35

12.5K 719 24
                                        

Clara terlihat merobek surat yang ada di lengannya, ia mematung tidak percaya dengan pandangan kosong.

Di surat itu tertulis jelas, hasil tes DNA ia dan kelvin. Di dalam surat itu menunjukan hasil kecocokan yang pas 99℅ yang itu tandanya jika ia memang benar anak dari kelvin.

Clara tidak percaya, jadi selama ini ia membantu orang yang ternyata sudah menghancurkan hidupnya sendiri, ia membunuh orang yang tak bersalah karena membantu seseorang yang ternyata pembunuh ibunya yang sebenarnya.

"Hiks ini bohong kan" Ucap Clara dengan suara yang bergetar.

Vano memutar bola matanya malas. Kalau kalian tanya apa dia kasihan melihat Clara seperti ini, tentu saja jawabannya tidak. Ia sudah membunuh banyak orang jadi tidak mungkin hanya dengan melihat orang lain menangis ia akan kasihan.

"Kalian bawa pak tua ini ke tempat biasa" Perintah vano, hingga tak lama lima orang masuk dan segera menyeret kelvin paksa walaupun kelvin memberontak.

"Lepas!!! Lepaskan saya!!! Lihat saja devano kau akan menyesal, aku akan menghancurkan kalian" Teriak kelvin sambil meronta-ronta agar terlepas.

Vano hanya abai dengan teriakan kelvin, karena ia tau itu tak akan terjadi. Jangankan ingin membuat nya menyesal, melepaskan diri dari 'penjara' nya pun mustahil.

Vano menatap Clara yang besimpuh di lantai sambil menangis pun mengulas senyum tipis.

"Pergilah" Ucap vano kearah Clara. Clara mendongak menatap vano tidak percaya.

"Terim-" Ucapan Clara terpotong oleh ucapan dingin vano.

"Sebelum gue berubah pikiran" Ucap vano datar.

Clara dengan kaki yang masih bergetar kecil, berusaha untuk bangkit dan pergi dari tempat itu sebelum vano berubah pikiran.

"Van, lo biarin dia pergi begitu aja" Ucap Alex tidak percaya.

"Ya pergilah, karena neraka sudah menunggu mu di luar sana" Ucap vano dengan tersenyum mengerikan.

Ia mengambil handphone dan segera menelpon seseorang. "Tunggu dia akan datang sebentar lagi, lakukan sepuas kalian. Tapi jangan sampai dia mati, jika tidak nyawa kalian ganti nya. Jika sudah selesai bermain bawa dia ke tempat biasa" Ucap vano lalu ia mematikan sambungan telepon nya.

"Lo apain dia" Tanya al.

"Memberikan jalang menjalankan tugasnya" Jawab vano seadanya.

Mata vano bergulir menatap kearah jihoon,, Jimmy, arga, dan kai yang menatapnya dengan diam. Lalu jihoon tiba-tiba berjalan mendekatinya.

"Apa kita harus menangkapnya sekarang?" Bisik jihoon. Vano tidak menjawab ia berjalan menghampiri seseorang yang sudah berkeringat dingin di ujung sana.

Vano berhenti tepat di depan Jimmy, hingga arga, kai dan jihoon menahan nafas di buat nya

Vano mengeluarkan belati yang ia simpan di jasnya, mengarahkan nya kearah Jimmy namun lengannya secara mendadak berbelok menyerang orang yang berada di sebelah Jimmy.

"Akh.. Sthh" Ringisan keluar dari bilah bibir orang itu.

Jihoon maju dan menatap vano kaget dengan terbatah ia berkata "van ada apa? Kenapa lo nyerang dia" Tanya jihoon pelan.

"Bukankah penghianat harus di singkirkan. Jek?" Ucap vano terputus sejenak.

"Ah!! Maksud gue, Kairo jekfi bimantara?" Lanjut vano yang membuat jek atau kai terkejut, ia tak menyangka jika vano dapat mengetahui rahasianya.

Kai panas dingin saat ujung Belati vano tepat berada di bawah lehernya. Rasa dingin menyentuh lehernya mengantarkan rasa perih saat belati itu menggesek di kulitnya, dapat kai rasakan ada yang mengalir di lehernya sekarang.

"Wah wah gimana kejutannya penghianat? Lo kemarin kelihatan nya seneng banget saat mengetahui gue bakalan di bunuh" Ucap Jimmy tajam.

Arga dan jihoon hanya diam karena keterkejutan mereka. Jadi selama ini yang penghianat adalah kai, pikir mereka tak percaya.

"Tangkap dia dan bawa ke tempat pak tua itu berada" Perintah vano kepada arga, jihoon dan Jimmy. Akhirnya jihoon dan arga membawa mereka walaupun di kepala mereka masih banyak tanda tanya.

Kai hanya diam saat di bawa. Karena selama ia berteman dengan vano ada satu yang ia ketahui, jika kau sudah masuk di dalam permainan devano maka tidak ada harapan untuk melarikan diri.


Ruangan itu hanya menyisakan keheningan, semua orang larut akan kejadian hari ini. Syok, itu lah yang mereka rasakan, terlalu banyak orang terdekat mereka yang menjadi penghianat.

"Tuan mahendra, saya tidak ingin tau bagaimana caranya anda membersihkan nama baik keluarga xfiers, tapi saya ingatkan jangan membawa-bawa saya dalam masalah keluarga anda" Ucap vano tanpa menatap ke arah mahendra.

Vano melangkahkan kakinya ingin pergi dan di ikuti oleh noval namun ucapan seseorang mampu membuat langkahnya terhenti.

"Vano, kamu mau kemana" Tanya mahendra dengan suara pelan namun karena ruangan itu sepi suara mahendra dapat terdengar dengan jelas.

Vano berbalik dan menatap mahendra dengan seringai nya "apa itu sekarang penting untuk anda tuan mahendra?" Tanya vano tenang.

Mulut mahendra seperti terkatup sendiri saat vano mengatakan kalimat itu untuk nya.  "Ya, karena kau anak ku" Jawab mahendra pelan.

"Hahahahaha anak? Ayolah tuan mahendra kau bercanda, sejak kapan kau mau menganggap ku anak? Bukankah anak tersayang mu itu si Clara " Tekan vano menatap mahendra datar.

"Dengar, semua kejahatan Clara memang sudah terungkap tapi, jangan harap bisa mendekati ku. Aku lebih suka jika kalian bersikap acuh seperti dulu jadi tidak menjadi pengganggu untuk ku" Ucap vano dingin, ia berbalik kembali melangkah pergi meninggalkan keluarga xfiers yang mematung membisu.


"Bukankah aku sudah bilang bahwa penyesalan selalu datang terakhir" Ucap cakra sulung xfiers. Ia sebenarnya sudah tau jika Clara bukanlah orang baik, karena itu ia tidak terlalu terkejut saat mengetahui fakta ini.


"Hiks" Isak tangis dalvin keluar saat ia memikirkan betapa kejamnya ia dengan vano dulu hanya demi membela orang lain yang ternyata sudah menghancurkan hidupnya.

"Stt sudah jangan menangis lagi" Ucap cakra menenangkan dalvin.

"Kita harus bisa mendapatkan maaf dari vano, bagaimanapun caranya" Ucap mahendra yang di angguki oleh anak-anak nya.












To be continued







Jangan lupa vote we...

antagonis licik [End]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang