Epilog

44 4 0
                                        

SMA Pelita Bangsa

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

SMA Pelita Bangsa. Sekolah yang menjadi saksi bagaimana anak-anak saling beradu menjadi nomor satu. Saling bersaing mendapatkan gelar dan pengakuan demi sebuah kepopuleran. Sekolah yang menjadi saksi bagaimana sebagian dari anak-anak itu harus merangkak untuk bisa bertahan dari tekanan yang datang dari berbagai arah.

Seringkali orang lain tidak peduli pada seberapa besar usahamu dalam memahami materi, dalam mengerjakan soal ujian, atau bahkan sampai rela begadang sepanjang malam. Selagi nilaimu di bawah sembilan, maka kamu gagal.

Tahun demi tahun telah dilalui. Masa bermain mereka hanya berhenti sampai kelas dua. Selama kelas tiga, di antara mereka tidak sempat menghabiskan waktu bersama. Semua sibuk dengan tujuan masing-masing hingga tidak menyadari bahwa waktu berjalan dengan begitu cepat. Seakan dalam satu hari tidak sampai dua puluh empat jam. Dan kini, chapter terakhir dari semua perjuangan yang telah ditempuh telah tiba.

Livi menghela napas. Semua belum usai, karena pertarungan akan kembali di mulai. Iya, tidak ada yang benar-benar usai. Dia hanya akan berpindah tempat saja. Selebihnya masih dengan prinsip yang sama.

'Dalam hidup, hanya mengenal satu juara. Selebihnya kalah.'

Kini semua tengah sibuk mengambil gambar. Mengabadikan momen sekaligus merayakan setiap keberhasilan dalam yang telah mereka raih. Di bawah pohon rindang, mata Livi seakan kamera yang sedang menangkap gambar semua orang. Memasukkannya ke dalam memori seraya membuka memori lama di hari lalu. Hari pertama menginjakkan kaki di sekolah ini. Semua mendadak saling berebut untuk dikenang kembali.

"Li!" pekik Leo. Cowok itu berlari kecil dengan bucket bunga di tangannya.

"Happy graduation, Li." Leo menyerahkan bucket bunga itu yang langsung diterima dengan seneng hati oleh Livi.

"Thanks, Le. Happy graduation juga, ya. Makasih untuk semuanya."

"Gue bersyukur, Li

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Gue bersyukur, Li. Karena gue bisa ngelewatin masa putih abu-abu ini sama Lo. Masa-masa yang katanya paling indah."

"Gue pikir, di SMA bakal ngebosenin karena cuma lari ngejar nilai. Ternyata lebih asik dari itu."

Saat tengah berbincang, Rea berlari di antara kerumunan dan menghampiri keduanya.

"Woy! Ayok foto bareng!" teriak Rea. Benar. Mereka belum foto bersama. Momen langka ini tidak boleh dilewatkan dengan sia-sia.

Selesai mengambil foto dengan orang tua masing-masing, mereka menghabiskan waktu untuk foto bersama sebelum saling berpisah dengan tujuan masing-masing. Akhirnya setelah sekian lama, baik orang tua Livi maupun Leo kembali ke tanah air. Meskipun hanya sebentar. Orang tua Leo kembali ke London malam ini, sementara orang tua Livi lusa. Sangat sibuk. Namun, di tengah kesibukkan itu, muncul celetukkan bahwa orang tua mereka setuju dengan hubungan Livi dan Leo. Bahkan orang tua Livi sudah lama menganggap Leo sebagai anaknya sendiri. Hal ini membuat keduanya tersipu.

"Li, lo jangan pernah lupain gue, ya," ucap Rea dengan berusaha tetap cool.

"Iya, lo baik-baik di sini. Gue ngga bakalan lupain lo, kok."

Pertemanan Rea dan Livi bisa dibilang tidak lebay. Keduanya selalu saling ada saat membutuhkan. Tidak ada pertiakaian serius layaknya anak-anak perempuan pada umumnya di antara mereka. Keduanya saling peduli dengan porsi yang cukup. Bukan karena tidak dekat atau bagaimana, tapi itulah ciri khas pertemanan mereka yang membuat langgeng tanpa drama.

Rea dan anak-anak Xander memutuskan melanjutkan ke Institut Teknologi Bandung, sementara Livi diterima di 26 universitas ternama dan Leo diterima di 28 universitas Indonesia dan luar negeri. Keduanya memutuskan mengambil universitas dan jurusan yang sama, yaitu Ilmu Komputer di Massachusetts Institute of Technology (MIT).

"Awas ya kalo kalian sampe putus, gue uber kalian ke AS. Gue sebagai saksi drama kalian ngga ikhlas kalo kalian sampe putus," oceh Rea sambil memandangi Leo dan Livi secara bergantian. Livi memeluk bahu Rea sambil tertawa.

"Iya, Rea, iya."

Seorang fotografer telah selesai mengatur lensa kamera dan mulai menghitung mundur.

"3, 2, 1."

END

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

END

Popularity (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang