Popularity merupakan cerita yang mengangkat kisah siswa SMA Negeri Pelita Bangsa yang berusaha keras untuk mendapatkan popularitas. Berbagai hal mereka lakukan agar keberadaan mereka dapat terlihat. Mulai dari selalu menjadi bintang kelas bahkan bin...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Rantai seakan tengah mengikat tubuh hingga rasanya sulit untuk bisa bergerak bebas. Begitupun dengan kepala yang tidak pernah absen dari suara-suara yang amat ramai. Meski sudah merapalkan berbagai afirmasi, tetap saja tubuh tidak bisa berbohong jika dia tidak baik-baik saja.
"Bisa, Li. Satu pelajaran lagi, semua berakhir dan lo bisa istirahat setelah ini." Livi berusaha menyemangati diri setelah mengarahkan semua usahanya hingga sampai di hari terakhir ujian.
Saat tengah duduk menyandarkan tubuh ke kursi, Rea menepuk pelan bahu Livi.
"Li, are you okay?"
"Gue ngga papa, Re. Cuma kecapean," jawab Livi dengan suaranya yang terdengar melemah.
"Lo sih, kalo belajar kaya orang gila. Ngga inget waktu," omel Rea sambil meletakkan punggung tangannya ke dahi Livi. Memastikan apakah tubuh gadis itu panas atau tidak.
"Rada anget, Li. Bertahan bentar lagi, ya. Bentar lagi kelar. Usaha lo ngga boleh sia-sia." Rea berusaha menguatkan Livi agar bisa bertahan sampai pulang. Livi menganggung singkat. Tidak seperti biasanya, kini Livi hanya diam sambil menunggu bel masuk berbunyi. Biasanya, dia akan menunggu jam ujian dimulai sambil terus membaca buku. Kini dirinya takut jika dipaksakan belajar justru kepalanya akan semakin sakit dan tidak mampu melanjutkan ujian.
Kring!
Akhirnya bel masuk berbunyi dan pengawas sudah masuk ke ruang ujian. Semua anak pergi ke tempat duduk masing-masing sesuai nomor ujian dan mengumpulkan tas mereka di depan kelas, lalu setelah mendengar arahan dari pengawas, mereka baru mulai mengerjakan soal.
Livi meringis kesakitan saat kepalanya semakin terasa sakit. Kini dahinya sudah penuh peluh. Livi menggelengkan kepala, terus berusaha menyadarkan diri. Merasa semakin sakit, Livi berhenti sejenak. Dia sangat menyesal karena saat pagi tadi sudah mulai terasa sakit kepala tetapi tidak meminum obat. Dirinya sengaja tidak menelan satu butir obat karena sudah terlalu sering di Minggu ini mengonsumsinya.
Livi memejamkan mata sejenak, mengatur napas, dan berusaha bersahabat dengan rasa sakitnya. Iya, dia berusaha menikmati dan menerima rasa sakit itu. Karena semakin dilawan, justru semakin menyerang. Setelah merasa tenang, dia mulai kembali fokus ke ujian dengan tersisa dua puluh tiga soal lagi dari empat puluh lima.
Bel pulang berbunyi. Livi mengembuskan napas lega. Jawabannya telah dia submit. Semua anak berteriak, melampiaskan dan melepas rantai yang selama ini membelenggu mereka. Akhirnya ujian selesai.
Livi keluar ruangan dan segera dikejar oleh Rea. Rea tidak membiarkan Livi mengendarai mobilnya sendiri. Rea meminta Raka untuk membawa motornya dan dia pulang bersama Livi.
"Sorry ya, Re. Gue jadi ngerepotin lo."
"Iya lo emang ngerepotin gue. Makanya belajar inget waktu, jangan siksa diri lo sendiri. Gue tau lo mau bales dendam karena sebelumnya nilai lo turun, tapi jangan kelewatan juga," oceh Rea yang membuat Livi nyaris tertawa, karena Rea sangat mirip dengan emak-emak yang mengomeli anaknya.
"Yeee nyengir lo," sembur Rea.
"Iya, iya. Lo abisnya lucu. Kaya emak-emak," ucap Livi sambil terkikik.
Mereka kini sampai di rumah Livi. Livi segera mengganti baju, lalu bergantian dengan Rea.
"Gue pake baju lo yang ini, ya," izin Rea kepada Livi sambil menunjukkannya kepada Livi.
"Pake aja," jawab Livi.
Malam ini Rea menginap di rumah Livi. Sementara Rea berganti baju, Livi segera meminum obat agar sakit kepalanya segera mereda.
"Eh, sesuai janji lo waktu itu. Malem ini kita nonton horor, ya," ucap Rea dengan bersemangat.
"Iya, lo cari aja film nya. Gue pesen makan sama cemilan ya," jawab Livi sambil menggulir layar ponselnya untuk memilih makanan apa yang akan dia pesan.
"Nah, sip." Rea semakin bersemangat.
"Re, sebenernya hubungan lo sama Raka gimana, sih?" Tidak ada angin tidak ada hujan, tiba-tiba Livi menanyakan hal itu.
"Gue sempet balikan, Li. Ngga lama putus. Emang gelas yang udah pecah susah buat diperbaiki lagi. Sekarang kita mutusin buat temenan, karena kita putus dengan sama-sama sadar kalo kita udah ngga bisa menjalin hubungan," jelas Rea panjang lebar. Livi mengangguk. Dirinya menjadi berpikir, bahwa ternyata putus tidak selalu menjadi musuh, contohnya Rea dan Raka.
"Lo sendiri gimana sama Leo? Lempeng amat sih, kalian berdua. Gue yang greget jadinya. Apa perlu gue bantu confess. Si Leo juga ih ... gedek banget gue jadinya." Rea dibuat kesal sendiri. Livi tersenyum miris.
"Kita cuma temenan, Re. Kayanya dia emang ngga ada perasaan apapun sama gue. Makanya sekarang gue berusaha buat ngga berharap lebih sama dia. Daripada sakit hati, 'kan?"
"Tapi perhatian dia ngga wajar Li, buat cuma sekedar temen. Bahkan dia cuma deket sama lo," balas Rea semakin menggebu.
"Iya sih, sejauh ini yang gue tau dia ngga pernah deket sama cewek lain. Bahkan sama lo komunikasi pun ya seadanya. Cuma pernah deket sama si Zara, itupun karena urusan pasangan ketua OSIS."
"Nah, kan. Lo ngga pernah penasaran emang, Li?"
"Ya penasaran. Tapi gue harus gimana, Re? Gue ngga mungkin confess duluan, 'kan?"
"Duh, rumit banget sih kalian. Gini nih, kalo cowok cewek manusia ngambis semua. Pinter urusan pelajaran, tapi tolol tentang perasaan," sindir Rea tidak henti-hentinya.
Livi tidak ingin mengambil pusing, karena pusing di kepalanya bahkan masih belum benar-benar sembuh. Urusan perasaan, biarkan waktu yang membantu keduanya untuk sama-sama berpikir dan memahami perasaan masing-masing.
"Nah, ini lagi rame nih. Mending kita nonton ini aja," ucap Rea yang membuat Livi sedikit terkejut.
"Ini mau nunggu makan sama cemilan dulu atau mau langsung nonton aja, nih?"
"Nonton dulu aja sih, kata gue mah."
Malam ini, mereka menghabiskan waktu dengan menonton, menggosip, dan saling mendandani satu sama lain lalu mengambil gambar untuk mengabadikan momen.