Popularity merupakan cerita yang mengangkat kisah siswa SMA Negeri Pelita Bangsa yang berusaha keras untuk mendapatkan popularitas. Berbagai hal mereka lakukan agar keberadaan mereka dapat terlihat. Mulai dari selalu menjadi bintang kelas bahkan bin...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Deru motor terdengar memasuki area sekolah menuju ke tempat parkir. Baru saja tiba, telinga Leo merasa terganggu dengan suara para siswi yang terpesona dengannya. Tidak jarang, mereka juga menanyakan terkait berita kedekatannya dengan Zara, yang saat ini sedang ramai diperbincangkan. Leo enggan menanggapi. Tidak lama setelahnya, Livi pun tiba. Livi parkir tepat di samping motor Leo.
Livi terlihat sangat memukau dengan motor besarnya. Melihat Livi saat ini ingin sekali rasanya Leo menarik cewek itu dan menegurnya agar cewek itu bisa kembali menjadi Livi yang sebelumnya dia kenal. Melihat sorot mata Livi yang tidak bersahabat, anak-anak itu pun tidak ada yang berani memberinya pertanyaan. Mereka hanya saling berbisik seraya mengamati bagaimana interaksi Livi dengan Leo saat ini.
Dalam benak Leo, tidak pernah terpikir sama sekali bahwa keduanya akan seasing ini. Rasanya sangat aneh. Leo akhirnya tersadar dari lamunannya saat Livi melintas ke arah belakang motornya dan meninggalkannya begitu saja. Hal itu membuat Leo tersenyum kecut.
Dari arah yang berlawanan, Rea melambaikan tangan ke Livi sambil memamerkan deretan giginya.
"Li, itu bukannya Leo?" tanya Rea basa-basi. Padahal sudah tampak jelas jika cowok itu adalah calon ketua OSIS yang merupakan primadona gadis SMAPSA.
"Ngga penting," dusta Livi. Bohong jika Livi tidak merindukan tetangganya itu. Namun, Livi harus bagaimana? Apakah dia harus mendadak akrab kembali dengannya dan melupakan semua hal yang terjadi? Bukankan ini akan lebih aneh?
Rea hanya mengembuskan napasnya. Dia tahu betul bagaimana karakter Livi yang gengsi setengah mati. Mana mungkin dia akan menyapa Leo terlebih dahulu?
"Eh, Li, lo udah tau gos ...."
"Udah." Livi memotong ucapan Rea. Pasti anak itu akan membahas gosip panas tentang kedekatan Leo dengan Zara.
"Terus gimana tanggepan lo?" Rea menarik turunkan alisnya, menggoda Livi.
"Ngga menarik. Ngga peduli. Bukan urusan gue." Livi terus berjalan dengan angkuhnya sampai akhirnya mereka sampai di depan kelas.
Baru saja sampai, Livi sudah dikejutkan dengan 5 kardus susu kotak di atas mejanya. Tidak hanya Livi, kini Rea pun membulatkan matanya tidak percaya pada pemandangan di hadapannya.
"Gimana, gue keren, 'kan?" Suara itu muncul dari arah belakang Livi, membuat gadis itu merinding mendengarnya.
"What are you doing? Are you nuts, huh?" semprot Livi. Kali ini Zavas sudah benar-benar gila. Setelah penolakan satu kotak susu, kini kembali dengan Kali kardus sekaligus.
"Itu bukan buat lo, tapi buat ... buat ... buat satu kelas. Gue kan sebagai temen yang baik Dan ngga pelit, jadi gue pengen berbagi aja. Kenapa? Ngga suka?" jawab Zavas dengan kalimat dustanya. Padahal jelas-jelas dia ingin mencari perhatian Livi.
Livi masih tidak habis pikir. Dia bersidekap di depan dada sambil menaikkan satu alisnya menatap Zavas.
"Lo masih ngga percaya kalo gue sedermawan itu? Meskipun tampilan gue sekeren ini, gue juga punya hati yang baik ya." Zavas lalu mengamati sekitar, mencari keberadaan seseorang.
"Nah, lo! Jeyseeen!" pekik Zavas.
"Huwuw!" sahut semua anak Xander dan langsung diikuti dengan tawa yang memenuhi ruangan.
Zavas terus meminta Jeysen untuk menghampirinya. Dengan setengah malas, ketua kelas itu menghampir Zavas.
"Tolong bagiin semua susu ini buat anak kelas ini," perintah Zavas. Jeysen yang sebenarnya tidak paham dengan situasi ini hanya bisa menuruti agar drama ini segera usai.
Setelah semua anak mendapatkan susu, Zavas Dan gengnya pun keluar kelas. Bolos.
"Ngga jelas," monolog Livi.
Di tempat lain, Leo duduk di ujung kursi kantin seraya mengamati ponselnya. Tampak jelas tertulis nama anonim yang mengirimkan berita kedekatannya dengan Zara. Berita itu lantas menutupi huru-hara mengenai Zavas dan Livi.
"Seengganya lo aman, Li," monolog Leo.
***
Hidup selalu memberikan berbagai hal yang bisa dipelajari. Entah itu bersumber dari hal yang menurut kita baik, pun sebaliknya. Jika direnungkan, entah mengapa rasanya konyol. Bagaimana sebuah gelas bisa pecah begitu saja. Tentu saja selalu ada penyebabnya, tetapi terkadang tidak tampak jelas, sehingga menimbulkan kebingungan.
Itulah yang saat ini tengah Leo pikirkan. Rupanya sebuah persahabatan yang sudah dijalani sejak kecil pun bisa hancur begitu saja. Rasanya aneh. Namun, bagaimana? Dirinya sudah mencoba berbicara dengan Livi. Namun, gadis keras kepala itu tetap pada pendiriannya. Leo hanya bisa mengawasinya Dari jauh, memastikan Livi baik-baik saja.
Leo beranjak dari duduknya dan berniat menuju ke ruang kelas. Namun, langkahnya terhenti karena tiba-tiba Zara menghampirinya dengan napas yang masih terengah-engah.
"Zar, lo kenapa? Ada masalah di kelas?" tanya Leo panik sembari menepuk bahu Zara perlahan.
"Lo - lo udah liat thread di akun sekolah?"
"Udah," jawab Leo singkat.
"Terus gimana? Beritanya udah nyebar sampe satu sekolah. Apalagi kita masih masa pencalonan ketua OSIS."
"Ngga papa Zar, berita kaya gitu biasa kalo menjelang pergantian organisasi gini. Paling orang nyari sensasi doang. Udah, ngga usah dipikirin," ujar Leo menenangkan Zara.
"Oh, syukur deh. Gue takut bakal berimbas di kita. Ya udah gue balik kelas." Zara berniat kembali kelas, tiba-tiba dia tidak sengaja menginjak tali sepatunya sendiri dan hampir jatuh. Untung saja dengan sigap Leo menangkap Zara sehingga hal itu bisa dihindari. Tanpa diduga, dari kejauhan Livi melihat adegan tersebut dan semakin menimbulkan kesalahpahaman di antara keduanya.
Zara kembali melanjutkan langkahnya kembali ke kelas, sedangkan Leo berjalan ke arah perpustakaan untuk mengambil beberapa buku.
Leo menuju ke rak buku bahasa, sesuai jadwal pembelajaran hari ini. Usai mengambil buku yang dia cari, netranya tidak sengaja menangkap seseorang tengah berusaha mengambil buku yang sepertinya sulit untuk dijangkau. Tanpa ragu, Leo segera membantunya. Livi yang kaget dan tidak tahu bahwa seseorang yang membantunya adalah Leo, dia segera berbalik. Untuk beberapa saat, keduanya saling menatap dengan tatapan yang dalam. Namun, Livi memutuskannya terlebih dahulu. Melihat posisi keduanya yang sedikit canggung, Livi segera menggeser tubuhnya. Leo menyerahkan buku tersebut.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Thanks." Livi membuang pandangannya asal, berusaha menghindari tatapan Leo. Leo mengangguk, tersenyum. Baik Livi maupun Leo, keduanya bungkam, hingga Livi melangkah pergi menuju petugas perpustakaan untuk melaporkan buku yang dia pinjam.
Leo masih setia mengamati gerak-gerik Livi. Dapat dia lihat, bahwa sahabatnya bahkan kini tidak nyaman berada di dekatnya.