“Kalau kita belum bisa mengikhlaskan kepergian seseorang, maka berusahalah untuk menerima apapun takdir yang Tuhan berikan.”
°°°
Segala sesuatu yang sudah menjadi takdir-Nya, sampai kapanpun tidak akan bisa kita ubah. Meksipun rasanya tidak terima bahkan tidak bisa ikhlas terhadap sesuatu yang sudah terjadi. Mungkin Allah punya rencana yang terbaik untuk hamba-nya.
Seperti saat ini, Ning Saffa tengah menatap suami tampannya yang sudah siap dengan setelan jas berwarna putih serta pecinya. Pria itu tengah duduk di hadapan wali dan para saksi. Ya, hari ini Gus Abhizar melaksanakan akad bersama dengan Sakilah, gadis yang beberapa hari lalu memaksa Ning Saffa untuk mengizinkan suaminya menikahi gadis itu.
Dengan segala cara Ning Saffa berusaha untuk ikhlas, namun lagi-lagi hatinya sakit. Air mata itu kembali mengalir membasahi pipinya. Sedang, sang mama tengah mengelus bahu putri kesayangannya. Memberikan kekuatan pada anaknya agar berusaha ikhlas. Harusnya ini tidak akan pernah terjadi. Gus Abhizar sudah berjanji untuk tidak berpoligami, tapi nyatanya Gus Abhizar justru menerima perjodohannya dengan Sakilah.
Seperti yang Ning Saffa dengar beberapa waktu lalu, bahwa Gus Abhizar dijodohkan oleh sang Abi. Dengan rasa keterpaksaan Gus Abhizar menjalani itu. Kini, lelaki berperawakan tinggi dan tegap itu memegang tangan Papa dari Sakilah.
“Sudah siap nak Abhizar?” tanya pak penghulu. Gus Abhizar hanya menganggukkan kepalanya. Sekali lagi ia menatap sang istri yang juga menatapnya. Ada raut kesedihan disana, pasti. Perempuan mana yang tidak sedih melihat suaminya menikah lagi. Dan perempuan mana yang baik-baik saja ketika ia harus rela berbagi suaminya. Nggak ada. Nggak ada perempuan yang baik-baik saja.
“Saya terima nikah dan kawinnya Sakilah Nazma Putri binti bapak Rudy Gautama dengan mas kawin lima puluh juta dan seperangkat alat sholat dibayar tunai!”
Kata ‘sah’ menggema di ruangan tersebut. Ada hati yang patah. Ingin segera berlalu dan menangis sekencang-kencangnya.
Bahkan rasanya Ning Saffa ingin pergi dari hadapan suaminya. Hatinya tercabik-cabik. Rasanya nggak karuan. Campur aduk. Nafasnya tercekat, kala suara lantang yang diucapkan oleh suaminya yang mengucapkan ijab atas nama perempuan lain. Sakit hatinya. Runtuh sudah pertahanan dalam rumah tangganya. Tidak ada lagi sholat satu makmum, sekarang suaminya sudah memiliki dua makmum.
Ning Saffa memeluk erat sang mama, menangis dalam dekapan itu. Saat ini hanya itu yang mampu Ning Saffa lakukan. Semua mata tertuju padanya, umi mertuanya juga sedih melihat keadaan menantunya terpuruk. Rasanya masih tidak terima dengan kenyataannya.
Ia terus menangis sedari tadi. Rasanya ingin berteriak kencang namun lagi-lagi nafasnya tercekat. Ia bahkan tidak bisa bersuara dalam sekejap. Hanya air mata yang berbicara.
“TIDAK!” Ning Saffa akhirnya bisa berteriak kencang, nafasnya memburu, matanya perlahan terbuka. Peluhnya membanjiri kening dan pelipisnya. Ning Saffa baru saja mimpi buruk.
Tidak. Ini hanya mimpi. Ia hanya bermimpi kalau suaminya menikah lagi.
Mendengar jeritan sang istri, Gus Abhizar yang berada di kamar mandi untuk mengambil air wudhu pun lantas buru-buru keluar. Lelaki itu berjalan menuju sang istri yang tengah duduk di kepala ranjang dengan nafas tersengal. Keringat mengucur.
“Astaghfirullah! Adek kenapa? Mimpi buruk yah?” tanya Gus Abhizar.
Ning Saffa hanya mengangguk. Sebab ia masih takut akan mimpi itu. Takut kalau mimpinya menjadi kenyataan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Keikhlasan Cinta {Slow Update}
SpiritualeTentang keikhlasan hati seorang istri yang ingin mendapatkan surga-Nya. Padahal, meraih surga dalam rumah tangga bukan hanya merelakan suami saja. Ada banyak cara untuk meraih surga bersama-sama. Namun, apakah langkah Ning Saffa ini sudah tepat? Dia...
