Jeongwoo menangis di dalam pelukan Yoshi. Haruto membawa anak itu ke rumahnya karena dia tidak tau di mana rumah Jeongwoo. Sesampainya di rumah Haruto, Jeongwoo langsung menangis dan ini sudah satu jam berlalu, tapi anak itu belum menunjukkan tanda-tanda ingin berhenti dari kegiatannya.
Haruto frustasi. Kenapa jadi dia yang repot di sini. Yoshi sibuk menenangkan Jeongwoo. Junghwan duduk di dekat Jeongwoo dan ikut menenangkannya. Sedangkan Haruto mondar mandir sendiri. Yang disuruh ambil tisu, ambil minum, telfon papinya Jeongwoo, telfon maminya Jeongwoo, telfon Junkyu, dan terakhir—
"—Haru, coba telfon susnya Jeongwoo aja. Pasti diangkat."
Haruto menghela nafas, sabar. Jadi sedari semua orang yang ditelfon tidak ada yang mengangkat. Dan Haruto pastikan ini yang terakhir. Kalau sampai tidak diangkat juga, hp Jeongwoo akan Haruto banting. Tidak peduli jika pemiliknya marah. Suruh siapa nyusahin orang lain.
"Halo den."
"Diangkat!"
Haruto langsung menyodorkan hp Jeongwoo kepada Yoshi, tapi yang nerima justru si pemilik hp itu sendiri.
"Sus, jemput Jongu di rumah Kak Yoshi ya. Jongu pusing."
"Iya den, sus suruh sopir jemput aden sekarang."
"Sus ikut juga. Mau peluk sus."
"Iya sus ikut kok. Aden tunggu sebentar ya."
"Hmmm."
Tut
Sambungan telfon terputus. Jeongwoo kembali memeluk Yoshi, tapi tangisnya sudah berhenti.
"Nyusahin aja jadi orang."
Suara Haruto hampir membuat Jeongwoo kembali ingin menangis, tapi dia tahan.
"Makasih."
Masih dengan kepala menunduk, Jeongwoo dengan tulus mengucapkan terima kasih pada adik-adiknya Yoshi karena sudah membawanya pergi dari tempat yang menyiksanya tadi.
○○○
Sepeninggalannya Jeongwoo dari rumah mereka, keadaan menjadi hening. Ketiga saudara itu duduk termenung di ruang tamu, entah apa yang mereka pikirkan. Haruto melirik Yoshi yang ternyata sedang menatapnya.
"Tadi waktu mau pulang, gak sengaja liat dia."
Haruto menjelaskan tanpa disuruh. Sebenarnya karena tatapan Yoshi lah yang membuat Haruto berbicara. Tatapan kakaknya itu terlihat sekali penasaran dengan apa yang terjadi pada Jeongwoo.
"Maaf, Haru gak bisa jagain adek dengan baik. Tadi dipaksa sama temen buat ikut ke club berkedok kafe."
Haruto menunduk, tidak berani menatap sang kakak karena dia merasa bersalah sudah lalai menjaga sang adik. Junghwan pun ikut menunduk, posisi duduknya dia rapatkan pada tubuh kakaknya. Sedangkan Yoshi terkejut, untuk apa anak SMA ke club yang notabene tempat orang dewasa.
"Haru gak sengaja liat Jeongwoo dipaksa minum dan digoda sama dua perempuan seksi."
Kepala Yoshi pening. Siapa yang berani melakukan itu pada Jeongwoo. Anak sepolos itu dipaksa menjalani kegiatan orang dewasa. Ah, Yoshi jadi ingin ke rumah Jeongwoo dan memeluk anak itu seharian. Kenapa adiknya baru cerita sekarang setelah Jeongwoo pulang.
"Makasih."
Elusan di kepalanya membuat Haruto mendongak. Dilihatnya sang kakak yang tengah tersenyum tulus padanya. Sepenting itu kah Jeongwoo bagi sang kakak. Apakah dirinya kalah dengan orang asing itu. Apakah jika Haruto bertanya pada sang kakak antara dia dengan Jeongwoo, kakaknya itu akan memilihnya. Kenapa Haruto tiba-tiba ragu, dan keresahan itu mulai muncul dalam dirinya. Bagaimana jika dirinya benar-benar kalah dari orang asing itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Attention
FanfictionDekatilah mereka yang dengan tulus membalas perbuatan baikmu
