Popularity merupakan cerita yang mengangkat kisah siswa SMA Negeri Pelita Bangsa yang berusaha keras untuk mendapatkan popularitas. Berbagai hal mereka lakukan agar keberadaan mereka dapat terlihat. Mulai dari selalu menjadi bintang kelas bahkan bin...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Deru mobil memasuki lingkungan sekolah. Bersamaan dengan bel masuk yang berbunyi. Leo dan Livi bukannya kesiangan, hanya saja lelaki itu sengaja mengendarai mobil dengan pelan agar Livi tetap nyaman. Leo tidak yakin jika Livi sudah sembuh betul. Namun, siapa yang bisa menahan Livi untuk tidak datang ke sekolah? Jadi hanya ini yang bisa Leo lakukan untuk menjaganya tetap aman.
Livi menekuk wajahnya lantaran setelah ini dia harus sedikit berlari ke kelas. Ini semua karena Leo.
"Lo tuh lagi latian mobil apa gimana, sih? Bawanya lelet banget. Kan kita jadi telat. Untung gerbangnya masih dibuka. Kalo sampe udah ditutup, gue bakalan marah satu bulan sama lo. Ngerti?!"
"Sorry, Li. Gue cuma takut lo belom sembuh beneran. Makanya gue bawa mobilnya pelan. Udah yok, buruan ke kelas. Gue anter lo dulu." Livi menghentakkan kakinya dan berjalan meninggalkan Leo.
Tidak lama setelah Livi dan Leo menuju ke ruang kelas, Zavas dan anggotanya tampak memasuki gerbang sekolah dan segera memarkirkan motor mereka. Berbeda dengan Leo dan Livi yang sampai bertengkar perkara bel yang sudah berbunyi, Zavas tidak peduli sama sekali. Karena jika gerbang sudah ditutup, dia akan berteriak kepada satpam untuk membukakannya gerbang atau dia akan mendobraknya.
Di lain tempat, Leo yang sudah mengantarkan Livi berjalan ke guru untuk mengambil buku tugas anak-anak kelasnya yang dikumpulkan beberapa hari lalu.
"Leo," sapa salah satu guru yang merupakan pembina OSIS.
"Iya, Pak Raden."
"Sebentar lagi ada masa pergantian anggota OSIS. Kamu ngga mau coba mengajukan diri jadi ketua OSIS?"
"Oh, mengenai itu masih saya pertimbangkan pak."
"Iya, kamu pertimbangkan baik-baik ya. Jadi ketua OSIS tuh punya banyak manfaat. Salah satunya kamu jadi punya privilege kalo kamu daftar di universitas impian kamu."
Mendengar itu, Leo berpikir sejenak. Benar juga. Menjadi ketua OSIS selain membuat namanya semakin dikenal baik, juga bisa privilege yang bagus.
"Baik pak, terima kasih atas informasinya. Kalo begitu saya permisi dulu ya pak."
Keluar dari ruang guru, Leo berpapasan dengan Zavas dan teman-temannya yang baru akan masuk ke kelas. Zavas mengambil kesempatan ini untuk mencari keributan. Mulai dari kata-kata, hingga sikapnya yang membuat Leo ingin naik pitam. Namun, dia harus bersabar. Bisa-bisa nama baik yang susah payah dia jaga jadi tercemar karena meladeni tingkah Zavas.
Bruk!
Setelah berhasil menjatuhkan buku-buku yang Leo bawa, Zavas berjalan dengan angkuhnya tanpa merasa berdosa. Leo tetap diam di tempat mengamati punggung Zavas yang kian menjauh dari pandangannya.