Bab 23 | Bingung

64 10 2
                                        

"Buka mulutnya sayang."

"Tidak mau."

"Ayo bilang aaa."

"Engg." Bukan suara 'aaa' yang keluar, melainkan 'engg' beserta gelengan.

Terhitung sudah hampir 2 minggu ini tuan muda kesayangan kita tidak nafsu makan. Selain buah dan camilan, ia menolak semua yang masuk ke dalam mulutnya. Sepertinya kini ia berada di fase GTM lagi, alias Gerakan Tutup Mulut.

Memang, terkadang ada waktunya Zayyan akan sulit mau makan. Seperti yang kalian baca di chapter sebelumnya juga.

Namun, ini yang paling parah. Berat badannya sampai turun dalam kurun waktu singkat. Entah apa alasannya, seluruh keluarganya sampai dibuat pusing olehnya.

Biasanya dengan sedikit dibujuk atau dengan ancaman kecil sudah tidak menjadi masalah.

"Ayo makan ya sayang." Yuliana dengan sabar kembali menyuapkan bubur berwarna putih tersebut ke anaknya.

"Sudah kenyang Ma." Ia beralasan, padahal baru tiga suapan.

Yuliana mencoba memasukkan ujung sendok berisikan bubur lembek ke mulut anaknya yang tertutup rapat. Namun, Setiap kali sendok itu mengarah ke bibir, Zayyan langsung menggeleng dan mengalihkan wajahnya ke arah sebaliknya.

Yuliana meletakkan mangkuk bubur di meja yang terhubung pada kursi. Ini salah satu fungsi lain dari kursi ini. Selain untuk menahan orang yang berada di dalamnya, juga bisa untuk meletakkan sesuatu.

"Sayang, apa kamu tahu, kalau bubur ini bisa menangis kalau tidak habis?" Wanita itu mengaduk makanan bertekstur lembut di depannya, berniat membuat trik kecil, guna membujuk.

Zayyan dengan seksama memperhatikan.

"Tapi kan Zayyan sudah makan beberapa, apakah mereka tetap akan menangis?" tanyanya polos.

Ia tidak akan mudah tertipu ya!

"Coba lihat, ini masih banyak tersisa. jika tidak habis, akan terbuang sia-sia dan mereka pasti akan sedih." Yuliana memasang ekspresi sok sedih, sengaja, guna menarik simpati putranya.

"Benarkah?" sepertinya ada benarnya juga.

"Tentu saja, kamu tidak ingin kan mereka menangis, kan?" Yuliana mencoba menyuapkan sesendok bubur lagi. Ia berharap bujukannya berhasil.

Awalnya Zayyan menolak, kepalanya mundur pelan ke belakang, menghindar. Yuliana terus memojokkan, sampai belakang kepala itu menyentuh sandaran.

Karena sudah terpojok dan terpikirkan perkataan mamanya barusan, ia terpaksa membuka mulutnya. Kasihan juga nanti kalau sampai menangis makanannya.

Ya kan?

"Anak pintar," ucap Yuliana sukses memasukkan bubur tersebut ke mulut Zayyan.

Menguyah dua tiga kali, tidak perlu tenaga ekstra mengingat tekstur dari makanan tersebut, memudahkan Zayyan untuk langsung menelannya.

Sisa bubur tampak tertinggal di sekitar bibir, Yuliana membersihkan dengan ujung jari dan melanjutkan acara makannya.

"Lagi sayang."

Setelah tiga suapan berikutnya, Zayyan sudah tidak mau lagi. Masih tersisa banyak di mangkuk. Nah, ini biasanya adalah sisa yang tak termakan.

"Satu lagi ya."

"Sudah Ma, tidak mau." Tolaknya, ingin sekali tangannya menutup mulut, namun terkunci oleh strap di setiap sisinya.

"Ini yang terakhir," ucap Yuliana.

Karena ini yang terakhir, ia dengan patuh membiarkan makanan tersebut kembali mengisi perutnya.

"Satu lagi, ini yang terakhir."

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: 10 hours ago ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

ZAYYAN Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang