Popularity merupakan cerita yang mengangkat kisah siswa SMA Negeri Pelita Bangsa yang berusaha keras untuk mendapatkan popularitas. Berbagai hal mereka lakukan agar keberadaan mereka dapat terlihat. Mulai dari selalu menjadi bintang kelas bahkan bin...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Pagi ini langit dihiasi awan hitam di sekitarnya. Meskipun hari menjadi lebih gelap, tetapi entah mengapa rasanya justru sangat tenang. Sedikit meredam otak yang seakan mendidih karena belajar semalaman. Tiga Minggu menjelang ujian akhir semester Livi tidak pernah absen untuk belajar hingga pagi. Dirinya menambah jam belajar yang sebelumnya bahkan sudah sangat padat. Akibatnya, pagi ini kepalanya terasa sangat sakit dan mengharuskannya meminum obat. Lagi.
Livi menyantap sarapannya sambil matanya terus tertuju ke buku di hadapannya. Iya, sambil membaca. Hari ini adalah hari pertama ujian, dia tidak ingin usahanya sia-sia karena sakit kepala yang menyerang. Dia menenggak sebutir obat, menutup buku, lalu menyandarkan tubuhnya sejenak ke kursi. Setelah berhasil mengatur napas, Livi terus memberikan afirmasi positif ke dirinya, mengatur napas lagi.
"Oke, hari ini pasti berjalan dengan baik. Sakit kepala gue bakal sembuh, dan gue bisa ngerjain semua soal dengan maksimal. Gue yakin pasti bisa."
Gadis itu mengenakan tasnya, lalu berjalan ke luar. Di tengah jalan, hujan turun dengan derasnya. Untung saja dia membawa mobil, jadi aman. Livi tiba di sekolah setengah jam sebelum ujian dimulai.
Seperti dugaan, suasana sekolah mendadak sepi. Tidak ada yang duduk di kantin, bermain di lapangan, atau kegiatan yang lain. Semua duduk diam di kelas sambil terus belajar. Istimewanya ujian kali ini, yaitu ujian menggunakan aplikasi yang dikembangkan oleh Dirga. Siswa berprestasi yang sebelumnya memenangkan beberapa perlombangan di bidang Software Developer. Beruntungnya, sekolah sangat mendukung bakat dan minatnya, sehingga kemampuan Dirga mampu di implementasikan di kegiatan sekolah.
Bel masuk berbunyi, suasanya menjadi semakin tegang. Kini pengawas telah masuk dan menutup pintu ruang ujian. Setiap anak tidak diperkenankan keluar jika bukan karena urusan mendadak. Hal ini untuk menghindari kejadian yang tidak diinginkan seperti di hari lalu. Pernah beberapa tahun silam terjadi insiden siswa bunuh diri dengan cara melompat akibat stres yang melanda saat ujian tengah berlangsung. Siswa tersebut keluar dengan alasan ke kamar mandi, rupanya gadis itu justru pergi ke rooftop dan melakukan tindakan mengerikan itu.
Sebagian orang menganggap tindakan tersebut berlebihan, tetapi bagi sebagian lainnya justru turut prihatin karena itu pertanda bahwa usaha yang sudah dia kerahkan sebelumnya menjadi sia-sia. Sejak saat itu, sekolah selalu mengingatkan kepada wali siswa untuk tidak terlalu mengekang atau menekan anak mereka agar bisa mendapatkan nilai sempurna maupun selalu menjadi nomor satu.
***
"Duh, yang ini apa ya? Di kepala gue hampir muncul jawabannya, tapi blur," monolog Kevin sambil sedikit menjambak rambutnya.
Sementara itu, Rio terus bergerak gelisah, sedangkan Jeysen duduk diam menghadap ke depan untuk melihat jawaban, seakan jawabannya melayang di depan mata. Menarik.
Untuk tipe soal hafalan, bagi Livi masih bisa diatasi karena memang ingatannya sangat kuat. Dia bahkan bisa mengingat materi beserta halaman dan letak materinya. Sebenernya Livi tidak sejenius itu, bahkan IQ nya lebih rendah dari Rea. Namun, usaha Livi lah yang membuatnya mampu memertahankan peringkat satunya hingga saat ini.
Satu per satu siswa telah menyelesaikan ujiannya. Kini hanya tersisa Livi dan Dirga. Keduanya sama-sama masih mengoreksi setiap jawaban dan memastikan agar tidak ada yang tertukar. Setelah dirasa yakin, mereka pun keluar.
Jam pertama telah usai. Hari ini hanya ada dua mata pelajaran. Masih ada jeda waktu beberapa menit sebelum melanjutkan jam kedua. Semua anak kembali belajar dengan metode masing-masing. Melihat pemandangan ini, membuat Rio mulai merasa mual. Entahlah, seperti ada sesuatu yang menekan bagian perut hingga dadanya. Atau dia mulai merasa tertekan? Oh, kasihan sekali.
"Woy, lo tertekan? Santai aja kali," sahut Zavas sambil menepuk bahu Rio. Benar saja, wajah cowok itu terlihat pucat.
"Yang ada makin lo tertekan, makin lo ngga bisa mikir," imbuh Kelvin. Kali ini sedikit bijak.
Bel masuk kembali berbunyi, semua segera menuju ke ruang ujian sebelum pintu ditutup oleh pengawas.
Jam kedua di isi dengan mata pelajaran Bahasa Indonesia. Semua terlihat tenang, bukan karena jawabannya yang mudah, melainkan tengah fokus membaca cerita yang disajikan sebelum menjawab pertanyaan.
"Gila, ini mah bukan cerpen, udah kaya novel. Panjang bener," monolog Raka sambil memegangi kepalanya.
Kelvin mendadak berdiri saat ujian masih berlangsung, dan anehnya tidak ada yang melihat ke arahnya sama sekali. Tampaknya, semua mendadak tidak peduli jika sudah berkaitan dengan ujian. Kelvin meminta izin untuk pergi ke toilet sebentar. Pengawas mengarahkan Kelvin agar menemui pengawas di depan pintu, sehingga Kelvin tidak pergi sendiri, melainkan tetap dengan pengawasan.
Waktu terus berjalan dan kini hanya menyisakkan delapan belas menit saja. Mereka terlihat gelisah. Ini pasti karena soal cerita yang terlalu panjang sehingga waktu mereka terbuang untuk membaca cerita tersebut.
Bruk!!!
Seseorang terjatuh dan pingsan. Seorang siswa histeris karena melihat ada banyak darah di tangan dan bajunya.
"Dia hanya mimisan dan mungkin kelelahan. Sudah, kalian lanjutkan ujian kalian, tetap fokus!" Pengawas segera meminta bantuan kepada petugas untuk membawa murid tersebut ke UKS. Beruntung, siswa tersebut sudah melakukan submit jawaban, sehingga nilainya tetap masuk.
Zavas sempat terkejut dan langsung menengok ke arah Rio. Dia menarik napas lega saat mendapati anak itu masih duduk di tempatnya.
Hari pertama ujian telah usai. Suasana mendadak ramai karena merasa lega. Sejenak melupakan bahwa hari yang sama akan kembali menyapa.
Setelah keluar ruangan, Livi buru-buru pulang. Dirinya harus segera tidur dan kembali belajar sore harinya. Anggap saja sebagai teman kelelawar karena tidur di siang hari dan beraktivitas di malam hari. Ini dia lakukan karena menurutnya malam hari lebih tenang, sehingga materi yang dia pelajari lebih mudah dipahami.
Saat hendak menyalakan mobil, sebuah notifikasi menghentikan kegiatannya.