Masalah? Setiap orang pasti mempunyai masalah. Begitupun dengan Trio R, tiga saudara kembar yang ingin memperjuangkan cinta nya masing-masing.
Rezvan Edgar Erlangga
Ravindra Edgar Erlangga
Radyta Edgar Erlangga
Ikuti kisah mereka bertiga bagaimana c...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Mama." Gumam Lea.
"Itu mama kan? Lagi ngapain dia disini. Bukan nya dia lagi di luar kota?" Lea berbicara pada dirinya sendiri.
Vania tengah berbicara dengan seorang dokter. Kemudian mereka pergi dari pandangan Lea. Lea bangun dari kursi rodanya. Ia harus memastikan sedang apa mamanya berada disini.
Dengan jalan sedikit tertatih dan pincang Lea mencoba mencari keberadaan mamanya. Namun nihil, ia tidak menemukan. Dalam kondisi seperti ini Lea tidak bisa berjalan cepat apalagi rumah sakit ini begitu luas.
Dalam hati Lea bertanya-tanya. Jika mamanya sudah pulang dari luar kota, kenapa dia tidak mengabari Lea. Apa memang mamanya sudah tidak menganggap Lea sebagai anak nya lagi.
Ada perasaan sakit hati yang Lea rasakan. Ini bukan pertama kali nya Lea di bohongi. Tapi saat ini Lea benar-benar membutuhkan sosok kedua orang tuanya. Dengan keadaan yang tidak baik-baik saja seperti ini. jujur, Lea merindukan orang tua nya.
Lea duduk di bangku yang tersedia. Ia menghapus air matanya yang keluar begitu saja. Sekuat-kuat nya ia mencoba untuk terlihat baik-baik saja nyatanya ia hanya seorang anak manja yang di paksa kuat oleh keadaan.
"Ngapain disini? Gue nyarin lo kemana-mana," Rezvan mengatur nafasnya agar kembali normal.
Saat Rezvan sudah mendapatkan obatnya ia menghampiri Lea, dan betapa paniknya ia hanya melihat kursi roda itu kosong.
Rezvan mencoba mencari Lea kesana kemari dengan berlari. Bukan maksud apa-apa ia hanya khawatir dengan kaki Lea yang belum sembuh. Ia tidak mau di hantui rasa bersalah lebih lama lagi.
Dengan cepat Lea menyeka air matanya. Ia tidak mau Rezvan melihat nya sedang menangis. Walaupun Rezvan memang sudah menyadari itu. Rezvan pun ikut duduk di samping Lea. Mereka berdua terdiam untuk beberapa saat.
"Mana obat nya?" Lea mengeluarkan suaranya.
Rezvan memberikan bungkusan yang berisi beberapa obat untuk Lea minum nanti.
"Udah kan? Ayo balik," Lea menatap Rezvan yang tengah menatapnya juga.
"Lo baik-baik aja?"
Lea terdiam. Tanpa ia duga matanya kembali berkaca-kaca. Untuk saat ini Lea memang sedang tidak baik-baik. Tapi sejak kapan memang ia baik-baik saja?.
Pertanyaan Rezvan sukses membuat air mata Lea keluar dengan sendirinya. Pertanyaan itu jadi begitu sensitif, jika dalam keadaan yang tidak baik-baik saja.
Rezvan jadi merasa bersalah melihat Lea menangis. Ia panik harus bagaimana sekarang. Dalam hati ia mengumpat, ia akan memberikan Dario pelajaran karena sudah menganggu Lea dan membuat kakinya seperti itu.
"Kaki lo sakit ya? Maaf, harusnya lo gak terlibat sama manusia kaya Dario itu."
Rezvan berjongkok di hadapan Lea. Ia mengusap kaki Lea dengan sangat lembut. Lea jelas terkejut dengan perlakuan Rezvan. Dengan cepat ia mangambil tangan Rezvan dan menyuruhnya untuk duduk kembali.