Popularity merupakan cerita yang mengangkat kisah siswa SMA Negeri Pelita Bangsa yang berusaha keras untuk mendapatkan popularitas. Berbagai hal mereka lakukan agar keberadaan mereka dapat terlihat. Mulai dari selalu menjadi bintang kelas bahkan bin...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Gelapnya langit yang terbalut jutaan lintang kini menatap tenang gadis berwajah tegas di pojok balkon. Menyaksikan bagaimana angin malam yang berlalu lalang bahkan diabaikan. Meski sebetulnya, dirinya tengah sekuat tenaga membungkam suara-suara di kepalanya. Yang makin hari makin tak terkendali. Terlebih, kini dia seorang diri.
Leo sudah terlampau jauh darinya. Rea pun begitu. Gadis pecinta bela diri itu kini tengah kembali merasakan cinta untuk yang kedua kalinya. Sementara itu, Livi, dia bahkan tidak tau bagaimana rasanya dicintai. Baginya, memiliki pendengar yang baik saja sudah lebih dari cukup.
Gadis yang orang-orang kira keras, kuat, mandiri, dan serba bisa itu hanyalah topeng yang berhasil Livi ciptaka. Sendiri. Semua itu palsu. Dia hanya tidak tau cara mengekspresikan rasa sedih, rasa sepi, bahkan bahagia pun tidak terlalu. Kecuali saat bersama Leo. Dengan Leo, Livi setidaknya bisa sedikit jujur tentang apa yang dia rasa. Meski tidak semuanya.
Livi menutup buku yang tengah dia baca, lalu menatap langit di atas sana.
"Gue tau, langit ngga bisa ngomong. Tapi seengganya dia bisa denger. Gue cuma pengen ngomong, kalo sebenernya hidup gue sangat-sangat sepi. Orang lain ngira hidup gue sempurna. Dan gue justru kecewa, karena semua anggapan mereka salah. Andaikan gue bisa milih, gue milih buat jadi manusia yang biasa aja. Bisa bareng-bareng sama keluarga dan punya teman-teman yang apa adanya."
Tenggorokan Livi rasanya seperti dicekik. Sangat sakit. Tanpa sadar, air mata yang sudah dia tahan di pelupuk mata itu lolos begitu saja. Livi mendongakkan kepala untuk mencegah air matanya semakin mengalir seiring perasaannya yang tengah tidak baik-baik saja. Dia memutuskan untuk tidur. Bukan karena mengantuk, tapi setidaknya untuk memutus rasa sesak yang menyelimuti dada.
***
"Jadi gimana nih, bos?" tanya Kevin sambil terus mengunyah permen karet di dalam mulutnya.
"Udah, gue bayar aja. Gue kalah," jawab Zavas.
Mendengar itu, semua anak Xander pun saling menatap. Mengapa tiba-tiba Zavas mengalah seperti ini? Zavas adalah tipikal orang yang akan melakukan apa pun untuk meraih apa yang dia mau.
"Ini lo yang kalah atau perasaan lo, nih?" ledek Raka yang langsung dibalas sorakan oleh anak-anak yang lain. Zavas diam.
"Gue cuma ngerasa kalo ini salah. Gue udah bikin persahabatan dua anak yang bahkan kenal sejak kecil itu rusak. Bahkan gue sering liat Livi dihukum yang gue rasa karena pengaruh buruk gue."
"Lah, si kocak. Zavas kenapa tuh? Kesambet?" tanya Kevin dengan wajah bingung. Sementara yang lain, hanya bisa mengedikkan bahu.
"Udah, ngga usah banyak tanya lo pada. Mending kita main basket. Gue yakin di luar sana fans gue udah lama nungguin performance manusia populer ini." Zavas menyugar rambutnya ke belakang dengan rasa percaya diri yang terlalu penuh, hingga luber.
"Nah, akhirnya bos kita udah balik. Jujur gue lebih suka Zavas yang ini. Yang suka tebar pesona sana sini." Raka menepuk bangga bahu Zavas.
"Hidup Xander!" seru Rival dengan mengepalkan satu tangannya.
"Hidup!"
Mereka pun keluar dari gudang yang mereka jadikan sebagai markas, lalu menuju ke arah lapangan.
Empat manusia itu berjalan dengan tegap dan percaya diri. Baju mereka di keluarkan dengan satu tangan yang di masukkan ke dalam saku baju. Bukan. Maksudnya saku celana.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Sesuai ekspektasi, anak-anak perempuan yang melihat mereka pun ternganga. Jika sudah seperti ini, siapa pun akan terpukau melihat visual anak-anak Xander yang tidak tertandingi. Akibatnya, beberapa ada yang tidak sadar menabrak tembok saat berjalan, lutut lemas karena di notice oleh Salah satu dari anak Xander, bahkan ada yang sampai mimisan. Parah memang.
Rea yang tadinya hendak melihat mading sekolah mematung untuk beberapa saat. Entah rasa kagum atau justru sebaliknya, yang jelas ekspresinya menunjukkan pesan tanda tanya.
"Cowok gue cakep juga ya," monolognya tanpa sadar.
Rea menggelengkan kepala dan melanjutkan langkahnya.
Zavas mulai mengambil bola basket. Dia juga mengajak anak kelas lain untuk menjadi lawannya. Tiba-tiba saja lapangan menjadi ramai yang dipenuhi oleh para siswa. Mereka berteriak untuk jagoan masing-masing. Bahkan, menariknya, ada yang sudah membuat yel-yel.
"Hai cantik," sapa Rival pada salah satu siswi yang sedang merekam pertandingan mereka hingga membuatnya berteriak karena salah tingkah.
Sementara itu, Livi menatap dari kejauhan punggung para siswa yang sudah menutupi lapangan itu.
"Cih, ngatain gue gila popularitas. Mereka sendiri tukang caper." Livi tersenyum remeh sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Livi kembali ke kelasnya. Baginya, ini adalah momen yang tepat untuk belajar, di mana manusia-manusia yang gemar membuat keributan itu tengah sibuk dengan kegiatan mereka. Rasanya seperti bisa bernapas lega.
"Li!" pekik Rea saat melihat Livi hendak ke kelas.
Livi menoleh dan mendapati Rea dengan senyum sumringahnya. Rea berlari agar dirinya bisa cepat memberi kabar baik kepada sahabatnya.
"Li, lo harus tau. Leo menang di pemilihan ketua OSIS! Leo menang, Li!" Mata Rea berbinar, bangga.
"Syukurlah, gue seneng. Meskipun gue tau, kalo dia pasti bakal menang." Respon Livi membuat Rea kecewa. Setidaknya pada momen ini harusnya Livi yang paling senang, tapi mengapa dia tidak sesenang itu?
"Lo ngga mau ngucapin selamat, Li?"
"Liat nanti deh."
Livi berlalu, meninggalkan Rea yang masih terheran-heran.
"Livi!" Seseorang memanggil Livi sambil berlari mendekat.