Bab 31 | Apa Kabar, Li?

22 3 0
                                        

Suasana kelas kini terlihat begitu tenang dengan pemandangan yang menyenangkan

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Suasana kelas kini terlihat begitu tenang dengan pemandangan yang menyenangkan. Bagaimana tidak? Semua anak tampak serius mengerjakan tugas yang guru berikan, tidak terkecuali Zavas dan anggotanya. Setelah satu jam yang lalu guru datang membawa kabar yang menggemparkan, karena tiba-tiba ada ulangan harian sebagai persiapan UAS bulan depan.

Di bangku paling belakang, ada Rio dan Kelvin yang sepertinya sangat gelisah akibat rentetan soal. Waktu tersisa setengah jam lagi dan mereka baru menyelesaikan tujuh belas soal dari empat puluh lima soal.

Sementara itu, Livi dan Rea di kepala mereka seakan ada api yang menyala. Tangan Livi tidak berhenti menuliskan angka-angka di atas kertas. Ambisinya tinggi, dia harus mendapatkan nilai tertinggi. Kali ini dia berjanji pada dirinya sendiri, bahwa dia akan mengembalikan nilai yang sebelumnya menurun. Di depannya, ada Zavas yang terlihat tenang dengan hanya mengandalkan logika. Bahkan kertasnya kosong tanpa coretan, seakan jawabannya bisa dengan mudah dia ketahui.

Waktu tersisa lima belas menit. Rio dan Kelvin mendadak mendapatkan pencerahan karena mampu mengingat beberapa rumus untuk menjawab soal di hadapannya. Memang, terkadang otak akan bekerja maksimal saat sudah merasa terdesak.

Bel sekolah berbunyi tanda waktunya pulang sekaligus mengakhiri waktu ulangan harian. Guru meminta mereka untuk mengangkat tangan dan dilarang ada yang masih mengerjakan. Guru meminta Jeysen untuk mengambil semua soal dan lembar jawaban. Livi mengembuskan napas lega karena berhasil menyelesaikan jawabannya tepat waktu.

Sepulang sekolah, Rea mengajak Livi mampir ke mal untuk sejenak melepas stres karena pembantaian tadi. Livi awalnya hendak menolak, tetapi Rea berjanji bahwa mereka tidak akan lama. Mereka pun pergi bersama, kali ini Rea yang mengemudikan mobil Livi. Tujuan utama mereka adalah Timezone untuk memainkan beberapa game. Rupanya, Livi tidak hanya berambisi pada mata pelajaran, tetapi pada apapun yang berkaitan dengan persaingan.

"Come on, Li! Kali ini biarin gue menang dari lo," pinta Rea sambil tidak berhenti menekan tombol.

"Just in your dreams," jawab Livi singkat agar fokusnya tidak terpecah.

Dan yang terakhir, mereka memainkan Whack N Win. Permainan ini mengharuskan pemain menggerakan petunjuk hadiah dengan cara memukul. Kamu harus memukulnya dengan sempurna untuk mendapatkan jackpot senilai 2250 tiket. Kali ini Rea mendapatkan poin yang lebih besar dari Livi. Ini adalah keahliannya.

"Huh, akhirnya gue bisa lampiasin semuanya di sini. Gue kaya hampir gila tadi. Thanks Li udah nemenin gue," ucap Rea dengan senyum sumringah.

"Ngga usah ge'er. Gue ke sini bukan karena lo, tapi karena diri gue sendiri." Livi berjalan mendahului Rea sambil melipat kedua tangannya di depan dada.

"Iya deh, si paling gengsi," sindir Rea yang tidak mendapatkan respon dari Livi.

Mereka pun pulang. Namun, sebelum itu, Livi harus mengantarkan Rea terlebih dahulu ke sekolah untuk mengambil motor gadis itu. Setelahnya, mereka berpisah di sebuah persimpangan.

Popularity (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang