chapter 17

138 32 2
                                        

Sabtu pagi yang cerah membawa semangat bagi lima remaja yang memutuskan menghabiskan libur mereka bersama satu sahabat mereka yang terbaring lemah di ranjang.

"Pagi, Bang!" sapa mereka serentak, senyum cerah terukir di wajah masing-masing.

Hersa mengangkat wajahnya, membalas dengan senyum hangat. "Pagi juga. Ayo masuk. Mau ketemu Alden, kan? Langsung aja ke kamarnya ya" Kedatangan mereka disambut hangat oleh Hersa, yang sedang menyiram tanaman di halaman depan. Cahaya matahari pagi membuat wajah tampannya semakin bersinar.

Villas, Dipta, Yogi, Ratan, dan Shankara mengangguk. Namun, hanya Villas yang tak bisa menyembunyikan tatapan  berbinar memandangi Hersa.

Shankara, menyadari hal itu, segera merangkul pundak Villas. "Udah puas liatnya? Yuk, kita ke atas, duluan ya Bang!" katanya dengan senyum lebar, langsung menarik Villas naik ke lantai dua. Teman-teman lain mengikuti.

"Assalamualaikum" kelimanya mengucap kompak. "Shan, apaan sih? Gue kan masih mau ngobrol sama Bang Hersa!" protes Villas sambil mencoba melepaskan diri.

Tawa kecil Ratan lontarkan sambil melanjutkan pekerjaannya, tingkah keduanya tak pernah berubah. Namun di atas, Shankara menatap Villas dengan tatapan serius. "Lo gak boleh deket-deket sama Bang Hersa," ucap Shankara tiba-tiba.

"Kenapa?"

"Lu centil" jawab Shankara ketus.

Villas mengerutkan keningnya bingung, apa iya dia seperti itu?. Namun sebelum ia bisa melanjutkan, yogi terkekeh geli, balasan Shankara menggelitiknya.

' Hahaha, maaf Nu, kayaknya gue terlalu semangat semalam ya? '

Tunggu, mereka gak salah dengar kan? Janu gak pulang semalam?

Kelimanya menempelkan telinga masing-masing ke pintu, memastikan pendengaran mereka tak bermasalah. Napas tertahan, berusaha denger lebih jelas. Suara dari dalam kamar bikin mereka semua saling pandang dengan tanda tanya besar di benaknya.

"Semalam semangat? Maksudnya apa, wehh?! Mereka ngapain semalam?" bisik Yogi setengah panik sambil liat satu per satu wajah yang lain. 

"Udah, fokus aja dengerin dulu!" Timpal Shankara.

' Iya-iya, tapi nikmat kan? Mau lagi? '

Mereka semua makin melongo. Ratan bahkan udah nutup mulut pake tangan supaya nggak teriak, sementara Dipta mata sipitnya melotot tak berkedip sama sekali. 

"wow, jiwa fudan gua meronta ronta, ada konflik apa lagi nih?" gumam Yogi, yang langsung digampar pelan sama Shankara. 

' Lubang gue protes, tau nggak?! ' Suara Janu kedengeran makin jelas dari balik pintu. 

Kali ini Villas malah kebingungan sendiri. "Lubang? Lubang apa sih? Mereka lagi ngomongin apa?" tanyanya polos, bikin yang lain cuma bisa mengulum senyum. 

"Udah, lo diem aja, Vil. Jangan bikin tambah ribet!"

' Lo ngapain cium gue, bangsat! ' 

Deg!...

Ratan langsung jatuh terduduk. "WHAT?! JANU DI CIUM?! Hah! Jangan-jangan mereka udah ... " 

Yogi langsung nimbrung, kedua jiwa fudan itu tak mau diam kayak setan dirukiah. "Udah apa, Rat? Eh, jangan bilang mereka udah ... Aduh, ini nggak bener nih! Alden sama Janu ... mereka ... " Pikiran kotornya langsung membayangkan semua kemungkinan yang terjadi.

Shankara yang berjongkok di bawah keduanya dengan cekatan langsung menjewer kuping nganggur itu, "DIEM BANGKE! Mau ketahuan Lo pada, hah?!"

Brak! ...

Wings of dreams Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang