Setelah mengganti pakaian, Rangga menjemput Talisa untuk kembali kerumah Nana. Mereka menunggu Mbak Rida didepan pagar, tak lama Mbak Rida datang bersama dengan suaminya. Mbak Rida membuka gerbang kayu yang tingginya hanya sepinggang. Gerbang itu tidak terkunci, Mas Eko memarkirkan motornya dihalaman rumah begitu juga Rangga, yang ikut memarkirkan motornya di samping motor Mas Eko.
Mbak Rida mengetuk pintu rumah dan memanggil kedua orang tuanya. "Ibu, Bapak. Ini Rida, Rida masuk ya." Setelah mengucapkan kalimat tersebut, Mbak Rida membuka pintu mempersilahkan Talisa dan Rangga untuk masuk.
Gelap dan lembab serta aroma kurang sedap terendus hidung mereka. Foto-foto keluarga mereka masih tersusun rapi di dinding dengan debu-debu dan sarang laba-laba yang mengotorinya. Dengan sigap Mbak Rida mengambil kemoceng untuk membersihkan debu yang menempel di kursi dan meja tamu. Kemudian mempersilahkan Rangga dan Talisa untuk duduk.
Mas Eko turut duduk berhadapan dengan mereka, menunggu Mbak Rida yang sedang memanggil kedua orang tuanya.
"Ibu, ada temennya Nana mau ketemu sama Ibu dan Bapak."
"Temen yang mana?"
"Ya, temen sekolahnya Nana"
"Suruh pulang aja, Nana belum pulang, Nana masih eskul"
"Ya jangan pak, ayo temuin dulu"
Terdengar percakapan mereka dari dalam kamar, tak lama Mbak Rida terlihat berjalan kearah mereka bersama kedua orang tua Nana. Rangga dan Talisa bangkit dari duduknya untuk menyalami kedua orang tua Nana.
"Apa kabar Pakdhe,Budhe" Ucap Rangga
"Baik," Jawab Ibu Nana dengan Ramah
Rangga dan Talisa kembali ketempat duduk mereka, orang tua Nana duduk disebelah Mas Eko sedangkan Mbak Rida mengambil kursi lain dan duduk tak jauh dari mereka.
"Jadi gini bu, mereka ini katanya mau membantu mencari Nana. Makanya mereka kesini." Jelas Mbak Rida
"Iya Budhe, yang Mbak Rida omongin itu benar" Ucap Talisa
"Wes nggak usah, kata Mbah Pur Nana itu sudah meninggal" Kata Bapak Nana. Talisa dan Rangga hanya saling pandang dan serentak memandang Mbak Rida yang tampak sedih.
"Pak, sampean itu kenapa percaya sama omongan Mbah Pur. Bisa aja Nana masih hidup, tapi dia diculik orang."
"Gimana Bapak nggak percaya, orang Mbah Pur sudah membangkitkan arwah Nana untuk membalas dendam kepada orang-orang yang menyakitinya" Jawab Bapak Nana enteng
Lagi-lagi Talisa dan Rangga terkejut bukan main.
"Bisa aja Mbah Pur itu bohongin Bapak." Tak ada jawaban, Bapak hanya diam membisu.
"Eumm.. Kalau misalkan memang benar Nana sudah meninggal,menurut Bapak dia meninggalnya kenapa?" Tanya Talisa.
"Yang pastinya dibunuh lah." Bapak Nana menjawab dengan enteng sembari bersandar di sandaran kursi.
"Yang ngebunuh siapa?"
"Yo gak eruh lah, kalau mau tau. Tanya aja ke Nana."
"Eh tapi kan, Nana udah meninggal ya.." Bapak tertawa kemudian wajahnya berubah jadi murung.
"Jaremu Nana sek eskul, kok mati?!" Ibu bertanya kepada suaminya dengan wajah bingung sekaligus marah. Bapak hanya mengendikkan bahunya dan menggeleng.
Talisa melihat Mbak Rida yang mengusap air matanya saat melihat tingkah kedua orang tuanya.
"Kira-kira, Nana punya musuh nggak bu? Atau ada orang yang nggak suka sama dia?" Ibu tampak berpikir dan menggeleng lalu berkata.
"Nggak ada lah orang anak saya itu cantik, pinter, baik lagi. Nggak mungkin ada orang yang nggak suka sama dia."
"Ada, Monica." sambar Mbak Rida
"Jangan sembarangan ya kalau ngomong. Monica itu sepupu kalian! Keponakan ibu! Nggak mungkin dia benci sama Nana!! " Ibu naik pitam
Menurut Mbak Rida, Papanya selalu membanding-bandingkan Monica dengan Nana. Sebagai seorang anak Mbak Rida menyadari bahwa Monica tidak menyukai hal itu, karena hal tersebut Mbak Rida juga menyadari bahwa Monica tampak membenci Nana. Ibu yang mendengar hal menjadi marah lantaran mengira Mbak Rida menuduh Monica yang sudah membunuh Nana.
"Jangan kurang ajar ya kamu!! Hasan itu sudah baik sama kita, jangan seenaknya kamu nuduh Monica yang membunuh Nana!!"
"Yang nuduh itu siapa bu! Rida cuma bilang, salah satu orang yang nggak suka sama Nana itu Monica!!"
" Sama aja itu kamu nuduh namanya!!"
Sekarang kalian PERGI!!!"
"pergi kalian semua!! " Ibu menunjuk kearah semua orang kecuali Bapak.
Dengan linangan air mata, Mbak Rida keluar menggenggam tangan Talisa menariknya untuk keluar. Setelah semua keluar Ibu membanting pintu dan menguncinya dari dalam.
"Maaf ya Mbak," Talisa memeluk Mbak Rida, dengan perasaan menyesal.
"Aku janji Mbak, bakal menemukan Nana bagaimanapun kondisinya." Ucap Talisa sembari terus memeluk Mbak Rida yang semakin kencang memeluknya.
"Terimakasih.." Hanya kalimat itu yang mampu Mbak Rida ucapkan.
Supaya Ibu dan Bapak tidak tambah terpancing emosi, mereka berempat pun pergi dari rumah itu. Sebelumnya Mbak Rida menyerahkan kartu nama yang berisikan, nama, alamat, dan nomor handphone.
Mereka berpisah, menuju tujuan mereka masing-masing.
"Gue nggak expect akhirnya bakal kayak gini." Ucap Talisa
"Iya, gue tadi juga kaget waktu Ibunya Nana marah-marah nyuruh kita keluar"
"Part yang gue nggak nyangka adalah, kenyataannya yang membuat Nana gentayangan bukan karena arwahnya nggak tenang. Melainkan karena arwahnya sengaja dibangkitkan untuk membalas dendam. Mangkanya arwah Nana lebih agresif dan galak daripada arwah Kia."
"lebih agresif? Emangnya Kia juga gentayangan?"
"Iya, gue rasa itu wajar sih kalau Kia gentayangan. Secara jasadnya belum dikubur secara layak. Lo tau beberapa siswa yang meninggal beberapa waktu terakhir ini. Yang cara meninggalnya hampir sama semua. Jatuh dari ketinggian"
"Rian sama Silvia?"
"Iya, untuk kasus Rian gue tau dan gue yakin itu ulah arwah Nana. Kalau untuk Silvia, gue nggak yakin tapi kayaknya, itu juga ulah Nana. Karena mereka terlibat dalam pembunuhan itu." Talisa bisa melihat ekspresi Rangga, yang tampak benar-benar terkejut dan tak percaya.
"Terus kenapa cuma Nana aja yang 'membunuh' para pelaku? Kenapa Kia nggak melakukan itu juga."
"Gue kan udah bilang, arwah Nana sengaja 'dibangkitkan' untuk membalaskan dendam ke para pelaku."
"Kalau arwah Nana, mungkin hanya bergentayangan karena jasadnya belum dikubur secara layak. Sehingga di belum bisa beristirahat dengan tenang." lanjut Talisa
"Gue paham, eh ya. Nggak mau sekalian ketempat Kia? Mungkin lo butuh informasi atau apapun"
"Kalau lo nggak keberatan, kita kesana."
Rangga bersedia, ia melajukan kuda besinya kearah kediaman Kia. Rumah sederhana yang nampak asri dengan bunga mawar yang tertanam rapi dihalaman rumah. Kondisinya sangat berbanding terbalik dengan kondisi rumah Nana, yang tampak suram dan kotor.
Rangga mengetuk pintu sembari mengucapkan salam. Tak lama, keluar seorang wanita paruh baya dengan wajah yang masih terlihat cantik walau sudah tampak beberapa kerutan di wajahnya.
*
*
*
*
Hi guys(≧∇≦)/
Thankyou yang udah baca, maaf kalau upload nya lama( '・ω・)
Jangan lupa tinggalin jejak kalian dengan klik ⭐
Tulis kritik dan saran di kolom komentar💬
See you next time (☞ ͡ ͡° ͜ ʖ ͡ ͡°)☞
nʎxɹubǝɹʇɐ_ヾ('︶'♡)ノ
YOU ARE READING
Misteri Toilet Sekolah
HorrorHallo guys,,(^▽^) Welcome to my first horror story, Ok, guys sebelum kalian baca ceritanya kalian harus baca ini dulu!!,, Jadi guys, cerita ini menjelaskan tentang perjuangan sahabat untuk mencari penjahat yang membuat sahabatnya memutusk...
