Suasana grand-final begitu menegangkan, apalagi ketika Team Liquid ID berhasil menyamakan kedudukan menjadi 3-3. Hanya butuh satu poin lagi untuk masing-masing tim memenangkan pertandingan dan meraih gelar juara.
Asa itu masih ada, setidaknya bagi para player yang masih berusaha sedemikian rupa. Walaupun rasa ragu membelenggu, namun keinginan untuk menang pun lebih besar dari apapun.
Namun tampaknya, entah apa yang terjadi, sesuatu tampak menahan mereka untuk menjadi yang terbaik kali ini. Permainan di game terakhir itu begitu didominasi oleh para rookie dari Team Liquid ID, menyisakan RRQ pada kebingungan yang tiada henti. Skylar kelimpungsn, Sutsujin tak dapat berpikir jernih, Dyren sudah tak tahu harus berbuat apa, dan Rinz Idok juga merasa kesulitan. Semua yang mereka rasakan tergambar jelas dalam wajah masing-masing. Tiap poin kill, tiap objektif yang didapatkan oleh lawan rasanya seperti mimpi buruk. Rapalan doa tak pernah terhenti dari bibir para pendukung, teriakan-teriakan histeris menemani permainan mereka, dan comms yang ramai mengantarkan mereka untuk berjuang lebih keras.
Namun tampaknya, semesta belum mengizinkan. Saat base mereka dihancurkan, layar hitam “DEFEAT” muncul, mengakhiri perjuangan mereka di MPL Indonesia S14. Rasanya seperti pukulan telak yang menekan dada mereka, menghapus segala harapan yang sudah terbangun selama pertandingan berlangsung. Sorak sorai pendukung tim lawan ikut mengantarkan RRQ pada posisi kedua. Ya. Mereka harus puas pada posisi runner-up usai kekalahan tipis 4-3 oleh TLID. Mereka kembali gagal.
Kelima player menatap nanar tim lawan yang merayakan kemenangan. Rasanya, kekecewaan menimpa kepala mereka lebih besar dari apapun. Usai melakukan high-five sebagai bentuk sportifitas, para player RRQ harus kembali ke backstage diantar oleh isak tangis para fans yang masih tidak percaya.
Mereka masih disambut, namun kekecewaan tergambar jelas di wajah orang-orang yang menunggu di backstage. Khezcute tersenyum kecil, berusaha memberikan energi positif, NMM tak menunjukkan emosi apapun, sementara Xoxo dengan jelas merasa iba dengan anak-anaknya. Hazle bersandar di kepala kursi sambil melamun, ikut merasakan apa yang dirasakan teman-temannya.
"Ngga apa-apa. Kita udah melakukan yang terbaik." ucap Xoxo, berusaha menenangkan.
Namun, tak ada respons. Semua sibuk larut dalam pikiran sendiri. Tak ada suara yang terdengar selain deru napas berat mereka masing-masing dan detak jam yang mengisyaratkan bahwa waktu terus berjalan. Tidak ada yang berbicara. Semuanya larut dalam pikiran mereka sendiri, mencoba menerima kenyataan pahit ini.
Skylar menutup wajahnya dengan kedua tangan, berusaha menutupi air mata yang entah mengapa tak bisa ia tahan. Dyren duduk bersandar, sambil menatap sepatunya, seolah berharap menemukan jawaban dari sana. Idok sibuk menggenggam botol air mineral, sambil memutar-mutarnya tanpa henti, menandakan bahwa ia gelisah. Rinz melamun dengan bahunya yang lunglai, sementara Hazle hanya bersandar pada kursi sambil berkali-kali menghela napas.
Sutsujin duduk di pojok ruangan, tangannya mengepal. Ia adalah orang pertama yang masuk ke dalam ruangan, dan memilih untuk duduk agak terpisah. Kekalahan ini tidak hanya menyakitkan, itu mengingatkannya pada saat-saat gelap di masa lalunya, ketika ia merasa kehilangan segalanya. Perasaan kecewa, gelisah, dan sedih bercampur seolah mengaduk-aduk hatinya.
"Gue ngga tahu mau ngomong apa..." Idok berucap memecah keheningan, meskipun suaranya terdengar sangat pelan.
Namun, tak ada tanggapan. Ruang backstage itu begitu sunyi, seolah menyerap habis energi dan kebahagiaan mereka. Semua masih tenggelam dalam perasaan masing-masing. Kekalahan itu terasa seperti lubang besar yang sulit diisi, meninggalkan jejak pahit di hati mereka.
***
Malam itu, mereka kembali ke hotel dengan langkah gontai. Tidak ada candaan atau obrolan ringan di bus. Semua masih meresapi kekalahan mereka dengan cara masing-masing.
KAMU SEDANG MEMBACA
trust.
Fiksi PenggemarIni tentang Sutsujin, yang berusaha untuk mengatasi ketakutannya, lalu belajar untuk membuka hatinya kembali. Ini juga tentang Skylar, Rinz, Dyren, Idok, dan Hazle yang berusaha meruntuhkan tembok yang dibangun tinggi oleh Sutsujin, membantunya meng...
