chapter 18

102 32 5
                                        

Janu panik membaca pesan di ponselnya yang bertuliskan "kau mau mati?"

Setelah berpamitan dengan yang lain,Janu langsung pergi dengan tergesa-gesa. Perasaan tidak enak membuatnya merasa cemas, remaja itu sangat takut sekaligus pasrah apa yang akan dilakukan Adi padanya kali ini.

***

Dirumahnya, Janu berjalan menuju kamar tapi langkahnya terhenti karena Adi lebih dulu memanggil namanya "Janu, sini kamu!!"

Sembari tertunduk takut, Janu menghampiri Adi di meja makan "A-ayah maaf j-Janu baru pulang" ucap Janu dengan nada sedikit bergetar.

"Dari mana kamu?"

"habis jenguk teman Janu yang lagi sakit yah, Janu jagain dia semaleman, maaf" Janu menjelaskan.

Bam!! Janu kaget karena adi tiba tiba memukul meja makan dengan keras." jadi kamu lebih mementingkan kawan mu itu dari pada ayahmu sendiri hah!! ... Mau jadi anak durhaka kamu?" Adi meninggikan suaranya.

Dengan tubuh yang sedikit gemetar Janu bilang "gak yah" hanya itu yang bisa Janu katakan. Dia bingung, Adi dan Alden sama sama penting baginya.

Bahkan dia rela melakukan apa pun untuk sahabat sahabatnya dan juga ayahnya walaupun sikapnya sangat kasar pada Janu.

"Kau ini harus di beri pelajaran!!"

Plak!!

Lagi lagi Adi memukul kepala Janu sangat keras, membuat anak tidak bersalah itu terkapar tak berdaya di lantai

Tak cukup dengan itu,Adi menarik lengan Janu untuk berdiri "heh!! Masak .... Sana kamu masak aku lapar, CEPAT!!!" bentaknya sambil mendorong kuat tubuh anak semata wayangnya itu ke dapur.

"Masak yang enak,awas kalau gak enak" ancamnya.

Susah payah anak itu kembali berdiri, segera membuatkan makanan untuk Adi dengan bahan seadanya.

Ditengah memasak cairan bening mengucur deras membasahi pipi mulusnya, tak lama setelah itu terdengar isakan tangis yang sangat menyedihkan, membuat siapapun yang mendengarnya juga ikut merasa sakit. "kapan ayah akan berubah? ... Janu pengen banget di peluk,di sayang sama ayah... Hiks hiks hiks"

***

Cahaya matahari mulai terbenam, digantikan oleh cahaya bulan yang menerangi seluruh jalanan kota. Di gang yang lumayan sepi tanpak seorang remaja laki laki yang sedang santainya berjalan.

Didepannya terlihat tiga orang pria yang berjalan sempoyongan, sepertinya mereka habis minum di sebuah bar, tepatnya ada di ujung gang. Tiba tiba....

Brak!...

Anak itu jatuh tersenggol oleh ketiga pria itu. "Shh ... AW" ringisnya

"Eh dek, lain kali jalan tuh hati-hatilah" ucap salah satu pria.

"Kok gw, kalian tuh yang harus hati-hati ... Dasar pemabuk" umpatnya tak mau kalah

Tak senang dengan umpatannya, ketiga pria itu langsung mencengkram erat sweeter remaja itu. "Eh, bocah ingusan. Gedek juga nyali lu ... Lu gak tau siapa kita? HAH!!?"

Bocah ingusan? ... Siapa anak itu?...

"Lo pikir gue peduli?"

Terlewat kesal, satu pukulan keras melayang tepat di ujung bibirnya, tapi itu tak cukup menghentikan umpatan sadis anak itu. Saat satu pukulan melayang lagi, tangan seseorang muncul dari belakang anak itu, menghentikan aksi kekerasan mereka.

Melihat itu sontak anak itu menoleh ke belakangnya. "Dipta?" Hanya itu yang ia katakan.

"Hah!! Datang lagi bocah ingusan ... Mau sok jadi pahlawan lu!!?" Kata pria ketiga.

Naradipta tak langsung merespon, ia hanya terus melempar tatapan tajam kearah tiga pria itu sembari membuang tinju orang itu dari telapak tangannya. "Tan, ayok pergi dari sini"

"Gak mau, gw mau balas tonjokan ni orang tua"

"RATAN!!"

Ternyata anak yang keras kepala itu adalah Ratan, kalau ada yang mengganggu moodnya akan langsung berubah drastis. Akibatnya ia akan bersikap kurang ajar bahkan ke yg lebih tua.

