#15# pulang

16 2 8
                                        

Welcome for my story.
Please your vote and comment
Thanks Everyone and Enjoyy.

Baca pakai hati dan imajinasi kalian yaa..

Let's read👇🏻👇🏻
⊙⁠﹏⁠⊙⊙⁠﹏⁠⊙⊙⁠﹏⁠⊙⊙⁠﹏⁠⊙⊙⁠﹏⁠⊙⊙⁠﹏⁠⊙

"jadi gini,"

....

FLASHBACK ON

Naya pun telah di pindahkan keruang VIP, disana Vina terus menangis atas penyesalannya.

"Nay, bangun dong, gue khawatir nih, maafin gue Nay," Vina menggoyangkan tubuh Naya yang tertidur tenang di ranjang rumah sakit itu.

"Na, pulang ya? Istirahat," bujuk Vero menatapnya Vina teduh.

"Gamau kak, gue pengen jaga Naya," Vina masih fokus menatap Naya dengan air matanya yang masih mengalir.

"Oke," Vero hanya mengatakan satu patah kata saja, namun ia tetap berdiri diam di samping Vina

"Kak, pulang aja, biar gue yang jaga Naya," ucap Vina menatap Vero dengan air mata yang menggenang di mata dan hidung yang memerah.

"Gua disini nemenin lo," setelah terdiam lama Vero menatap Vina, karena terpaku oleh Vina yang kini menurutnya sangat menggemaskan.

Vina disitu hanya terdiam tak mengelak, entah mengapa pula malam ini ia cukup takut bila sendiri di rumah sakit, dan dengan adanya Vero mungkin ia cukup merasa tenang.

"Nay, bangun yuk, dengan kondisi lu yang kayak gini gue malah makin tambah ngerasa bersalah," Vina kembali menatap Naya.

"Na, berhenti nyalahin diri sendirinya, bukan lo yang salah," Vero berucap untuk menenangkan Vina

"Enggak kak, kalo aja waktu itu gue nahan dia buat ga naik mobil, mungkin dia gaakan kayak gini," Vina menggelengkan kepalanya, menurutnya ia yang salah atas kejadian ini.

"Lo nantang takdir tuhan?" ucapan Vero membuat Vina mengerutkan keningnya

"Maksud kakak?" tanya Vina

"Ini udah jalan takdir Na, walaupun mungkin lo bisa balik lagi dan lo benerin semua sesuai apa yang lo mau, takdir tuhan pasti tetap ada, mungkin aja ada di kondisi yang baik, tapi gimana kalo ternyata kondisinya semakin memburuk," penuturan dari Vero sebenarnya cukup sulit untuk langsung di mengerti oleh Vina, namun setelah lama memikirkan kata itu perlahan lahan Vina mengerti intinya.

Vina yang kini tengah duduk di bangku dekat ranjang Naya terdiam oleh perkataan Yang dilontarkan Vero. Vero yang berdiri di sampingnya membungkukkan badannya, lalu mengangkat tangannya dan mengelus lembut rambut Vina.

Vina yang diperlakukan seperti itu secara spontan menoleh kearah Vero, tatapan merekapun saling bertemu, dengan jarak yang hanya sejengkal saja. Vina dan Vero sama-sama terdiam seribu bahasa, dengan mata mereka yang saling bertatapan dan jarak yang begitu dekat membuat keduanya memiliki rasa yang aneh, jantung mereka berdegup sangat kencang.

'mungkin lo Na,' batin Vero

'kenapa rasanya ... nyaman,' batin Vina

"Na, jangan terus nyalahin diri lo sendiri ya, kalo sesuatu terjadi, gua selalu ada," Vero mencoba sekuat tenaga untuk menahan kegugupannya, ia masih terus menatap lekat dan teduh wajah yang telah membuat harinya berwarna.

Tatapan Vero terlihat penuh arti, Vina tahu hal itu, namun ia bingung, apa arti tatapannya, ia memang jago dalam mencari informasi, namun yang tahu tentang gerakan tubuh atau kepekaan terhadap cinta, itu Naya.

Tak lama tatapan itu terputus, kini canggung yang mereka rasakan, setelah lama hening terlontar pertanyaan dari Vero.

"Na, gua ke supermarket ya, buat beli cemilan biar lo ga laper," Vina pun menganggukan kepalanya, dan Vero pun pergi meninggalkan Vina dan Naya di ruangan itu.

The NayarenCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang