BAB 27

6.4K 221 2
                                        

Menjaga perasaan itu susah-susah mudah

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Menjaga perasaan itu susah-susah mudah. Terkadang, kita sudah menyaring segala ucapan yang kita lontarkan, dan memperhalus kata-katanya sebelum di putuskan untuk di ucapkan, tapi masih saja ada perkataan yang membuat orang tersinggung. Sehalus apa pun bahasa yang kita gunakan, jika nadanya terdengar tinggi, maka orang yang mendengarnya tetap merasa sakit hati. Bahkan, sudah halus dan lembut tutur katanya, masih saja tersinggung karena memang suasana hatinya tengah buruk. Jadi, sebelum berbicara, lihat terlebih dahulu kondisi lawan bicara. Apakah harinya tengah buruk? Apakah dia sedang bahagia?

Semenjak tahu perihal kehamilan Aruna, entah berapa kali Calvin menyinggung perasaan perempuan itu. Tanpa di sengaja, Calvin membuat Aruna menangis. Hanya decakan saja membuat Aruna merasa dirinya menyebalkan di mata Calvin. Aruna mudah tersinggung hanya kepada Calvin, kepada yang lain, perempuan itu masih bisa bercanda, bahkan tertawa. Tapi, dengan Calvin, Aruna lebih banyak marah, menangis, dan Calvin di buat frustrasi sendiri.

Calvin menghela napas lelah, pelipisnya di pijat, kepalanya terasa pusing. Laki-laki itu terduduk di sofa ruang tamu, masih dengan kemeja yang lengannya dia gulung sampai sikut. Jasnya di taruh secara asal di atas meja, di sana juga ada tas kerjanya. Calvin baru pulang dari kantor. Bokongnya baru dia dudukkan di sofa beberapa menit yang lalu, sepertinya belum sampai 10 menit.

Ketika dirinya membuka pintu, dan berharap Aruna akan menyambutnya dengan senyuman. Harapan itu pupus saat melihat wajah marah Aruna, perempuan itu menatapnya sinis, dan mendengus kasar, kemudian membuang muka, tidak mau menatap Calvin.

Tentu Calvin bingung dengan kesalahan apa lagi yang telah dia perbuat. Seingatnya, dia berangkat tadi pagi dalam keadaan Aruna masih baik-baik saja, dia mencium kening dan bibir istrinya itu seperti biasa. Bahkan, Calvin menyiapkan susu serta kue kering yang asin dan gurih untuk sarapan Aruna. Perempuan itu memang lebih suka mengonsumsi makanan yang asin, dan Aruna mual ketika tidak memakan makanan itu pagi hari.

Semuanya sudah Calvin kerjakan, sebelum berangkat, dia juga mencium perut sang istri, menyapa anak mereka yang berada di dalam kandungan. Tidak ada rutinitas yang Calvin lewatkan. Iya, Calvin memiliki rutinitas baru semenjak Aruna hamil. Dia wajib menyapa anaknya ketika bangun dan sebelum tidur, mengusap perut Aruna, serta mencium perut perempuan itu. Jangan sampai terlewat, jika terlewat, Aruna akan menangis kemudian menuduh Calvin tidak menyayangi anak mereka.

Dari arah dapur, terdengar bunyi berdentang seperti wajan jatuh. Calvin menarik matanya untuk menatap dapur. Calvin membawa tubuhnya untuk bangkit dari sofa, melangkah menyusul Aruna yang sedari dia pulang menyibukkan dirinya di dapur. Entah apa yang Aruna perbuat, Calvin tidak tahu. Perempuan itu melarang Calvin untuk melihat kegiatannya di dapur.

“Astaga, Run!” pekik Calvin saat melihat wajan yang berserakan di lantai dan Aruna yang tengah memegangi jari telunjuknya. Di atas meja dapur ada talenan dengan wortel yang sudah di potong sebagian, dan tergeletak pisau di sana.

Dengan cepat Calvin melangkahkan kakinya mendekati Aruna. “Tangan kamu luka, Run.” Calvin menarik jari Aruna yang terluka, hendak membawanya ke arah mulutnya, tapi Aruna menarik tangannya terlebih dahulu.

Titik Tunggu (Sudah Revisi)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang