggurin Aruna selama setahun! Harusnya itu Bapak-bapak kalau ngomong pakai otak!” Dian menunjuk kepalanya sendiri.

Rasanya, Erika ingin membalikkan ucapan itu kepada Dian, tapi mengingat situasi kini tidak memungkinkan, Erika memilih diam saja. Dia akan mendengarkan segala amarah yang Dian luapkan.

“Apa tadi katanya?! Dia mau anak cowok! Harusnya dia minta ke tuhan! Bukan ke lo, Run.” Dian menatap Aruna kesal, bukan kesal kepada Aruna, dia kesal dengan permintaan Darmawan yang menginginkan anak laki-laki. “Di kira bikin kue, kalau bentuknya enggak sesuai kemauan, bisa di buat ulang. Mertua lo sakit!”

Erika memegang tangan Aruna, mengusapnya dengan lembut. “Calvin tahu enggak kalau dia di suruh nikah lagi?”

“Tahulah dia! Enggak mungkin enggak tahu. Orang dia yang bakal nikah lagi. Emang laki lo udah ngerencanain semuanya kali dari awal. Dia udah punya cewek simpanan, dan jadiin alasan lo belum hamil buat nikahin ceweknya. Ke baca banget isi otaknya.”

Erika menghela napas pelan, geleng-geleng kepala melihat Dian yang begitu menggebu-gebu. Dia bertanya kepada Aruna, malah Dian yang menjawab dengan segala teorinya yang penuh kecurigaan itu. “Lo udah kayak istri Calvin aja, Yan. Kesannya lo yang ada di posisi Aruna.”

“Najis!” Dian bergidik. “Enggak sudi gue punya laki kayak Calvin. Setahun nikah enggak di kasih nafkah batin. Amit-amit!” Dian mengetuk meja, kemudian mengetuk kepalanya. Hal itu Dian lakukan berulang kali, membuat Aruna terkekeh melihatnya.

Seburuk itukah Calvin di mata Dian? Padahal laki-laki itu begitu sempurna di mata Aruna. Calvin baik, perhatian, pengertian, dan perkasa juga di ranjang. Hanya saja, laki-laki sempurna itu akan dia bagi dengan perempuan lain yang akan menjadi istri baru Calvin nantinya.

*******

Lumayan terhibur gakk sama bacotannya Dian?
Biar gak kusut banget muka si Aruna

Lumayan terhibur gakk sama bacotannya Dian?Biar gak kusut banget muka si Aruna

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Titik Tunggu (Sudah Revisi)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang