BISING 8

235 88 8
                                        

•••

"Yiska menang debat kayak ga ada seneng-senengnya," heran Janice.

Yiska telah memenangkan lomba debat luar universitas, dengan predikat terfavorit. Yiska loh ini? Ga mungkin kalah dong.

Hari ini mereka nongkrong, tapi nyeleneh banget. Nongkrong didepan supermarket, tepat dikursi yang tersedia. Akan terlihat seperti orang yang kena penipuan, tapi beruntung outfitnya menyelamatkan mereka dari kesimpulan 'gembel'.

Dress well memang sepenting itu. Walau muka dibawah standar, jika menerapkan dress well auranya ga bakal aur-auran, enak dipandang, pokoknya perfect lah.

"Coba kalian main ke rumah Yiska, pialanya banyak cuyy," saran Reyna tanpa melihat mimik wajah Yiska.

"Semenjak kenal Yiska, ga percaya lagi sama peribahasa 'Tong Kosong nyaring bunyinya', malah rata-rata yang banyak omong, pinter anjai." terang Nadlyne.

Yiska ingin tertawa mendengar celotehan Nadlyne, namun ia tahan. "Ya karna aku banyak omong, biar ga mudah ditindas. Definisi diam itu emas, malah sering diinjak-injak. Diam itu emas, dibully maksutnya?"

"Pemenang? Pemenang buat mereka yang berani menuju masa depan, juga mendapatkan cita-cita yang diimpikan. Aku kan ga dapet?" lanjut Yiska juga sesekali menghebuskan napasnya.

"Semua yang terlewatkan tak menjadi suatu kepemilikan yang kita mau. Semesta tak menakdirkan angan-angan yang direncanakan sedari awal. Berusahalah tanpa henti, percaya semesta akan menempatkan kita yang terbaik seperti sebelumnya." Nadlyne mencoba bijak.

Janice, Reyna, dan Yiska, terdiam sejenak mendengar kalimat yang dapat membuat hatinya merenung.

"Toh semesta ga akan peduli sama kegagalan kita. Semakin terpuruk, semakin tertinggal." balas Janice.

Reyna ikut menambahi, "Semakin kamu menyalahkan, semakin kamu terlihat menyedihkan."

Janice ingin merubah suasana, "Ruang ikhlas yang lebar, akan terganti sama uang 100jt."

Yiska memberi pandangan datar pada Janice, "Lebih milih 100jt si. Nyatanya ikhlas cuma dari mulut, hati ga akan. Oh iya univ sebelah ngadain lomba jurnalistik, siapa tau diantara kita ada yang berbakat?"

"Ga, ga ada." Reyna sangat malas jika membahas lomba. Cukup sudah ia terkena dampak kekalahan, dikarenakan ada yang memakai jasa ordal.

"Ganti topik."

Ucapan Yiska membuat Janice teringat chat konyolnya, dengan seangkatan namun beda fakultas.

"Oh iya baru inget, minggu lalu aku dichat Ka Yadi? tau gak tau gak? tau rupanya ga?" Janice sangat bersemangat membahasnya.

"Ohh anak Fakultas Ilmu Budaya ga si? yang kalo jalan kayak penguasa, kata temen-temen jarang ke kantin univ, terus matanya kelihatan juling. Terus-"

Ucapan Yiska terpotong dengan teguran Nadlyne, "udah Yiska, ga inget pernah deket ma abang Rendra?"

Rendra ini abang kandung Yadi, terpaut 2 tahun diatasnya. Rendra saat ini fokus mengejar gelar farmasi di UM. Sehingga waktu masih berhubungan dengan Yiska, Yiska sering ditelantarkan.

Terpaan RenungCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang