Popularity merupakan cerita yang mengangkat kisah siswa SMA Negeri Pelita Bangsa yang berusaha keras untuk mendapatkan popularitas. Berbagai hal mereka lakukan agar keberadaan mereka dapat terlihat. Mulai dari selalu menjadi bintang kelas bahkan bin...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Livi, apa mimpi yang mau kamu raih saat dewasa nanti, Nak?" tanya Mama Livi sambil mengusap lembut kepala Livi. Livi kecil dapat melihat dengan jelas, bagaimana senyuman hangat itu tercipta. Livi yang tadinya menatap ibunya, kini beralih menatap ke arah jendela. Bibirnya tergerak untuk mengucapkan sebuah kalimat. Tentang sebuah impian besar yang dia genggam. Livi kembali menatap wajah ibunya. Namun, tidak lama, perlahan semua seakan bayangan hitam yang kian memudar. Livi berlari ke sana kemari, mencari semua orang. Oh, tidak. Kini dia seorang diri.
Seketika Livi terbangun dari tidurnya. Jantungnya masih berdegup dengan kencang.
"Mimpi? Mimpi apa yang dimaksud? Mimpi indah atau mimpi buruk?" lirih Livi dengan tatapan lurus ke depan.
Livi yang tubuhnya seakan diikat oleh rasa malas berusaha untuk menarik dirinya dari atas kasur. Di hari Minggu ini, dia harus bangun pagi untuk segera bersiap melihat pertandingan Rea di acara Popda. Dengan mulut yang sesekali menguap, Livi berjalan gontai menuju kamar mandi.
Usai bersiap, Livi mendengar deru motor di depan rumahnya. Livi keluar kamar dan melihat dari balkon, siapa yang terus membunyikan klakson hingga ingin rasanya membawakan seember air untuk mengguyurnya.
"WOY BRISIK!" pekik Livi.
"Buruan, lama amat!" pekik Leo yang kesal karena menunggu Livi sedari tadi. Livi dengan wajah kusutnya menuruni tangga. Mereka kompak mengenakan jaket ala anak motor, karena nantinya mereka akan bergabung dengan anggota Xander. Iya, kalian tidak salah baca. Setelah mengucapkan permintaan maaf, Zavas dan Livi kini berteman baik. Begitupun dengan Leo. Arkan, adek Leo mengatakan, bahwa Zavas tidak seperti yang Leo bayangkan. Zavas hanya menyebalkan karena dia kesepian. Sebagai anak sulung, Zavas tidak pernah mendapatkan apresiasi dan kepercayaan oleh orang tuanya. Hal itu menyebalkan Zavas berontak dengan menjadi anak geng motor.
Livi yang tadinya hendak membawa motor sendiri Leo larang dengan alasan ingin menikmati masa-masa sebelum dirinya berangkat ke Korea.
Pada dasarnya, manusia acapkali tidak menyadari bahwa waktu yang mereka miliki sangatlah berarti dan sangat disayangkan jika tidak dimanfaatkan dengan baik. Sebagian orang terpaksa bersahabat dengan rasa sesal ketika alarm berdering sebagai tanda perpisahan. Memaksa, menarik diri dari berbagai hal yang .... disukai.
Kali ini, Livi membuang rasa gengsi yang selama ini membalut dirinya. Tiba-tiba saja tangannya bergerak memeluk Leo. Sementara Leo, tentu saja dia terkejut. Namun, dia bersyukur. Karena setidaknya keduanya sudah kembali menjadi dua orang sahabat baik. Dengan tetap menjaga fokusnya dalam mengendarai sepeda motornya, Leo mengusap halus tangan Livi.
Tolong tetep di sini, Le.
***
SMA Pelita Bangsa kini tengah dipenuhi oleh sorak-sorak ramai yang bersemangat menyambut POPDA. Sebuah ajang perlombaan untuk berbagai lomba. Salah satu yang namanya tercantum dalam list data peserta lomba adalah Rea dalam kategori beladiri.