•••
"Hm, pulang." ajak Edgar. Ah bukan mengajak tapi perintah!
"Nanti aja lo yayayaya.." manja Nadlyne.
Nadlyne terjebak perasaan ingin terus-menerus bermain slime. Slime ber karakteristik menarik. Gradasi warna langit senja. Cepat mengaku siapa yang memberikan slime pada Nadlyne.
"Makin malem, dingin dijalan. Sekarang aja." Edgar menajamkan matanya.
"Iya lyn, pulang sekarang." Eira mendukung Edgar, setelah milirik jam dinding yang menunjukkan pukul 22.15 . Ia tak berniat mengusir Nadlyne, bisa saja kemungkinan yang tak terpikirkan hanya saja semoga tidak terjadi.
"Iyn perjalanan dari sini sampai kos Linggabuana ga dekat nak. Bawa slimenya pulang." tegur Eric, seperti menegur anak berusia 10 tahun agar mengingat waktu bermain.
"Nadlyne pulang sekarang ya?" rayu Esta.
Nadlyne seperti memiliki keluarga kedua, sangat diperhatikan. Diperlakukan seperti calon menantu keluarga Edgar, membuat Nadlyne merasa bersalah. Namun Nadlyne akan membuat kebohongan ini menjadi kenyataan.
"Okkayy, aku pulang yaa bun, yah, kak." pamit Nadlyne.
"Iya hati-hati." ujar mereka serempak.
"Ga, Nadlyne dijaga!" peringat ayah.
.
.
Nadlyne memakan baksonya dengan cepat. Lihat tatapan Edgar seolah-olah menelanjangi bakso yang dimakan Nadlyne.
Sedikit perdebatan kecil mereka. Penuh rintangan Nadlyne mendapatkan bakso pak Joko.
~
"Mau bakso." ujar Nadlyne namun Edgar masih tetap melajukan mogenya.
"Berhenti, itu baksonya." Nadlyne menepuk pundak Edgar serta menunjuk pedagang bakso diseberang jalan. Edgar apakah bude*k?
"Baksonya kelewatan, puter balik ga?!"
"Yang lain." jawab Edgar.
"Loh, aku sekarang pengen bakso, gamau yang lain."
"Cari pedagang yang lain." jelas Edgar.
"Gamau enak yang itu."
"Ga higenis. Lihat ga?"
Memang pedagang bakso ini ada diseberang jalan, tertupi gerobak bakso dan kain yang biasa menghalangi sebagai pertanda nama pemilik bakso/menutupi pelanggan yang hendak makan. Edgar menjadi tak yakin bakso ini masih higenis? atau higenis penuh debu?
"Yaudah kan yang makan aku? Lihat aja, sekali coba pengen lagi."
Edgar yang malas berdebat panjang. Memutar balik stang motornya. Dasar Nadlyne keras kepala!
~
"Enak tau? Coba ga?" Nadlyne sangat menikmati bakso yang ia makan.
"Gaya banget gamau makan dipinggir jalan. Padahal sepeda motornya selalu lewat jalan." lanjut Nadlyne yang mulai bersungut.
Nadlyne sudah diam diatas motor, perutnya sudah dalam keadaan damai, kenyang, penuh, dan nimat. Edgar melanjutkan perjalanan menuju kosan Nadlyne.
.
.
Nadlyne mengerlingkan matanya, "Makasii ya."
Centil. batin Edgar. Edgar menatap kos Nadlyne menyuluruh, terasa banyak tatapan penuh selidik yang mengarah padanya. Edgar sempat kontak mata dengan bapak-bapak yang menatap Nadlyne, bapak itu melangkah menghampiri Nadlyne.
KAMU SEDANG MEMBACA
Terpaan Renung
Teen FictionTerpaan Renung Renung kendala? Renung dahulu? Renung segalanya? Atas kendali yang tak diberi Dijalani ditelusuri Mama, harusnya aku lewat jalur kiri! ••• ISENG! -GA JELAS -FIKSI (TIDAK ADA UNSUR MENYINGGUNG) -ga suka? jgn hujat pliss, mental miri...
