Junghwan kira dia yang bakal sakit setelah tidur di lantai yang dingin. Ternyata dia hanya panas semalaman dan paginya sudah sembuh. Yang sakit sekarang malah kakak sulungnya. Junghwan jadi merasa bersalah karena lagi-lagi dia membuat kakaknya sakit. Setelah kemarin membuat asam lambung Haruto naik, sekarang Junghwan membuat Yoshi demam tinggi hingga dirawat di rumah sakit. Yoshi demam karena harus mengurus rumah, tugas kuliah, dan mengurus Junghwan yang sakit malam itu hingga Yoshi telat makan dan juga kecapean.
Sebenarnya ada bunda juga di rumah, tapi bunda terlihat capek setelah perjalanan jauh menemani papa dinas. Jadi tugas rumah Yoshi yang ambil alih, Haruto ditugaskan menemani Junghwan di saat Yoshi bebersih rumah. Junghwan benar-benar tidak berguna jadi adik. Junghwan hanya bisa menyusahkan kedua kakaknya terus.
Hari ini Junghwan berangkat sekolah diantar Haruto. Iya, Haruto hanya mengantar karena Haruto harus ke rumah sakit menunggu Yoshi. Papa dan bunda mereka sudah berangkat lagi. Libur papa kan hanya weekend, itu pun dua minggu sekali mereka bisa pulang. Bunda selalu ikut papa karena bunda itu asisten pribadi papa, sejak mereka belum menikah dulu. Bunda sempat berhenti bekerja karena disuruh papa fokus ngurus rumah dan anak-anak, tapi ternyata malah papa yang jadi tidak terurus. Jadilah bunda kembali kerja bareng papa.
Junghwan berjalan dari gerbang menuju kelasnya dengan terus menunduk. Ini kebiasaannya saat berangkat bersama Haruto. Haruto yang menyuruhnya untuk tidak membalas sapaan setiap orang yang berpapasan dengan mereka. Haruto tidak suka Junghwan berinteraksi dengan orang lain, Junghwan itu miliknya.
"Junghwan, sendirian aja. Haruto mana?"
Junghwan mendongak. Ada teman-teman kakaknya berdiri di depan Junghwan. Junghwan ingin kabur, tadi kakaknya berpesan untuk menjauhi teman-teman kakaknya ini selama di sekolah. Junghwan setuju, karena teman-teman kakaknya ini membawa pengaruh buruk.
"Heh ditanya kok malah mau kabur. Kabur ke mana, hah?"
Jaehyuk menarik tas Junghwan sehingga Junghwan tidak bisa kabur. Gawat, dia dalam bahaya. Dia takut teman-teman kakaknya ini akan mencelakainya atau dia takut kakaknya akan marah karena Junghwan dekat dengan mereka.
"A-aku nggak kabur. Aku mau ke kelas, kak."
"Kelas? Siapa yang kasih izin kamu ke kelas? Urusan kita belum selesai."
Jaehyuk menarik tas Junghwan hingga anak itu terjatuh di tanah. Ada tiga orang yang mengelilingi Junghwan, menertawakan Junghwan yang terlihat ketakutan.
"Nggak ada Haruto itu artinya kita bebas buat ngajak kamu main, So Junghwan."
Junghwan menggeleng sambil terus bergumam, "Nggak mau." Namun Jaehyuk dan dua temannya tidak peduli dengan penolakan Junghwan. Jaehyuk sekarang malah menyeret Junghwan menuju kantin yang lumayan rame pagi ini.
"Tau kan apa yang harus kamu lakukan?"
Junghwan menggeleng. Itu bukan berarti Junghwan tidak tau, tapi dia tidak mau. Junghwan jelas tau apa yang dimaksud Jaehyuk. Karena kakaknya sering menyuruhnya melakukan hal ini juga.
"Nggak tau? Perlu aku kasih tau?"
Junghwan langsung berlari ke arah kantin saat melihat tangan Jaehyuk sudah terangkat dan siap terjun ke wajah Junghwan. Di sana, Junghwan mengambil paksa makanan salah satu siswa, dengan sebuah pukulan ringan, Junghwan memberi pelajaran pada siswa itu karena melawannya. Junghwan berlari membawa makanan hasil rampasan itu dan memberikannya pada Jaehyuk.
"Adek pinter."
Jaehyuk mengusap pucuk kepala Junghwan, tapi jujur Junghwan tidak merasa tersanjung, dia justru semakin merasa ketakutan. Karena tau jika mereka belum selesai bermain-main dengannya. Apalagi tidak ada sang kakak di sini, jadi tidak ada yang membelanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Attention
FanfictionDekatilah mereka yang dengan tulus membalas perbuatan baikmu
