Di bawah cahaya lampu yang redup, tampak dua orang remaja berlari cepat menelusuri gang kecil. Nafasnya memburu, keringat bercucuran membasahi dahi juga leher keduanya, sweater yang dikenakan lembab jadi sedikit berat. Bayang bayang ditembok tampak menari.
Dibelakang, tiga pria dewasa masih mengejar, larinya tak kalah cepat sama keduanya.
"Gilak!! ... Om botak kuat banget dah, mabuk tapi bisa lari, stabil lagi" Ratan beralih liat Dipta lagi. "Habislah kita dip"
Naradipta tak merespon, ia terus aja berlari sembari mengatur napas, matanya natap tajam kedepan, berpikir tempat yang cocok untuk bersembunyi. Sedetik kemudian keduanya masuk ke pintu kecil samping bak sampah. Jalan rahasia yang cuma naradipta yang tau. Sedangkan Ratan cuma bisa diam, pasrah mau dibawa kemana.
Diujung gang, siluet kontainer terpampang jelas, rupanya keduanya lari ke pelabuhan tak jauh dari sana. Naradipta lompat meraih tepi kontainer berwarna biru dengan sangat lincah. "Naik sini!!" Serunya.
Ratan gemeter, tapi tak mau kalah, canggung tapi gigih ia memanjat juga, menjepit lututnya di tepi besi dingin.
Keduanya menarik nafas rakus, nyoba ngatur napas, disela sela itu, tiga pria dewasa tadi ikut mesuk ke pelabuhan, Dipta sigap membekap mulut Ratan pakai telapak tangannya, tubuh kekarnya menindih sahabatnya itu, Ratan tertegun, matanya membelalak, mata keduanya kini bertemu, jarak mereka dekat banget. Dipta mengangkat jari telunjuk, mengisyaratkan Ratan untuk tetap diam.
Tan!! ... Gimana rasanya ditindih pria tampan? Hehehe
Cukup lama keduanya dalam posisi itu, Ratan heran, padahal mereka berdua cuma sahabat dari kecil, tapi kenapa dadanya ... Deg degan?
Suasana seketika canggung.
Ratan bisa merasakan nafas Dipta hangat menerpa pipinya, "mhh, lu ber-rat goblok" protesnya.
"Sssstt!!"
"Mereka disana!!" Seru salah satu preman, menunjuk ke sebuah kontainer berwarna biru yang terdapat naradipta juga Ratan diatas.
Ratan membelalakkan matanya panik, Dipta gercep narik sahabatnya bangkit, lari ke kontainer yang lain. Ketiga pria dewasa itu ikut naik buat ngejar keduanya. Suara besi menggema disela sela larian mereka.
Di ujung, kontainer tersusun dua arah sebagai jalur keduanya. Mereka berpencar, begitu juga dengan ketiga preman tadi. Dua temannya lari mengejar Ratan, sementara om botak ingin balas dendam pada Dipta.
Dipta POV...
"Berhenti bocah ingusan ... Sini ku pecahkan penis mu!!"
Dipta tak peduli umpatan itu, ia terus berlari dengan satu tangannya memegang sampai perutnya yang mulai terasa sakit. "Ahh ... Jangan sekarang napa" ketusnya.
Tak kuat lagi, mau tak mau ia harus lawan pria itu, lagian dia cuma sendiri kan...
Ia melepas sweater cepat, lalu mengikat erat perutnya untuk menahan rasa sakitnya. Tubuh kekarnya terpampang jelas dibawah cahaya bulan, kedua orang itu saling melontarkan tinjunya, malam yang dingin kini berubah jadi memanas
Bam!...
"Awhh...!" Satu tendangan keras berhasil mendarat di pipinya, tak sampai disana Dipta lagi-lagi mendaratkan kakinya dengan gerakan memutar.
Tubuh besar itu terhuyung kebelakang mengakibatkan suara dentuman keras. Dipta berjalan pelan kearah pria itu, ia menatap wajah penuh lebam karena dirinya sendiri.
***
Disisi lain, suasana terasa jauh lebih tenang.
Dari kejauhan, tampak seorang gadis cantik dengan hoodie warna peach yang menutupi sebagian rambut panjangnya yang dikuncir kuda. Langkahnya santai, tapi sorot matanya sedikit kosong, kayak lagi nyari arah.
KAMU SEDANG MEMBACA
Wings of dreams
Dla nastolatkówJanu Pradipta, seorang remaja laki-laki yang hidupnya sih ribet, tapi asal masih bisa ngelawak bareng sahabat sahabatnya, ya ... It's oke, hidupnya tetap jalan. Tapi akhir-akhir ini dia mulai ngerasa aneh, kayak ... Kenapa jantungnya berisik begitu...