"I-iya iya ... Jangan bentak gue lah" cuma Dipta yang bisa buat Ratan nurut dan luluh kalau dia lagi marah besar.

Akhirnya Ratan dengan berat hati berjalan menjauh dari para berandal itu yang juga Dipta mengikuti dibelakangnya. Tapi, saat ikut melangkah....

"Ets, mau kemana lu HAH!!?" Pria berandal itu menarik kera baju Dipta.

Ingin cepat pergi dari sana, tanpa pikir panjang Dipta menendang alat kelamin pria itu yang langsung membungkukkan sembari meringis kesakitan.

Tanpa basa-basi,ia langsung berlari. tak lupa ia menggenggam tangan Ratan untuk ikut bersamanya. Kedua pria lainnya mengejar mereka, lari mereka lumayan cepat.

Dipta tak mau kalah, ia mempercepat langkahnya.

***

Setelah Berjam jam membersihkan seisi rumah,Janu kembali ke dapur berniat memasak makanan untuk makan malam mereka.

Namun, Janu teringat kalau bahan makanan didapur sudah habis,sisa uang tabungannya juga tinggal sedikit tidak akan cukup untuk membeli makanan.

Ia khawatir dengan sisa uangnya yang hanya tinggal 5.000 itu, bagaimana mereka bisa bertahan hidup dengan uang segitu?

Janu ingin meminta uang kepada ayahnya tapi dia takut Adi akan marah lagi. Tapi tidak ada pilihan lain Janu mulai mengumpulkan keberanian untuk meminta uang.

"Emm ... yah, bahan makanan di dapur udah habis, Janu boleh gak pinjam uang ayah untuk beli makanan kita?"

Seketika raut wajah Adi berubah drastis setelah mendengar itu "HAH!!? Apa kamu bilang, minta uang? Gak, aku gak ada uang, pake uang kamu aja sana"

"Janu gak ada uang lagi pak, tabungan Janu juga udah habis buat seratus harinya ibuk, selama ini Janu kan selalu pake uang Janu untuk keperluan rumah, ayah gak pernah ngeluarin uang sepeserpun"

Adi langsung berdiri dari duduknya "bagus, udah bisa protes kamu hah!!, udah main hitung hitungan kamu sekarang hah!!?"

"Bukan gitu yah maksud Janu, sekarang Janu gak ada uang, ayah bantu kek biar kita bisa makan malam ini"

Adi menarik baju Janu "dengar anak kurang ajar, aku gak mau ngeluarin uang sepeserpun ngerti!!." ucapnya mendorong tubuh Janu "masalah keuangan kau urus sendiri ... cari kerja kek, apa kek"lanjutnya

"Ya ayahlah yang kerja,kan ayah kepala rumah tangga, nyari uang itu tugas ayah"

"Berani kamu membantah ya, sini kamu" Adi menyeret tubuh Janu keluar rumah. "pergi kamu, cari uang yang banyak sana, mau kamu jadi simpanan kek, mencuri kek, aku gak peduli. Pokoknya kamu harus bawa pulang uang yang banyak. Kalau perlu ngemis sekalian, ngerti!!.." setelah mengatakan itu Adi langsung masuk ke dalam rumah dan mengunci pintu rapat-rapat.

"Kalau kamu belum dapat kerjaan jangan harap bisa pulang ke rumah ini" ancam Adi dari dalam rumah.

Hati Janu terasa sakit,Adi tega mengatakan itu padanya.

Tak ada pilihan lain Janu terpaksa mencari pekerjaan paruh waktu. Tapi masalahnya dimana? Hari juga udah malam.

Walaupun dia sangat sibuk dengan urusan sekolah dan pekerjaan rumah, sekarang Janu tetap harus kuat menjalani hidup di dunia yang pahit dan tidak adil ini.

Dari kejauhan terlihat seseorang remaja berpakaian serba hitam sedang memperhatikannya

Tbc



Maaf ya author jarang upload cerita
Belakang ini lagi sibuk banget
🙏🙏🙏

Kalau kalian kesel sama sifat Adi,
Keluarin aja kata mutiara kalian gak usah di tahan!!

Tunggu chapter selanjutnya yaa
Nanti bakal ada adegan romantis antara
Naradipta dan Ratan 😊😊

Jangan lupa vote dan komen ya!!
Kasih pendapat kalian tentang ceritanya ya, agar ceritanya lebih bagus lagi.

Wings of dreams Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang