Popularity merupakan cerita yang mengangkat kisah siswa SMA Negeri Pelita Bangsa yang berusaha keras untuk mendapatkan popularitas. Berbagai hal mereka lakukan agar keberadaan mereka dapat terlihat. Mulai dari selalu menjadi bintang kelas bahkan bin...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Beberapa hari pasca ujian, kini semua anak tengah mengikuti class meeting sembari menunggu nilai. Namun, berbeda dengan Livi, Dirga, dan Jeysen yang kini justru tengah disibukkan untuk persiapan lomba debat Bahasa Indonesia wilayah Jabodetabek. Pemilihan peserta lomba berdasarkan nilai Bahasa Indonesia tertinggi dalam dua semester terakhir. Ketiganya kini sedang berdiskusi mengenai materi yang menjadi prioritas mereka untuk dipelajari sekaligus strategi dalam melakukan debat.
Livi benar-benar serius menyibukkan diri demi bisa mengalihkan pikirannya dari Leo. Dia bahkan mulai mendaftar ke beberapa komunitas, salah satunya komunitas Jakarta Party Book, sebuah komunitas pecintas buku yang aktif mengkampanyekan pentingnya membaca buku dengan strategi mereka yang dibuat menyenangkan sehingga tidak membuat para pembaca jenuh.
Persiapan lomba yang singkat membuat ketiga anak itu merasa tergesa-gesa. Sebetulnya bukan salah sekolah, karena informasi ini sengaja diberitahukan mendadak oleh penyelenggara untuk melihat seberapa jauh pemahaman mereka pada topik yang akan disampaikan.
Setelah persiapan yang kurang lebih dua Minggu, mereka bertiga berangkat menuju lokasi lomba dengan didampingi seorang guru. Sebelum naik ke atas panggung, mereka berdoa terlebih dahulu, lalu saling memberikan semangat ke satu sama lain dan percaya pada usaha yang telah mereka kerahkan. Apapun hasilnya nanti, mereka akan terima.
Kini lomba tengah berlangsung dengan Livi sebagai pembicara pertama, Dirga pembicara kedua, dan Jeysen sebagai pembicara ketiga. Mereka kompak bekerja sama dan saling menolong agar bisa memberikan argumen dan tanggapan sebaik mungkin.
"Menanggapi apa yang telah disampaikan oleh tim kontra, yang menyatakan bahwa kendaraan listrik belum terjangkau dan infrastrukturnya belum memadai, kami tidak menampik bahwa hal itu adalah tantangan. Namun, justru dengan adanya kebijakan wajib, pemerintah dapat mempercepat pengembangan infrastruktur dan menurunkan harga melalui subsidi serta insentif," ucap Livi dengan sekali tarikan napas.
"Interupsi?" ucap salah satu peserta dari tim kontra.
"Maaf, interupsi saya tolak. Mohon disampaikan saat sesi bantahan," jawab Livi sambil berusaha menjaga fokusnya.
"Seperti yang saya sampaikan, ini bukan soal bisa atau tidak, tapi soal kemauan untuk berubah. Negara-negara seperti Norwegia dan Belanda sudah membuktikan bahwa kebijakan serupa bisa berhasil. Jadi, alih-alih menunggu kesiapan yang ideal, kewajiban ini justru akan mendorong inovasi dan mempercepat terbentuknya ekosistem kendaraan listrik di Indonesia." Livi mengakhiri kalimatnya dengan menghela napas lega.
Kini tengah masuk sesi penjurian dan tim dari SMA Pelita Bangsa berhasil meraih juara satu. Mereka berteriak bangga, saling memeluk satu sama lain. Livi mengepalkan tangan, lalu meninjunya ke udara sebagai tanda penuh kebahagiaan.
"Thank you guys kerja samanya. Ini semua karena kerja keras kita, kerja keras guru-guru juga. We did it, guys!"
Kini mereka berada di sebuah rumah makan untuk merayakan kemenangan mereka. Mereka saling bercerita mengenai tantangan masing-masing sekaligus bagaimana tim lawan yang tidak kalah ambisius.
"Gila sih, kita hampir aja ketinggalan poin kalo tadi di argumen terakhir data kita kurang valid," ucap Jeysen dengan heboh.
Dirga mengangkat sebuah gelas ke udara yang diikuti oleh kedua temannya.
"Cheers!"
***
Pagi ini Livi izin tidak masuk sekolah dikarenakan kepalanya terasa sangat sakit bahkan meskipun sudah meminum obat. Sepertinya tubuhnya mulai merespon pada hal-hal yang sudah dia lakukan akhir-akhir ini, yaitu belajar tiada henti. Mulai dari belajar persiapan ujian, hingga persiapan lomba debat. Livi sudah tidak bisa membohongi diri bahwa dia tidak baik-baik saja. Akhirnya dia memutuskan untuk izin beristirahat satu hari.
"Ini kenapa ngga sembuh-sembuh, sih? Biasanya juga abis minum obat langsung sembuh." Livi meletakkan punggung tangannya ke arah jidatnya dan terasa sedikit panas.
Tidak hanya sakit kepala dan panas, tiba-tiba tubuh Livi jadi menggigil. Livi menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya. Dia berusaha memejamkan mata, tanpa persetujuannya buliran air mata lolos begitu saja. Sepertinya sangat sakit.
Livi tertidur.
Sementara itu, di tempat lain Rea merasa cemas karena tidak biasanya Livi izin sekolah.
"Woi Re, temen lo ke mana? Tumben amat tuh anak. Biasanya juga hujan badai angin ribut tetep diterabas, tuh," tanya Zavas yang merasa aneh karena Livi tidak tampak.
"Bener tuh, takutnya ada sesuatu." Rio turut menimpali.
"Ini gue juga lagi tanya, tapi HP nya ngga aktif." Rea masih berusaha menghubungi Livi, tetapi tidak terhubung.
"Sakit kali. Efek kecanduan belajar," ucap Kelvin menduga-duga. Raka lalu mengusap wajah Kelvin agar hati-hati membicarakan Livi di depan Rea jika tidak ingin mendapatkan serangan dadakan dari cewek itu.
"Coba nanti gue ke rumahnya deh." Rea menyerah. Dia berusaha berpositif thinking meskipun sulit.
Livi terbangun dengan jam yang sudah menunjukkan pukul dua siang. Perutnya keroncongan karena hanya sarapan selembar roti tanpa selai pagi tadi. Dirinya yang sudah tidak sanggup membeli makan memutuskan untuk order di toko oren.
Livi bangkit dari tempat tidurnya dan menyadari bahwa kepalanya sudah membaik, hanya tinggal sedikit pusing tetapi sudah jauh lebih baik. Dirinya duduk di depan meja belajar sambil memandangi area luar yang terlihat sangat cerah.
"Kangen keliling Jakarta sama Leo," monolog Livi tiba-tiba. Sontak dia menepuk pipinya untuk menyadarkan diri. Dia pergi mandi agar tubuhnya lebih segar.
Usai mandi, rupanya makanan sudah datang dari tadi dan digantungkan di gagang pintu gerbang. Livi segera mengambilnya. Saat hendak membuka gerbang, muncul Rea secara tiba-tiba dengan wajah panik.
Livi membuka gerbang dan membiarkan Rea memarkirkan motornya di pekarangan rumah.
"Li, lo sakit?" Rea menodong Livi dengan pertanyaan yang terus muncul di kepalanya.
"Cuma sakit kepala, kok. Cuman emang tadi pagi ngga sembuh-sembuh, jadi gue izin hari ini."
Rea mengekori Livi naik ke lantai dua hingga masuk ke kamar Livi.
"Lo tuh ya, gue call dari pagi ngga diangkat. Bikin panik tau ngga?"
"Sorry, gue setiap liat HP bawaannya makin pusing. Makanya gue dari pagi ngga buka HP, sumpah, Re."
"Lo pasti belom makan, 'kan? Nih, gue beli dua tadi. Satu buat lo aja."
Rea meraih sebuah ayam geprek yang sebetulnya dari tadi aromanya sangat menggoda.
"Lo sengaja beli dua karena tau gue bakal ke sini?"
"Dih, pede banget lo. Gue beli dua biar bisa dapet ongkir, ya."
"Oh, kirain." Rea memasukkan sesuap nasi lengkap dengan lalapan dan ayam ke dalam mulutnya.
"Gimana tadi di sekolah?"
"Ngga gimana-gimana. Cuman tadi pada nanyain lo, tumben ngga masuk. Biasanya juga apapun tantangannya tetep lo trabas." Mulut Rea kini terlihat sangat penuh. Memang tidak tahu malu. Bukannya membawakan makan untuk orang sakit, justru sebaliknya.
"Btw congrats ya buat juara satu lo. Keren sumpah," ucap Rea.
"Thanks. Gue bersyukur banget bisa dapet kepercayaan dari sekolah lagi dan bawa kemenangan buat mereka. Gue berhasil ngebuktiin kalo gue bisa."
"Lo bisa, selalu bisa. Mungkin nilai lo pernah turun, dan itu wajar. Lo ngga harus selalu paling atas, Li. Adakalanya lo harus tau rasanya jadi cewek biasa aja biar hidup lo lebih seru."
"Iya, Re. Gue udah pernah ngerasain. Emang seru dan kaya ngga punya beban. Tapi justru gue ngecewain beberapa orang, termasuk diri gue sendiri."