Tak ada satupun percakapan yang menyelimuti dua orang itu sejak pertengkaran di malam hari kemarin. Walaupun anak-anak yang lain tidak tahu menahu soal pertengkaran mereka, namun suasana yang canggung tidak bisa berbohong.
Dyren, begitu peka terhadap situasi. Ia merasa bahwa Rinz dan Sutsujin seolah memiliki jarak. Hingga akhirnya, ketika mereka berkumpul di ruang latihan, Dyren menggunakan kesempatan ini untuk bertanya pada keduanya.
"Kalian kenapa sih, Lek?" tanyanya. Seluruh mata memandang Dyren, dan mengernyit bingung.
"Apa? Kita?" tanya Skylar. Dyren berdecak kesal.
"Itu loh, Rin sama Ujin." ucap Dyren sambil menunjuk dua manusia yang duduk berjauhan.
Skylar memicingkan mata, menatap orang-orang yang ditunjuk oleh Dyren secara bergantian.
"Jawab kalian oy. Kenapa? Kok kayak perang dingin gitu. Hiyyy, Jakarta pun bisa dibuatnya kayak Kutub Selatan." ucap Dyren.
Rinz yang merasa ditanyai hanya mengangkat pundaknya tidak peduli. "Ngga tau. Tanya aja dia." ucapnya sambil dagunya menunjuk ke arah Sutsujin. Sutsujin hanya diam, fokus pada ponselnya.
Reaksi mereka berdua cukup menjelaskan bahwa memang benar ada pertengkaran di antara mereka.
"Nah, kan! Benar aja aku! Bertengkar mereka!" seru Dyren.
Skylar menggaruk kepalanya bingung. Ini, ada apa sebenarnya? Sehabis kalah bukannya semakin menyatukan chemistry malah berjauh-jauhan.
"Kenapa kalian?" tanyanya.
Rinz masih dengan jawaban yang sama. Ia mengangkat bahunya. "Tanya sama dia, Ler, ada apa. Suruh dia sekali-kali ngomong biar ngga kayak orang bisu." ucapnya pedas.
Skylar menatap tajam Rinz.
"Mulut lo, Rinz!" seru Skylar dengan nada tinggi. Rinz hanya diam sambil pandangannya terfokus pada ponsel.
Sutsujin meletakkan ponselnya dengan kasar kemudian beranjak dari duduknya.
"Scrim masih sejam lagi kan? Bilangin Abang sama Ko Kep kalau udah sampe, gue keluar sebentar." ucapnya, sebelum akhirnya meninggalkan ruang latihan.
"Woy, Ko! Mau kemana!" seru Dyren. Skylar memijat dahinya pusing. Ternyata, seserius ini pertengkaran mereka?
"Gajelas." gumam Rinz begitu ia melihat Sutsujin yang meninggalkan ruang scrim.
Skylar menatap Rinz tajam. "Selesai scrim nanti, kalian berdua ikut gue, ya! Ngga ada alasan! Awas aja." ucapannya terdengar sedikit mengancam, membuat Rinz hanya menyahutinya dengan dehaman, entah setuju atau tidak.
Sementara Idok di tempatnya, menggeleng-gelengkan kepalanya. "Baru kalah sekali, suasana udah kayak mau bubar aja ini tim." gumamnya asal, namun gumaman itu masih dapat didengar oleh seisi ruangan.
"Weh, Idok! Mulutmu!" seru Dyren, sementara Idok hanya menggaruk-garuk kepalanya ikut frustrasi.
Sebenarnya, ada apa dengan mereka berdua, sih?
***
Sutsujin, dengan motor listriknya menyusuri kompleks dengan hati yang tidak tenang. Di tengah jalanan yang basah sehabis hujan itu, ia kembali teringat ucapan Rinz tadi malam. Rinz bilang ia egois, dan sikapnya ini malah makin menyusahkan tim. Sutsujin jadi berpikir, benarkah itu?
Ia menatap kosong jalanan di depannya sambil larut dalam pikiran. Sebenarnya, ia mulai berpikir kalau mungkin memang seharusnya ia menceritakan apa yang ia alami di tim sebelumnya sehingga ia bisa lega karena telah mengungkapkan ketakutannya. Namun, di lain sisi, Sutsujin masih takut. Ia takut dihakimi, ia takut kembali dianggap beban, sehingga sampai sekarang, ia masih ragu terhadap hal itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
trust.
FanfictionIni tentang Sutsujin, yang berusaha untuk mengatasi ketakutannya, lalu belajar untuk membuka hatinya kembali. Ini juga tentang Skylar, Rinz, Dyren, Idok, dan Hazle yang berusaha meruntuhkan tembok yang dibangun tinggi oleh Sutsujin, membantunya meng...
