Sutsujin menatap Hazle dengan barang bawaannya yang sangat... banyak. Entah kenapa, anak kecil satu itu terlihat yang paling repot dibandingkan yang lainnya, bahkan ia sampai kena omel Mbak.
"Prab, lo mau pindahan?" tanya Sutsujin. Nadanya datar, namun ucapannya penuh humor.
Hazle hanya melirik sinis ke arah Sutsujin. "Kenapa sih, Ko. Biar ajalah aku, Ko..." ucapnya. Sutsujin tersenyum kecil, kemudian memilih untuk duduk di atas sofa, menunggu semua temannya siap.
"Weh, liat apa kau, Ko?" ucap Dyren yang tiba-tiba duduk di samping Sutsujin sambil dengan kepo melirik isi ponselnya. Sutsujin hanya melirik sebentar ke arah Dyren, kemudian kembali fokus pada ponselnya.
"Scroll tiktok aja." ucapnya. Bagai anak kecil, Dyren ikut melihat apa yang ada di ponsel Sutsujin, sambil sesekali mengganti-ganti video jika ia tidak tertarik.
"Kok jadi kayak lo yang main tiktoknya, bukan gue?" ucap Sutsujin sambil menatap Dyren malas. Dyren terkekeh kecil.
"Izin lah Ko, aku. HP-ku mau kuhemat baterainya. Ke Bandung ini kita, Ko. 10 jam di jalan bisa ini." ucap Dyren.
"Kita mau ke Bandung, bukan Mesir." ucap Sutsujin begitu mendengar ucapan Dyren yang begitu hiperbola.
Dyren tertawa kecil, kemudian bangkit dari duduknya.
"Dah, ayo, Ko. Dah mau jalan kita!" seru Dyren.
"Kata siapa?" ucap Sutsujin.
Xoxo datang dengan kopernya, sambil menyahuti ucapan Sutsujin. "Kata aku." ucapnya.
Xoxo kemudian mengedarkan pandangannya pada anak-anak yang sudah berkumpul di sana.
"Udah siap semua, kan?" tanya Xoxo.
"Udah dong Bang Xo." ucap Hazle.
"Pastiin ngga ada yang ketinggalan ya!" seru Xoxo, kemudian ia melanjutkan. "Kalo udah yakin semua, yok berangkat." lanjutnya.
Sutsujin bangkit dari duduknya, diikuti Dyren. Ia kemudian menuntun kopernya dan memasukinya ke dalam mobil yang akan mereka gunakan. Mereka menggunakan sebuah van yang sepertinya memang disewa khusus untuk pergi ke Bandung.
Sutsujin memilih untuk duduk di sebelah Idok, di kursi paling belakang. Bisa dibilang itu adalah posisi paling aman, dimana ia setidaknya tidak akan dijahili Dyren, Rinz, atau Skylar terus-terusan.
Setelah semua dipastikan memasuki van dan tidak ada barang bawaan yang tertinggal, mobil mulai melaju meninggalkan kawasan GH. Sutsujin menatap ke arah luar jendela sambil menopang dagunya. Ia akan berangkat, menjemput sesuatu yang semoga adalah keberhasilan.
Sepuluh menit tanpa suara, Sutsujin akhirnya terlelap.
***
Angin dingin menusuk kulit keenam laki-laki dengan jaket seragam mereka. Akhirnya, setelah beberapa jam perjalanan, mobil mereka mendarat tepat di lobby hotel tempat mereka menginap selama playoff.
"Uhhh... akhirnya..." Dyren meregangkan tubuhnya sambil tersenyum memerhatikan sekeliling.
"Ih adem kali Bandung ngga kayak Jakarta..." gumam Rinz, sementara Idok mengangguk setuju.
"Pindah GH aja lah kita. Oke juga disini." sambungnya, membuat Skylar menepuk kepalanya pelan.
"Ya menurut ngana aja!" serunya. Pukulan itu, walaupun kecil, mampu membuat Idok meringis kesakitan.
"Apa lah kau, Ler." ucap Idok.
"Guys, ayo masuk. Kenapa kalian jadi kayak anak ilang diam di depan lobby hotel?" tanya Xoxo sambil menggeret kopernya mendekati pintu masuk hotel.
KAMU SEDANG MEMBACA
trust.
FanfictionIni tentang Sutsujin, yang berusaha untuk mengatasi ketakutannya, lalu belajar untuk membuka hatinya kembali. Ini juga tentang Skylar, Rinz, Dyren, Idok, dan Hazle yang berusaha meruntuhkan tembok yang dibangun tinggi oleh Sutsujin, membantunya meng...
