15. Sampai di Desa

985 122 6
                                        

Normal POV

Setelah tiga minggu melakukan perjalanan, akhirnya mereka telah sampai di desa tujuan. Pangeran Sasuke segera menuju lokasi pusat gempa bersama prajurit lainnya, sedangkan Sakura dengan rombongan yang tersisa beristirahat sembari membuat tempat peristirahatan mereka.

"Alma, aku ingin berkeliling desa." Ucap Sakura sembari berdiri dari kursinya, mereka berada di dalam  sebuah kamar yang untungnya di desa tersebut ada rumah layak huni yang tentu saja menjadi tempat beristirahat Pangeran Sasuke dan istrinya.

Alma beranjak dari tempat duduknya, segera mengikuti langkah Sakura keluar dari rumah tersebut, Okuza yang berjaga di luar rumah segera memberi hormat ketika melihat Sakura.

"Aku hanya berkeliling desa, Okuza, kamu boleh berjaga di sini atau kalau kamu ingin ikut, aku izinkan, asal jangan terlalu mencolok." Ucap Sakura pada Okuza yang menunduk.

"Baik, saya akan berganti pakaian sebentar, Nyonya. Mohon tunggu sebentar, Nyonya." Sahut Okuza segera berlari ke tempat peristirahatannya, Okuza mengganti pakaian yang begitu santai juga menyembunyikan pedangnya dan menggantikan pedang tersebut dengan sebilah pisau yang tajam.

Sakura merasa salut atas kecepatan Okuza, tidak begitu lama Okuza telah kembali dengan penampilan seperti rakyat biasa. Sakura mengambil langkah lebih dulu, Alma berjalan di sampingnya, sedangkan Okuza berjalan di belakang mereka untuk berjaga-jaga. Mereka berjalan sembari memperhatikan suasana desa, warga desa yang merasa asing terang-terangan memperhatikan ke arah mereka, Sakura menyapa mereka dengan sopan, sesekali juga memperkenalkan diri dengan nama samaran pada beberapa warga.

"Untukmu. Kakak tahu, kakak sangat cantik." Seorang anak lelaki tiba-tiba menghadang jalan Sakura sembari menunjukkan telapak tangan yang terbuka, di atas telapak tangan itu ada sebuah gelang yang tercipta dari bunga-bunga kecil yang indah.

Perhatian Sakura jatuh pada gelang bunga tersebut, sebelum ia berlutut menyamakan tinggi dengan anak tersebut. Sakura mengambil gelang itu sembari tersenyum lembut.

"Kamu membuatnya sendiri? Siapa namamu?" tanya Sakura memperhatikan lebih jelas anak yang memberinya hadiah.

Sementara Alma dan Okuza juga turut memperhatikan yang dilakukan anak tersebut.

"Woahh ..., kakak sangat cantik dilihat dekat begini." Sahutnya merasa takjub.

Tawa ringan dari Sakura kemudian terdengar, tangan Sakura bergerak mengusap kepala anak tersebut dengan lembut.

"Kamu menjual ini?" tanya Sakura kemudian sembari menunjukkan gelang bunga di tangannya.

Anak tersebut menggeleng pelan, pipinya tampak merona dan berbicara dengan malu-malu. "Tidak, kakak. Aku hanya suka membuatnya, kakak baru datang ke tempat ini? Aku baru melihat kakak sekarang."

"Kamu punya bakat, di masa depan mungkin bisa menjadi pembuat perhiasan yang hebat. Ya, kakak baru datang ke sini. Siapa namamu, sayang?"

"Aku Nori, kakak. Umurku delapan tahun, apa kakak akan menetap di sini?"

"Tidak, sayang, kakak hanya singgah sebentar. Di mana rumahmu? Apa kamu bermain sendirian?"

Nori menoleh, tangannya terangkat menunjuk salah satu rumah yang tidak jauh dari mereka. "Itu rumahku. Temanku ada yang sudah meninggal, dan ada juga yang masih berada di balai pengobatan desa. Kakak tahu, sebulan lalu terjadi gempa bumi di desa ini, hingga banyak yang terluka. Untungnya, aku selamat karena kakakku yang hebat, apa kakak mau menikah dengan kakakku?"

Sakura terperangah mendengar kalimat terakhir, ia lantas mengulum senyum. "Kakak sudah menikah, Nori. Bahkan kakak kemari dengan suami kakak."

"Apa pria di belakang adalah suami kakak?" todong Nori dengan cepat.

SHACKLESTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang