Bab 35 | Dirayakan?

46 3 0
                                        

Jakarta terlihat lebih damai ketika diguyur hujan

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Jakarta terlihat lebih damai ketika diguyur hujan.  Meskipun hal ini tidak mengurangi kepadatan jalan, tetapi rasanya jauh lebih tenang. Seakan berbagai hal yang terpendam perlahan luruh begitu saja.

Hidup dengan terus berlari tanpa tahu caranya berhenti sungguh melelahkan. Tidak ada jeda untuk bisa merenung apa yang sebenarnya dikejar. Ada yang bilang, hidup adalah sebuah pilihan. Namun, mengapa ada banyak orang yang hidup justru karena tidak punya pilihan? Seakan itu adalah sebuah paksaan untuk menerima takdir Tuhan.

Beberapa bulan telah berlalu. Semua masih sama, hanya saja langkahnya sudah lebih jauh tanpa bisa mengembalikan waktu. Iya, memang seharusnya tidak ada yang perlu diulang. Biarkan semua berjalan begitu saja. Livi sengaja mengurangi kecepatan mobilnya untuk menikmati hujan di siang hari ini. Sebenarnya tadi dia hanya berniat keluar sebentar, tiba-tiba saja dirinya tidak sengaja bertemu dengan Rea di pusat perbelanjaan. Rea meminta Livi membantunya mencarikan parfum. Katanya ingin mengganti dengan merk baru. Tanpa disadari, mereka menghabiskan waktu hingga ber jam-jam. Namanya juga perempuan, 'kan?

Livi menghela napas. Hari ini seharusnya menjadi hari yang spesial. Namun, entah mengapa rasanya semua hal terasa menyesakkan. Seharusnya hari Minggu ini Livi tidur saja. Karena keluar pun tidak ada bedanya. Livi kini sudah tiba di pekarangan rumahnya dan segera memarkirkan mobilnya di garasi.

Dia membawa sebuah paper bag berisi cake. Livi memasukkannya ke dalam kulkas, lalu berjalan malas ke kamar. Beberapa menit kemudian, dia menjatuhkan diri ke atas kasur.

"Huh." Entah apa yang terjadi, kini matanya terasa panas. Seperti ada sesuatu yang ingin mencuat.

"Hidup gue sepi banget, ya."

Sudah banyak hal yang dia lakukan untuk bisa menghilangkan rasa sepi yang terus memeluk dirinya. Dia bahkan menyibukkan diri dengan bergabung di berbagai komunitas, mendaftarkan diri menjadi beragam duta, hingga belajar sepanjang hari. Namun, semua itu tetap tidak menghilangkan rasa sepi dalam dirinya.

"Gue capek," monolog Livi pelan sambil memejamkan matanya.

Livi tertidur dengan di temani suara hujan yang berjatuhan. Ramai.

Hari sudah hampir petang, Livi bangkit dari tidurnya. Dirinya terkejut ketika melihat beberapa panggilan yang masuk. Ada dari orang tuanya, Rea, dan ... Leo.

Belum cukup sampai di situ, Livi kembali menganga tidak percaya saat melihat sebuah foto yang Leo bagikan.

Belum cukup sampai di situ, Livi kembali menganga tidak percaya saat melihat sebuah foto yang Leo bagikan

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Popularity (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang