"Huwee papa" Teriak baby nova dari ruang tamu menggelegar di dalam rumah vano.
"Astagaa anak gue" Ucap vano panik, karena sudah meninggalkan anaknya lama-lama dengan teman-temannya yang biadab itu.
"Hiks papa hiks" Tangis baby nova lengannya terangkat minta di gendong dengan mata berkaca-kaca dan bibir monyongnya.
"Lo pada apain anak gue ha!!" Tanya vano marah.
"Dia, bukan gue" Jawab Jimmy menunjuk kearah Alex yang sekarang memandang nya tidak terima.
"Enak aja lo nyalahin gue, salah al tuh" Jawab Alex membela diri.
"Lah kok gue!!" Ucap al tak terima.
"Bicara lagi kalian semua gue lempar dari jendela" Ancam vano yang mampu membuat semuanya terdiam.
"Lo si" Ucap Alex pelan ia menyikut lengan al pelan.
"Lo-"
"Masih mau ngomong?" Tanya vano datar akhirnya Alex dan al segera mengatupkan bibirnya kaku.
"Gak hehe" Jawab Alex dengan cengengesan.
Ting nong...
"Bang tolong bukain pintu nya, vano mau ganti popok baby nova dulu" Minta vano kepada noval.
Ckel....
Noval terdiam sesaat ketika melihat siapa yang datang ke rumahnya, sebelum tersenyum canggung ia mempersilahkan keluarga vano masuk.
"Ah? Kalian ayo masuk" Ucap noval dengan tersenyum canggung.
"Siapa ba-" Ucapan vano seketika terhenti saat melihat orang-orang yang beberapa tahun silam ia abaikan.
Pandangan vano menjadi datar, ia memandang tanpa minat kearah dalvin dan davin, namun ia tak melihat cakra dan mahendra entah mereka kemana.
"Untuk apa kalian datang ke sini?" Tanya vano pelan.
"Vano, belum memaafkan abang?" Tanya dalvin pelan.
"He? Sudah tau kan jawabannya?. Kalau begitu pergilah!" Ucap vano sambil terkekeh sinis.
Dalvin dan davin hanya mampu menunduk sedih, sudah lima tahun berlalu untuk mereka mendapatkan maaf dari vano. Namun itu tidak pernah mereka dapatkan.
Mereka tau dan mereka sangat sadar jika kesalahan mereka sangat besar kepada vano. Dan itu tidak dapat di maafkan dengan mudah. Tetapi bolehkah mereka egois untuk kali ini, mendapatkan maaf vano adalah sesuatu yang sangat mereka harapkan.
"Vano, abang mohon. Untuk kali ini saja, maafkan kami" Ucap davin. Ia bersimpuh di hadapan vano dengan lengan yang menyatu. Dapat di lihat jika matanya memancarkan keputus asaan.
"Tidak ada gunanya, pergilah" Usir vano pelan.
"Devano, anggap ini permintaan terakhir abang, dan daddy mu" Ucap dalvin yang membuat vano menatapnya bingung.
"Aku mohon, bukan sebagai abang mu lagi. Tapi sebagai seseorang yang sedang membutuhkan bantuan, temui ayahku, daddy mu" Mohon dalvin kearah vano ia meneteskan air matanya dengan wajah frustasi.
"Ap- apa maksud nya ini" Tanya vano gugup, entah kenapa perasaannya tidak enak sekarang.
"Aku mohon temui daddy sekali saja, untuk yang terakhir kali. Hiks daddy sakit, dan sekarang kondisi daddy kritis" Ucap dalvin dengan isak tangis yang tak mampu ia tahan lagi.
"Daddy sangat merasa bersalah kepada mu, daddy selalu memikirkan mu, hingga daddy jatuh sakit. pada akhirnya daddy masuk rumah sakit dan di nyatakan kritis" Jelas dalvin yang mampu membuat vano terdiam dengan air mata yang menetes tanpa ia ketahui.
KAMU SEDANG MEMBACA
antagonis licik [End]
RomanceCerita gak jelas, gak suka gak usah baca jangan ninggalin komentar jelek kalian. Cerita pertama!!! BL/GAY/HOMO AREA!!!! ⚠️⚠️ HOMOFOBIA JANGAN DEKET-DEKET?!!!! 🚫❌❌ seorang pemuda bernama devardi rezza bimantara berusia 18 tahun. seseorang pemuda y...
![antagonis licik [End]](https://img.wattpad.com/cover/383751791-64-k140082.jpg)