17

200 12 2
                                        

Jeongwoo berdiri di samping mobilnya, menunggu Junghwan keluar dari sekolahnya. Dia melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya, jika jam pulangnya sama, seharusnya sebentar lagi Junghwan keluar. Mata Jeongwoo mengamati setiap siswa yang keluar dari sekolah Junghwan. Hingga matanya menangkap keberadaan Junghwan—emm sedikit mengenaskan.

Jeongwoo langsung berlari menghampiri Junghwan. Sepertinya anak itu kembali mendapat perundungan. Seseorang terus menerus mendorong kepala Junghwan hingga anak itu hampir terjatuh dalam langkahnya. Pakaian Junghwan juga tidak bisa dikatakan layak, kotor dengan warna hitam memenuhi seragam putihnya.

"Junghwan, ayo pulang."

Semua orang terkejut dengan kehadiran Jeongwoo, termasuk Junghwan sendiri. Pikir mereka kenapa anak sekolah sebelah sampai ke sekolah mereka. Dan apa hubungannya dengan Junghwan. Karena setau mereka, Haruto tidak membiarkan Junghwan memiliki teman.

"Jeongwoo?"

Oh kali ini ada Doyoung, dan sepertinya hanya dia yang mengenal Jeongwoo. Jeongwoo yang sudah siap membawa Junghwan kabur pun menjadi urung. Dia menatap Doyoung, sedikit terkejut, tidak menyangka jika sahabatnya itu adalah seorang pembuli di sekolah.

"Mau bawa Junghwan ke mana? Hari ini jadwal Junghwan belajar denganku."

Doyoung menarik tangan Junghwan yang digenggam Jeongwoo. Namun genggaman Jeongwoo semakin erat, dia tidak mau melepaskan Junghwan. Karena pesan dari Yoshi adalah membawa Junghwan ke rumah sakit bersamanya.

"Maaf, Junghwan ada urusan mendadak. Belajarnya ditunda dulu."

"Jeongwoo!"

Jeongwoo dan Doyoung saling beradu tatapan tajam. Ini pertama kalinya mereka berdua terlibat perseteruan. Jeongwoo agak kaget karena Doyoung berani membentaknya. Padahal selama ini, Doyoung adalah sahabat yang sangat lembut terhadapnya. Memang ya, pertemanan itu sangat berpengaruh terhadap perubahan sikap seseorang.

"Kak Yoshi sakit, jadi aku yang hari ini jemput Junghwan."

Jeongwoo menarik tubuh Junghwan agak menjauh dari para pembuli itu.

"Dan juga, setelah lama gak ketemu, sepertinya kamu banyak berubah ya, Bby."

Jeongwoo membawa Junghwan masuk ke mobilnya. Mobil itu melaju membelah jalanan. Di dalam mobil, suasana hening. Jeongwoo masih kesal dengan sahabatnya yang banyak berubah menjadi nakal. Sedangkan Junghwan diam menunduk, tidak tau mau berkata apa karena sedari pagi dia sudah tidak punya semangat hidup.

"Ke mall dulu, pak."

Jeongwoo tidak mungkin membiarkan Junghwan memakai seragamnya itu ke rumah sakit. Jeongwoo tidak peduli dengan Junghwan, Jeongwoo hanya tidak ingin Yoshi bertanya banyak soal kenapa seragam Junghwan bisa sekotor itu. Jeongwoo tidak ingin Kak Yoshinya kembali sakit.

"Makasih."

"Impas."

Setelah membeli baju untuk Junghwan, mereka langsung menuju rumah sakit tempat Yoshi di rawat. Keduanya berjalan beriringan dalam keheningan. Tidak ada yang membuka suara sampai keduanya tiba di kamar inap Yoshi.

Tangan Jeongwoo berhenti di gagang pintu. Matanya mengintip dari kaca yang terdapat pada pintu itu. Junghwan juga melakukan hal yang sama. Di dalam sana, ada Yoshi yang mengelus rambut Haruto. Haruto tengah tertidur, duduk di kursi dengan kepalanya bersandar pada ranjang Yoshi. Pemandangan yang membuat keduanya iri.

Namun, mau tidak mau, keduanya tetap harus masuk. Tujuan Jeongwoo ke sini kan ingin menjenguk Yoshi. Bunyi pintu terbuka berhasil membangunkan Haruto.

"Oh, maaf Haruto. Aku memang sengaja membangunkanmu."

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jan 08, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

AttentionTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang