Noval akhir-akhir ini sibuk karena urusan sekolah karena satu minggu lagi sekolah akan mengadakan lomba untuk anak-anak murid di sini.
Semua murid tentu saja gembira dengan kabar ini karena semasa lomba di adakan mereka tidak akan melakukan pelajaran, impian semua murid pemalas. Namun tidak dengan vano.
Vano saat ini duduk di kursi yang ada di pinggir lapangan sekolah nya ia sedang melihat kekasihnya, noval dengan bosan karena akhir-akhir ini sibuk dengan urusan lomba ini hingga jarang memberi waktu untuk vano.
"Ck, lihat dia sok sibuk sekali" Gerutu vano ia terlihat memandang punggung belakang noval dengan kesal ia sesekali akan mengulurkan lidahnya mengejek noval melampiaskan kekesalannya.
"Anjing liat aja dia gak akan gue bales cet nya malam ini" Ucap vano kesal ia beberapa kali mendengus kesal.
Seseorang yang sadari tadi menatap kearah vano terlihat tersenyum lucu melihat wajah kesal vano. Seseorang itu berjalan mendekat kearah vano dengan mata yang memandang vano lekat.
"Boleh duduk" Tanya sebuah suara. Vano mendongak untuk melihat siapa orang yang berbicara tadi.
Denis, vano melihat Denis yang ternyata orang yang berbicara tadi dapat vano lihat tatapan Denis kearahnya yang sangat intens sehingga membuatnya merasa sedikit tidak nyaman.
"Sorry ini tempat duduk bang noval" Ucap vano menolak sebenarnya ia berbohong jika ini tempat duduk noval, bahkan noval mungkin tidak tau jika vano duduk di sini sakin fokusnya kepada tugas nya.
"Tapi noval kan masih ada kerjaan jadi tak apa abang duduk di sini sebentar" Ucap Denis tanpa mendengar jawaban dari vano Denis segera duduk di samping vano.
Vano mengeser sedikit tempat duduknya untuk menjauh dari Denis, jika saja karakter Denis di cerita ini tidak berubah mungkin saja vano tidak menjauhi Denis sedemikian rupa. Namun sekarang berbeda, vano hanya takut jika ia berdekatan dengan Denis akan menjadi masalah nantinya untuk vano.
Denis dapat melihat tatapan tidak nyaman dari vano karena nya tapi entah mengapa itu terlihat menjadikan daya tarik vano semakin meningkat menurut Denis. 'Gila...'
Denis dengan lancang memegang lengan vano hingga membuat vano tersentak kaget.
"Maksud lo apa sih bangsat" Sentak vano ia sudah dari tadi menahan kesal saat Denis terus mendekati nya apalagi suasana hatinya sedang tidak bagus akibat noval yang sibuk.
"Kenapa? Abang hanya ingin berbicara dengan vano" Ucap Denis santai ia kembali menggapai lengan vano namun kali ini ia menggenggam lengan itu lebih erat hingga membuat vano mendesis merasakan lengannya di remas kuat oleh denis.
Vano berulang kali mencoba untuk menarik lengannya namun entah kenapa vano merasa kekuatan nya hilang atau Denis yang terlalu kuat ia tak tau yang pasti vano sudah berulang kali mencoba untuk menarik lengannya namun tidak berhasil. Ia yakin jika lengannya sudah membiru saat ini.
"Lepas bangsat" Teriak vano meronta-ronta.
Bugh...
Vano terkejut ia dapat melihat jika Denis jatuh tersungkur saat noval memberikan nya pukulan di rahang Denis dengan keras.
Vano dapat melihat jika noval berdiri di depannya dengan nafas memburu, rahang mengeras, dan matanya memandang Denis tajam.
"Baby tak apa hm" Tanya noval lembut. Vano hanya diam karena ini sedang berada di lapangan sekolah nya jika di sini hanya ada noval dan vano mungkin ia sudah menangis di pelukan noval dan mengadukan tindakan Denis. Tapi di sini tidak boleh nanti jatuh image nya di sini.
"Um"jawab vano pelan ia mati-matian menahan emosinya untuk memukul denis dengan membabi buta berani sekali orang ini membuat lengannya lebam.
"Hahaha lo harus jaga dia noval karena banyak yang mengincarnya" Peringatan Denis dengan tawa nya menatap noval dengan pandangan remeh.
Denis bangkit kemudian melangkah pergi meninggalkan noval yang kembali meradang karena mendengar ucapan Denis.
'Cobalah maka orang itu akan kembali kepada pencipta' batin noval menatap kepergian denis.
'Sebentar lagi baby, sebentar lagi aku akan mendapatkan mu' batin Denis ambisius ia pastikan bahwa vano sebentar lagi akan menjadi milik nya.
"Baby ayo masuk kelas mu hm" Minta noval lembut ia tidak akan tenang jika vano berkeliaran di luaran sini banyak sekali yang menginginkan kekasih kecilnya ini.
"Tapi vano ingin menemani bang noval" Ucap vano dengan cemberut.
"Jangan membantah devano" Tekan noval dengan aura dominasi nya yang mampu membuat vano sedikit takut.
"Ck, iya, iyaa" Ucap vano dengan terpaksa ia masuk kedalam kelasnya walaupun tidak ikhlas.
Vano berjalan sambil menggerutu untuk noval ia sangat kesal karena di suruh untuk kembali di kelas padahal dia kan tidak mau. Lagian kembali ke dalam kelas juga tidak berlajar karena para guru sibuk untuk mengurus lomba satu minggu lagi.
"Jangan cemberut gitu dong bayi" Ucap Alex yang tiba-tiba merangkul pundak vano.
"Lepas" Ucap vano dingin ia sangat bad mood sekarang jadi malas.
"Ayolah jangan bad mood gitu gimana kalo kita ke kantin aja, kita makan buat ngembaliin mood lo" Ucap al lalu tanpa mendengar balasan dari vano ia menarik lengan vano untuk ke kantin dan vanonya juga pasrah saja lagi malas berdebat.
"Enak ya lo van bisa di rebutin dua cowok ganteng sekaligus" Ucap al. Saat ini mereka sedang duduk di kantin yang terbilang sepi karena masih jam pelajaran ya walaupun gak belajar.
"Iri lo" Ledek Alex yang mendapat pelototan dari al.
"Diem monyet lo tu gak di ajak" Sembuh al dengan melempar Alex dengan mie yang ada di mangkok nya.
"Jorok bet lo asu" Kesal Alex wajah tampannya jadi kotor akibat kuah bakso yang terciprat di wajah nya sedangkan al hanya cuek saja.
"Boleh lah buat gue satu" Goda al kearah vano mengabaikan Alex yang menggerutu serta tatapan tajam dari arga. Ya tadi saat mereka duduk tiba-tiba arga, kai, jihoon, dan Jimmy ikut bergabung di meja mereka.
"Ambil saja Denis" Ucap vano ia sangat ikhlas jika al ingin mengambil salah satu masalahnya itu agar ia tidak terlalu sulit untuk hidup di dunia Novel ini.
"Wah bener nih" Girang al. Tentu saja ia senang karena Denis itu termasuk tipe al jadi ia senang jika bisa dengan Denis lumayan kan ganteng, pikir al.
"Bukannya lo bilang kalo lo itu normal ya??" Pikir Alex ia benar-benar tidak bisa mengerti jalan pikir satu temannya ini.
"Ya emang gue normal tapi kalo gue gak normal terus yang jadi seme nya si Denis gue mau lah" Seru al semangat.
"Ingat perjodohan kita" Ucap arga dingin ia menatap tajam kearah al yang terlihat sangat semangat menceritakan orang lain di depannya.
"Ye lagian gue sama lo itu cuma di jodohin dan gue gak mau sama lo" Ucap al yang mampu membuat arga terdiam.
Sret...
Mereka sontak melihat kearah vano yang ternyata sudah berdiri dari duduknya untuk meningkatkan kantin.
'Bisa stres gue lama-lama deket mereka' batin vano.
KAMU SEDANG MEMBACA
antagonis licik [End]
Lãng mạnCerita gak jelas, gak suka gak usah baca jangan ninggalin komentar jelek kalian. Cerita pertama!!! BL/GAY/HOMO AREA!!!! ⚠️⚠️ HOMOFOBIA JANGAN DEKET-DEKET?!!!! 🚫❌❌ seorang pemuda bernama devardi rezza bimantara berusia 18 tahun. seseorang pemuda y...
![antagonis licik [End]](https://img.wattpad.com/cover/383751791-64-k140082.jpg)