17: Now, It's Our Turn

701 75 8
                                        

Langit pagi Bandung tampak cerah, meskipun udaranya masih dingin menusuk. Di dalam kamar hotel, Skylar duduk di tepi tempat tidur. Tangannya memegang ponsel, sambil tatapannya terpaku pada pesan terakhir yang ada di ruang chat dengan tantenya.

"Papamu masuk rumah sakit. Jangan khawatir, semoga papamu baik-baik aja. Kamu fokus disana dan kasih yang terbaik."

Pesan itu sampai malam kemarin. Skylar tahu bahwa pesan itu bertujuan untuk menenangkannya, namun justru, Skylar tak dapat mengalihkan rasa khawatirnya.

Skylar menghela napas, bingung terhadap apa yang harus ia perbuat. Pulang ke Manado sekarang juga jelas bukanlah pilihan yang tepat, namun berdiam diri di sini, tanpa kejelasan mengenai kondisi ayahnya juga hanya akan membuat konsentrasinya terbagi.

Pintu kamar terbuka perlahan, menampakkan sosok Sutsujin yang sejak pagi sekali memutuskan untuk berjalan-jalan pagi di sekitaran kompleks hotel sendirian.

"Udah disuruh sarapan sama Bang Xo, Ler." ucap Sutsujin. Namun, ia mengernyit ketika mendapati Skylar yang sama sekali tidak menanggapi ucapannya. "Ler! Lo ngga laper?" tanyanya dengan suara yang lebih keras.

Hal itu kemudian membuat Skylar tersadar akan kehadiran Sutsujin, kemudian menggelengkan kepalanya.

"Engga, Thur. Lo mau sarapan?" tanyanya.

Sutsujin melipat tangannya di dada sambil menatap Skylar penuh rasa kesal. "Lo kenapa? Dari semalem lo aneh. Coba cerita." ucap Sutsujin.

Skylar diam sebentar, kemudian menggelengkan kepalanya. Baginya, masalahnya saat ini tidak ada kaitannya dengan tim, jadi seharusnya, ini tidak harus ia ceritakan.

"Ngga ada apa-apa, Thur. Gue cuma lagi cape aja." ucap Skylar, membuat Sutsujin menggelengkan kepalanya.

"Ngga. Lo jelas aneh. Mau secape apapun, lo ngga akan sediem ini." ucapnya. Sutsujin menghela napas. "Sekarang, lo sarapan dulu biar ketemu sama yang lain."

"Gue ngga laper, Ko." ucap Skylar. Sutsujin menatapnya tajam, kemudian berucap dengan ketus.

"Yaudah. Gue juga ngga sarapan kalau gitu." ucap Sutsujin, membuat Skylar merasa tidak enak hati.

Sebelum Sutsujin sampai di tempat tidurnya, Skylar sudah lebih dulu bangkit, mencegah Sutsujin untuk ikut tidak sarapan.

"Yaudah ayo." ucapnya.

Mereka berdua kemudian berjalan menuju breakfast lounge dan menemui rekan-rekan mereka yang lain. Ada yang sudah siap dengan makanan di hadapan, ada pula yang masih mengambil sarapan. Skylar dan Sutsujin berjalan mengambil sarapan mereka, kemudian duduk bersama yang lainnya.

"Enak ini, Lek!" seru Dyren membuka obrolan, kemudian disahuti oleh Rinz.

"Emang kau udah pernah nyobain?" tanya Rinz. Dyren terkekeh kemudian menggelengkan kepalanya.

"Belom sih. Firasat aja." ucap Dyren.

Hazle di tempatnya, mengunyah makanan sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. "Tapi emang enak." ujarnya.

Dyren menepuk-nepuk dadanya dengan bangga. "Firasatku juara!" serunya.

Mereka kemudian melanjutkan sarapan mereka, hingga Dyren kembali membuka pembicaraan. Kali ini, sasarannya adalah Skylar.

"Kau kenapa, Lek? Diam-diam aja daritadi. Ngga biasanya kau." ucap Dyren.

Semua mata kini tertuju pada Skylar. Namun, ucapan Dyren memang ada benarnya. Tak biasanya Skylar menjadi sediam ini. Malah justru biasanya ia bersama Dyren lah yang akan mengganggu anak-anak yang lain.

trust.Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang