Ketika kegelapan mulai melingkupi alam dengan hanya diterangi bulan dan bintang di atas langit, rombongan Pangeran Sasuke telah menyiapkan tempat beristirahat. Sakura yang sudah berganti pakaian tidur mencari suaminya yang menurut Alma berada di bilik rapat, terlihat beberapa penjaga tengah bertugas di sekitar tempat istirahat ini termasuk dekat bilik rapat. Sakura memasuki bilik itu, melihat Pangeran, Jugo, dengan dua pria lain tengah saling berbicara, seketika semua menoleh ke arahnya.
"Maaf, atas kelancanganku." Ucap Sakura sembari membungkuk kecil.
"Kemarilah." Titah Pangeran Sasuke memberi isyarat agar istrinya mendekatinya.
Sakura sempat berpikir sang suami akan keberatan dengan kehadirannya, ternyata pemikirannya salah. Sakura melangkah mendekat pada Pangeran Sasuke, ketiga pria lain memberinya hormat.
"Apa ada yang bisa aku bantu?" tanya Sakura, berharap bisa berkontribusi dalam misi Pangeran kali ini.
Pangeran berdiri tegak, bergeser untuk lebih dekat dengan sang istri. Pangeran membuka beberapa kotak yang berisi hasil penyelidikan prajuritnya. Sedangkan Sakura memperhatikan meja yang berisi peta yang lebar dan besar itu terbuka, dengan kotak-kotak yang kembali dibuka oleh Pangeran.
"Memang ada yang janggal dari bencana alam ini, Sakura. Kizaki dan Suriko sempat menyelidikinya, di dekat terjadinya tanah longsor, ditemukan sisa peledak, entah apa motifnya, kita perlu mencaritahu pelaku dan motifnya." Jelas Pangeran.
Sakura mengambil sesuatu yang kemungkinan adalah pecahan dari alat peledak, memperhatikan barang itu dengan sesekali melirik Pangeran dan yang lain. "Jika terjadi ledakan, kemungkinan rakyat di sana mendengarnya bukan? Apa mereka melihat pelakunya?"
"Keadaan rakyat di sana tidak baik, banyak yang terluka sementara tabib hanya dua orang. Akses ke sana pun lebih sulit ditempuh karena jalan tertutup." Salah seorang pria yang baru Sakura lihat mengeluarkan suaranya.
"Pangeran, itu artinya kita harus cepat ke sana. Aku akan membantu menangani korban bencana." Sakura tatap Pangeran Sasuke dengan sungguh-sungguh.
Pangeran membalas tatapan sang istri. "Sesuai rencana, kita tempuh perjalanan tiga minggu. Kalau kau ingin membantu, kau bisa membuat obat-obat yang dibutuhkan, Kizaki dan Suriko akan kembali ke sana dan memberi obat itu kepada tabib yang bertugas."
"Baiklah! Aku akan mencarinya sekarang!"
Pangeran dengan cepat meraih lengan Sakura ketika terburu-buru pergi. "Ke mana?"
Sakura menatap Pangeran. "Aku akan mencari tanaman obat, Pangeran!"
"Sudah malam." Peringatan Pangeran memberi isyarat tak menyukai ide Sakura.
"Semakin cepat lebih baik, Pangeran. Mereka membutuhkan itu, kita tidak tahu separah apa keadaan di sana, jika ditunda nyawa mereka dapat melayang!" protes Sakura atas larangan Pangeran Sasuke.
"Aku mengerti kau peduli, tapi mencari obat di malam hari bukan ide yang bagus. Istirahatlah, perjalanan kita masih panjang." Titah Pangeran dengan tegas.
Sakura mendesah kecewa, namun tak mungkin berdebat dengan Pangeran Sasuke di hadapan ketiga pria lainnya yang memperhatikan mereka.
Pangeran Sasuke beralih melihat pada Jugo. "Jugo, beritahu yang lain kita lakukan penyamaran total." Titahnya selanjutnya.
"Baik, tuan!" ucap Jugo mengerti. Penyamaran total artinya identitas mereka akan tertutup, mereka mungkin datang hanya sebagai pendatang ke tempat tersebut, hal itu memudahkan mereka untuk menyelidiki kejanggalan di sana.
Sakura yang mendengarnya segera bertanya, "Penyamaran?"
Pangeran membalas menatap, "Biasakan tidak memanggil aku Pangeran selama penyamaran, Sakura."
KAMU SEDANG MEMBACA
SHACKLES
Fanfiction21++ 《23》 Haruno Sakura, seorang tabib yang dipaksa menerima misi membunuh seorang pangeran di Kerajaan Uchiha. Uchiha Sasuke ialah pangeran yang menjadi sasaran pembunuhan oleh seseorang, sosok yang terkenal dingin dan tak tersentuh semakin memper...
