BAB 29

7.6K 203 0
                                        

Alasan yang Aruna katakan jika dia bosan di rumah sendirian tidak berarti apa-apa lagi

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Alasan yang Aruna katakan jika dia bosan di rumah sendirian tidak berarti apa-apa lagi. Setiap hari Hera menemaninya, menunggu sampai Calvin pulang bekerja. Jika bisa memilih, Aruna lebih senang sendirian. Saat sendirian, dia bisa melakukan apa pun tanpa di larang. Jika ada Hera, perempuan itu melarang Aruna melakukan sesuatu. Bahkan, berjalan cepat saja Hera melarangnya.

“Jalannya pelan-pelan, Run,” peringat Hera ketika Aruna berjalan lebih cepat.

“Tidurnya jangan telentang, miring aja.” Hera mengomentari posisi tidur Aruna ketika perempuan itu di paksa untuk tidur siang.

“Makannya yang banyak biar bayi yang di perut dapat banyak nutrisi. Dua bayi yang kamu kasih makanan,” ucap Hera sembari menambahkan sesendok besar nasi ke piring Aruna. Padahal Aruna sudah makan banyak, dan Hera menambahkannya lagi.

“Jangan makan cemilan kayak gitu, Run.” Hera mengambil toples berisi bakso goreng yang ada di pangkuan Aruna. “Makan buah aja kalau mau ngemil.” Dan Hera mengganti bakso goreng dengan buah-buahan yang sudah di potong.

Masih banyak lagi larangan demi larangan yang Aruna dengar. Tiap langkah yang Aruna tempuh, penuh dengan peringatan dari Hera. Tiap makanan yang Aruna makan, harus lolos seleksi Hera. Tiap kegiatan yang Aruna lakukan, penuh dengan peringatan dari Hera. Hera menjadi protektif karena takut kandungan Aruna kenapa-kenapa, dan Aruna memakluminya saja, walau terkadang merasa jengkel.

“Jangan lupa lusa USG, Run,” ucap Erika, menatap ke arah Aruna yang duduk di sofa seberangnya.

Aruna menghela napas. “Iya, Er. Gue kemarin-kemarin di recoki Mama gue. Udah pusing kepala gue.” Aruna menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa.

Hari ini, Aruna di temani oleh kedua sahabatnya, sementara Hera, Aruna meminta Hera untuk pulang saja karena sudah ada yang menemaninya di rumah. Setidaknya, dia merasa sedikit lebih lega, dan bisa bernapas sejenak selama Hera tidak lagi menambah daftar larangan kepadanya.

“Siapa suruh lo hamil!” celetuk Dian dengan wajah menyebalkannya. “Di kira hamil enak.”

“Emang lo pernah hamil, Yan? Sampai tahu banget kalau hamil enggak enak.” cibir Erika.

Dian mendelik. “Gila lo kalau gue hamil! Punya laki aja kagak gue. Saya masih ting-ting.” Dian menggertakkan tubuhnya seakan tengah berdangdut.

“Yakin masih ting-ting?” tanya Erika. Perempuan itu mendekatkan duduknya dengan Dian. “Sini gue periksa dulu.”

“Tangan lo awas, Er!” Dian menatap horor ke arah tangan Erika yang ingin menyentuh selangkangannya.

Melihat keributan temannya itu, Aruna hanya bisa tertawa. Perempuan itu kemudian beralih menatap Sesil yang ada di pangkuannya. “Mama Sesil lagi berantem sama Tante Dian. Mereka lucu, ya,” ucapnya sembari terkekeh geli.

“Berani lo buka celana gue, gue tendang pantat lo!” ancam Dian, berusaha menghindari Erika. Dian menjauhkan dirinya dengan duduk di ujung sofa.

Erika tergelak. “Lagian pakai acara ngaku ting-ting. Belum nikah belum tentu masih PW, ya!”

Titik Tunggu (Sudah Revisi)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang