Popularity merupakan cerita yang mengangkat kisah siswa SMA Negeri Pelita Bangsa yang berusaha keras untuk mendapatkan popularitas. Berbagai hal mereka lakukan agar keberadaan mereka dapat terlihat. Mulai dari selalu menjadi bintang kelas bahkan bin...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Rumitnya alur hidup seringkali membuat kita pada akhirnya memilih untuk membiarkan diri terbawa arus mengalir begitu saja. Hingga kita tersadar bahwa kita telah menjauh dari berbagai hal. Sangat jauh, hingga sulit untuk kembali ke titik awal.
Makin hari, Livi dikabarkan makin dekat dengan Zavas. Sementara itu, hari yang dinantikan akhirnya tiba, yaitu pemilihan ketua OSIS. Leo sedang bersiap dengan Zara menuju ke lapangan utama.
Eh, udah tau belom kalo Livi lagideket sama Zavas Kata gue mah mereka backstreet si Iya, orang nempelmulu di Zavas
Samar-samar Leo dapat mendengar berbagai isu yang sedang cukup ramai diperbincangkan. Bagaimana tidak? Anak SMAPSA nomor 1 di sekolah dikabarkan sedang dekat dengan ketua geng Xander. Leo mencoba mengabaikan itu semua. Dia tidak ingin usahanya selama ini sia-sia.
Kali ini, tiba saatnya Leo menyampaikan visi dan misinya di depan seluruh warga sekolah. Dirinya tampak gagah dan percaya diri. Hingga tiba saatnya dirinya dan Zara untuk melakukan debat dengan para kandidat lain, juga menjawab berbagai pertanyaan Dari para siswa dan guru. Tidak terasa, kegiatan sudah berjalan selama hampir dua jam. Kegiatan pun selesai dan mereka harus menunggu hingga hasil pemungutan suara selesai dihitung.
Usai acara tersebut, Leo bisa bernapas lega. Namun, pikirannya berkecamuk. Dia memikirkan perkataan anak-anak tadi mengenai Livi dan Zavas. Bahkan Livi tidak tampak saat acara pemilihan ketua OSIS tadi.
"Li, ini semua bener?" monolog Leo.
Meskipun dengan hari yang sedikit kacau, dia tetap berusaha terlihat baik-baik saja. Bagaimana pun, saat ini dirinya adalah pusat perhatian bagi anak-anak sekolah. Yang segala ucap dan sikap harus diperhatikan baik-baik.
Saat tengah berjalan menuju kelas, dirinya tanpa sengaja berpapasan dengan Rea.
"Leo .... Gila lo keren banget sih, tadi. Gue yakin lo bakal kepilih jadi ketos tahun ini. Percaya gue mah!" ucap Rea dengan semangat dan bangga.
"Hah, thanks, Re. Btw Livi di mana? Gue kayaknya tadi ngga liat dia deh di lapangan." Leo memberanikan diri untuk bertanya pada Rea.
"Ceileh, lapangan segede itu mana bisa lo liat Livi, Le," ucap Rea sedikit panik. Karena nyatanya, Livi memang tidak hadir di acara tersebut. Livi mendapat hukuman mencuci toilet putri karena lupa tidak mengerjakan tugas.
"Iya juga, ya." Leo menganggukkan kepala dengan mata yang menatap ke atas, berpikir.
"Eh, soal kabar Livi deket sama Zavas ...." Leo sengaja menggantungkan kalimatnya. Dia yakin Rea paham maksud pertanyaan Leo.
"I-itu ... Iya, Le. Livi emang lagi deket sama Zavas. Gue udah coba bujuk Livi buat maafin lo. Tapi lo Tau sendiri kan kerasnya dia gimana?"