Bab 29 | This is Livia

19 3 0
                                        

Sebuah lagu memenuhi seisi ruangan, menemani setiap gerakan Livi di pagi hari

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Sebuah lagu memenuhi seisi ruangan, menemani setiap gerakan Livi di pagi hari. Layaknya seorang diva, gadis itu turut melangkah ke sana kemari sambil turut menyanyi dengan penuh energi. Dia menyambar dasi yang tergantung di dinding, memakainya dengan lihai. Cukup beberapa detik saja dasi itu sudah bertengger di kerah bajunya. Sampai di step terakhir, memakai liptint berwarna jambu, sesuai dengan warna bibirnya sehingga hanya memberikan kesan segar dan tidak berlebihan.

"Livi, lo cantik banget. Lo keren." Livi mengamati dirinya kagum. Sambil sesekali berputar di depan cermin.

"Okay, let's go!"

Livi mengendarai mobilnya pelan. Dia sengaja berangkat lebih awal hari ini. Karena selain untuk menghindari macet di ruas jalan tertentu, dia juga ingin menikmati perjalanannya. Sembari melihat aktivitas manusia lain di ibu kota yang seakan  tiada henti.

Gadis itu keluar dari mobil, menggendong tas di sebelah bahunya, lalu melangkah ke kelas dengan percaya diri. Seperti biasa, siswa lain terutama adik kelasnya akan sungkan ketika berpapasan dengannya. Livi kembali ke dirinya yang dulu. Acuh. Terkesan buruk memang, tetapi inilah Livi. Dia hanya peduli pada angka, di luar itu bukan urusannya.

Hari ini, menjadi hari yang membosankan bagi sebagian anak, karena untuk pertama kalinya di semester satu ajaran baru mereka mendapatkan jam kosong karena para guru ada rapat mendadak. Hal ini dimanfaatkan oleh Zavas dan teman-temannya untuk bermain uno. Sementara itu, ada Livi, Rea, Jeysen, dan Dirga yang kini tengah duduk sambil berdiskusi ringan.

"Exactly! Jadi ceritanya, Pangeran Diponegoro itu anak Sultan Hamengkubuwono III. Tapi dia ga jadi pewaris tahta karena ibunya bukan permaisuri utama. It's giving royal family drama vibes!" ucap Dirga terdengar sangat antusias.

"Oh, jadi ini semacam succession crisis? Kayak di Game of Thrones gitu?" Jeysen turut menimpali.

"Tapi plot twist-nya, dia justru jadi leader resistance movement. From zero to hero banget!" Rea menjawab dengan rasa bangga, hingga reflek bertepuk tangan.

"Dan yang bikin dia triggered buat perang itu bukan cuma masalah tahta. Ada banyak faktor yang bikin dia fed up sama Belanda," jawab Livi dengan nada yang tenang seraya berpikir.

"Betul! Jadi tahun 1825 tuh, Belanda mulai interfere banget sama urusan internal keraton. Terus mereka juga build jalan yang ngelewatin makam leluhur Diponegoro. That's so disrespectful!" sahut Dirga.

"That's like griefing someone's sacred place. No wonder dia marah banget."

"Plus, secara ekonomi juga kan rakyat udah suffering karena sistem pajak Belanda yang toxic banget. Diponegoro literally jadi voice of the people."

Belum selesai dengan percakapan mereka, bel istirahat sudah berbunyi. Semua bangkit Dan pergi keluar untuk menyegarkan otak sebelum kembali dipanaskan dengan beragam pembahasan hari ini.

Livi dan Rea berjalan menuju ke kantin sekolah. Livi sendiri tidak tau akan memesan apa. Livi hendak menunjuk pada menu mie instan, tetapi langsung ditolak oleh Rea. Livi sudah makan mie tiga hari yang lalu. Wajahnya seakan mengisyaratkan peringatan.

"Soto di sini enak tau. Lo harus coba," bujuk Rea.

"Up to you," jawab Livi sambil memutar bola matanya nakas.

"Rea segera menghambur dan mengantre agar segera dibuatkan."

Livi mengamati sebuah email yang dia kirimkan satu Minggu yang lalu dan tidak kunjung mendapatkan balasan.

"Cih." Livi tersenyum getir.

Tidak menunggu lama, Rea telah kembali dengan sebuah nampan berisi soto dan air es masing-masing dua.

"Lo udah dapet kabar dari Leo, Li?"

"Belum. Ngeselin banget emang. Belum juga satu bulan udah ngilang." Livi menyeruput kuah soto dengan pelan-pelan karena masih panas.

"Sibuk onboarding kali. Tau sendiri kan sistem di sana ketat. Gue liat mereka belajar aja yakin banget kalo gue ngga bakalan betah di sana. Super ngambis. Mana katanya banyak bullying lagi."

Livi terdiam sejenak. Benar. Livi pernah melihat sebuah video yang mengatakan bahwa di Korea sangat mark bullying terutama pada orang-orang dari luar Korea. Sistem belajar di sana juga sangat ketat. Tiba-tiba saja dia jadi khwatir pada lelaki itu.

"Udah, ngga usah dipikirin. Leo pasti baik-baik aja. Dia anak OSIS, udah biasa beradaptasi sama banyak hal. Biasa berbaur juga."

Seolah mampu membaca isi kepala Livi, Rea menenangkan Livi.

Sementara itu, di sisi lain Zavas dan teman-temannya tengah merencanakan strategi balap motor malam ini.

"Hadiahnya lumayan bos," celetuk Kelvin.

"Gue ngga ngincer duit. Di rumah gue banyak. Gue cuma mau ngenalin Xander aja ke orang-orang," jawab Zavas yang langsung mendapatkan sahutan dan tepuk tangan dari gengnya.

"Oke, abis ini kita langsung siapin aja motornya," jawab Raka sambil terus menyesap rokok. Tentu saja saat ini mereka ada di gudang sekolah.

"Nice. Malem ini kita harus menang," ucap Zavas dengan penuh nada penekanan.

Popularity (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang