Popularity merupakan cerita yang mengangkat kisah siswa SMA Negeri Pelita Bangsa yang berusaha keras untuk mendapatkan popularitas. Berbagai hal mereka lakukan agar keberadaan mereka dapat terlihat. Mulai dari selalu menjadi bintang kelas bahkan bin...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Hari ini, sepertinya menjadi mimpi buruk bagi anak-anak kelas Sebelas A. Bagaimana tidak? Pagi-pagi sudah dihantam ulangan harian mendadak. Semua anak tampak pucat, bahkan beberapa frustasi karena tidak berhasil menjawab beberapa soal. Terkecuali sekelompok anak. Sudah tau, bukan, siapa mereka?
Rea tampak lemas dengan tubuh yang menyender ke tembok. Sesekali dia terdengar menghembuskan napasnya pasrah. Seakan tidak melihat situasi, sebuah tangan kekar memukul bahunya. Ingin sekali Rea membanting siapa pemilik tangan itu, tetapi dirinya benar-benar tidak mood.
"Temen lo di mana?" tanya Zavas dengan tidak berdosa.
Rea tidak langsung menjawab. Dia melihat sekilas ke kursi Livi yang sudah kosong sejak lima belas menit yang lalu.
"Kayanya tadi ke kantin sama Leo, deh. Tapi lama banget, ngga tau ke mana."
"Suara lo lemes amat kaya orang ngga niat idup. Miskin lo ngga bisa beli makan?" Zavas terkekeh sebelum akhirnya Rea melemparkan tasnya ke wajah Zavas.
"Buset, sans Re. PMS lo?" Zavas yang terkejut tidak sempat melindungi wajahnya dari amukan tas Rea.
"Lo bisa diem ngga?! Gue lagi stres! Jangan bikin gue tambah emosi!"
Rea yang sadar saat ini dia tengah menjadi pusat perhatian, memutuskan untuk keluar kelas. Dia pergi untuk menenangkan diri sebelum bel masuk berbunyi. Dia berjalan menuju rooftop. Karena biasanya, di sana udaranya terasa begitu segar.
Benar saja. Rea tersenyum seraya menatap gedung-gedung tinggi yang dapat tertangkap oleh netranya. Rea duduk sembari menikmati sebuah eskrim yang sempat dia beli di kantin tadi.
Baru beberapa detik merasa lebih baik, ketenangan itu seketika hilang saat hidungnya mencium aroma yang paling dia benci. Rokok. Rea mengawasi sekitar dan mencari tahu murid nakal mana yang merokok di area sekolah?
Rea berhasil menemukannya. Seorang lelaki tengah duduk membelakanginya dengan terus menatap ke depan. Rea penasaran siapa lelaki tersebut. Tidak salah lagi, dia adalah ....
"Raka?"
Raka terdiam beberapa saat ketika mendengar seseorang memanggil namanya. Dia sudah hafal betul siapa gadis itu. Raka sontak membalikkan tubuhnya dan memastikan. Raka tersenyum. Dia melempar puntung rokoknya, lalu menginjaknya agar padam.
"Lo ngapain ngerokok? Bukannya lo udah berhenti? Ucapan lo emang ngga ada yang bisa dipegang, ya," cecar Rea yang terlihat sangat kecewa.
Raka tersenyum miris. Sebelum akhirnya menjawab omelan Rea.
"Dulu kalo gue lagi banyak masalah, gue ada tempat cerita. Gue punya lo, Re. Sekarang? Ada beberapa hal yang bisa gue ceritain ke anak-anak Xander." Raka menunduk untuk beberapa saat. Dia membalikkan tubuhnya dan kembali ke posisi duduknya.
Rea bisa melihat ada hal yang sedang Raka sembunyikan. Suara lelaki itu terdengar dalam. Rea tidak enak hati jika terus-terusan menyalahkannya. Entah suara dari mana, Rea melangkah mendekati Raka. Sekarang dia duduk di samping lelaki itu. Keduanya terdiam. Rea menatap Raka dari samping. Benar, sorot matanya berbeda. Kali ini, tampak kosong. Rea sendiri bingung harus mengatakan apa. Dia memutuskan untuk kembali menatap lurus ke depan. Tiba-tiba pundaknya terasa berat sebelah.