#story13
Aruna Daniella Suherman tidak menyangka jika dirinya di jodohkan oleh kedua orang tuanya. Di umurnya yang sudah menginjak angka 27, Aruna di paksa menikah dengan Calvin Dalbero Nugraha demi menjalin kerja sama dengan keluarga Nugraha. Perus...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Terpaksa Calvin menuruti kemauan Aruna. Tidak menunggu lama, Aruna langsung minta di antar ke rumah orang tuanya, dan berkata akan pergi sendirian jika Calvin tidak mau mengantarkannya. Calvin hanya bisa pasrah, mengikuti kemauan sang istri.
“Habis berantem lagi?” tanya Panji. Laki-laki itu menghampiri Calvin yang tengah merokok di luar rumah. Sementara Aruna tengah bersama Hera di dalam.
Calvin menurunkan tangannya yang mengapit puntung rokok. Tersenyum kepada Papa mertua. “Enggak berantem, Pa. Aku salah ngomong tadi sama Aruna.”
Panji sudah tahu jika kedatangan Aruna dan Calvin ke sini tidak akan jauh dari Aruna yang tersinggung dengan Calvin, kemudian berujung minta di antarkan ke rumah mereka. “Dulu, pas Mama hamil Aruna juga kayak gitu. Tiap hari ada aja yang buat dia marah, bahkan Papa enggak di izinin tidur di kasur karena enggak mau dekat sama Papa. Tapi, kalau Papa tidur di kamar terpisah, Mama malah ngamuk dan nangis, bilang Papa enggak sayang sama dia. Jadi, terpaksa Papa tidur di lantai tanpa alas dan selimut, Papa cuman di kasih bantal satu.” Panji tertawa mengingat penderitaannya selama Hera hamil. “Emang jadi suami itu serba salah di mata ibu hamil.”
Calvin belum pernah sampai separah itu. Setiap malam, dirinya masih tidur di ranjang yang sama dengan Aruna, bahkan Calvin wajib memeluk perempuan itu sambil mengusap perutnya. Tangan Calvin tidak boleh menjauh dari perut Aruna. Justru, kalau Calvin tidur terpisah yang akan bikin Aruna mengamuk.
“Serumit itu, ya, Pa, menghadapi ibu hamil?”
Panji mengangguk. “Emang rumit. Jadi, jangan berani hamilin aja, proses menjalani kehamilannya berat, bahkan kalau udah lahir lebih berat lagi.”
Panji menggerakkan tangannya ke arah Calvin, meminta sebatang rokok dari menantunya itu. Calvin yang mengerti langsung membuka bungkus rokok, menyodorkannya kepada Panji. Calvin juga membantu menyulut api di ujung rokok yang sudah Panji apit di bibirnya.
Panji menghirup rokok sejenak, kemudian mengembuskan asapnya di udara. “Perbanyak sabar aja sama Aruna. Dia biasanya enggak semanja itu. Aruna terlihat tangguh di depan kami, tapi Papa tahu kalau Aruna tetap seorang anak dan dia tetap perempuan yang berhati lembut. Selama ini, Aruna menjadi tangguh karena didikan kami yang salah.”
Calvin merenung sejenak. Calvin yang perlahan membuat Aruna menumpahkan kesedihannya tanpa perlu menahannya lagi. Calvin senang dengan pencapaiannya itu, tapi ada satu hal yang belum berhasil Calvin capai. Hati Aruna. Satu hal itu yang sampai sekarang belum Calvin dapatkan. Aruna masih belum menjawab bagaimana perasaannya terhadapnya. Ibaratnya, Calvin masih di gantung oleh istri yang sudah dia hamili.
“Aku bakal tetap sabar, Pa. Aruna jadi begitu juga karena aku.”
Panji terkekeh, menepuk bahu Calvin pelan. “Itu tahu. Kamu yang hamilin, jadi terima risikonya. Aruna begitu juga karena anak kalian. Dua nyawa yang berkembang di perutnya.”