Welcome for my story.
Please your vote and comment
Thanks Everyone and Enjoyy.
Baca pakai hati dan imajinasi kalian yaa..
Let's read👇🏻👇🏻
。*゚+。*゚。*゚+。*゚。*゚+。*゚。*゚+。*゚。*゚+。*゚
"gua disini Nay,"
....
Mendengar suara yang sangat ia kenal berada di belakangnya, reflek Naya berbalik dan ternyata memang benar ada dia disana.
"Yuk guys tunggu apalagi?" ucap Vina
Mereka pun semua mengangguk dan pergi ke kendaraannya masing-masing, lebih tepatnya motor ke-empat anak Firerox dan mobil Naya dan Vina. Tak usah bertanya dimana Naren, entah dia terbang atau menghilang dan teleportasi.
Dengan jarak yang tak begitu jauh, mereka pun sudah sampai di sebrang dengan jarak yang di halangi beberapa rumah saja, namun mereka masih bisa melihat rumah besar Naren itu, pastinya mereka sembunyi di balik tembok yang hanya sebatas bahu Naya yang tingginya 155cm.
"Buset rumah apa istana," celetuk Naya, sebenarnya ia bukan orang yang tidak mampu, namun karena rumah Naya itu tampak lebih minimalis namun mewah, sedangkan rumah Naren seperti rumah yang menurut Naya seperti ada di film-film.
"Keknya gue ganti tujuan deh, mau nyolong aja di rumah itu atau bahkan jadi sugar baby-nya papah Naren," ucap Vina yang sebenarnya itu hanyalah candaannya, dia sudah kaya tapi merasa miskin ya.
"Mulutnya na," suara lembut itu datang dari vero yang ternyata ada di belakangnya.
Semua yang ada disitu nampaknya hanya terdiam, masih bingung dan terkejut mengapa es batu berjalan ini bisa berbicara.
"Speechless gua, ternyata lu ada suara juga ya ver," ucap dewa
"Tapi bener sih Vin kata lu, nanti hasilnya bagi dua aja," ini bagian Refal yang berdialog, sebenarnya ini hanya candaan, tapi dia malah mendapat tatapan dingin dari Vero, sungguh menakutkan.
"Lu aja deh males gue, lebih baik tidur," ketus Vina, ia masih badmood karena di ledek 'terompet taun baru' oleh dewa dan Refal.
"Syutt, udah mending sekarang kita susun rencana deh," ucap Naya diangguki oleh semuanya.
Mereka pun menyusun rencana yang cukup matang, Naya dan Vina pun pergi ke rumahnya Naren tepatnya Papah Naren berada. Ia memencet bel yang ada di gerbang depan dengan perasaan yang lumayan memicu adrenalin. Naren mengikuti Naya dan Vina karena ia tak terlihat, namun kini ekspresinya saja sudah cukup dingin dan menyimpan segala amarah.
Gerbang pun dibuka oleh satpam yang berjaga disana, dan saat masuk pun terlihat ada Papah Naren yang sedang meminum kopi sambil membaca koran disana, layaknya tak terjadi apa-apa. Naya melihat Naren yang mengepal tangannya hingga urat tangannya terlihat begitu jelas. Bahkan matanya kini sudah memerah.
Naya pun memegang tangan Naren berniat untuk menenangkannya, Naren tersadar akan hal itu, entah mengapa kala tangan Naya menyentuhnya membuat ia merasa tenang.
"Permisi om," ucap Naya dengan sopannya, ia kini berada di depan teras rumah papahnya Naren.
"Ya? Kamu siapa?" Papah Naren menghentikan kegiatannya, menatap kedua orang yang ia tak kenal.
"Maaf menganggu Om, sebelumnya izinkan kita berbicara dulu ya om, hanya untuk bertanya saja," setelah bicara penuh sopan santun itu ia pun menarik nafasnya untuk menghilangkan rasa gugupnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Nayaren
Roman pour Adolescents"Tunggu gua jadi manusia nyata Nay, biar lo ga ngehalu lagi," Ucap Naren "Tunggu gue mati Ren, siapa tau kita bisa bersama,"Sendu Naya Nayanika Zaqueena Pelita, dia adalah gadis indigo yang ditakdirkan bertemu dengan Narendra Cakra Rahayu, ketua dar...
