Popularity merupakan cerita yang mengangkat kisah siswa SMA Negeri Pelita Bangsa yang berusaha keras untuk mendapatkan popularitas. Berbagai hal mereka lakukan agar keberadaan mereka dapat terlihat. Mulai dari selalu menjadi bintang kelas bahkan bin...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Di bawah langit malam yang temaram, ada banyak aktivitas yang dilakukan setiap orang. Tidak terkecuali dua sahabat yang saat ini tengah bekerja sama untuk memasak mie instan setelah menghabiskan waktu kurang lebih empat jam untuk belajar. Rea tiba-tiba membawa tas berisi baju ke rumah Livi tanpa memberi tahu Livi terlebih dahulu. Livi hanya bisa menggeleng tidak percaya dan menyadari bahwa dirinya di kelilingi oleh sahabat yang sedikit ... aneh.
Mereka hanya memasak mie dan membuat minun, tetapi gaya mereka memasak sudah seperti juara master chef Indonesia. Rea menaburkan bawang goreng dengan sangat hati-hati, lalu mengibaskan uap mie yang masih panas agar aromanya semerbak. "Perfecto," ucapnya.
"So, mau lanjut belajar atau nonton?" tanya Livi. Jujur saja gadis itu tidak paham dan kurang tau film apa yang harus ditonton. Dia sendiri sebelumnya hanya mengandalkan selera film Leo. Sekarang dia harus memutuskan sendiri film inspiratif yang akan ditonton.
"Eitsss!!!" pekik Rea yang telah meletakkan mangkuk mie nya ke atas meja. Dia merebut remot dari tangan Livi.
"Kenapa, sih? Ngagetin tau ngga?"
"Gue tau banget ya, lo pasti mau nonton film yang berbau ada pelajarannya, 'kan? Atau ngga film yang penuh dengan inspirasi, edukasi, pokonya itu. Stop ya, kepala gue udah berasep. Mending sekarang kita nonton horor."
"Ih, ogah ah. Bukannya gue takut ya. Tapi film itu durasinya lama. Besok kan kita harus sekolah, gue takut ngantuk di kelas," tolak Livi.
"Ah, ngga seru lo. Ya udah, malem Minggu ya kita nonton horor. Terus sekarang nonton apa?"
"University war aja."
Rea mulai menekan beberapa tombol Dan menemukan sebuah acara tv yang Livi maksud. University War adalah serial televisi realitas Korea Selatan yang mempertandingkan kecerdasan dari mahasiswa perwakilan kampus-kampus top di Korea Selatan dan dunia.
"Gila sih, dari cara jalannya aja udah keliatan pinter," celetuk Rea.
"Si dongo. Namanya juga balapan, ya harus ngebut lah. Kalo pelan mah orang latian motor kali," sahut Rio dengan geram.
"Udah, berisik lo semua. Gue pasti bisa menang, tenang aja. Dan besok pasti kita masih bisa sekolah, gue main aman."
Kini semua peserta balapan telah berkumpul di sebuah arena. Mereka tengah bersiap, sampai tiba waktunya mereka pun menancap gas. Semua bersorak menyerukkan nama jagoan masing-masing. Maksud kata aman dari Zavas tadi adalah dia akan menghindari orang-orang yang cenderung bermain curang agar dia terhindar dari kecurangan mereka seperti menendang motor yang menyebabkan kecelakaan.
Putaran pertama telah Zavas lakukan dan saat ini dia tengah melakukan putaran terakhir. Tidak lama lagi dia akan sampai pada garis finish. Matanya tiba-tiba mengabur dan pandangannya jadi terganggu. Motornya sempat mengalami oleng dan nyaris terjatuh, untungnya masih bisa menyeimbangkan kecepatan. Dan ya ... dia menjadi pemenang malam ini. Semua anak Xander segera menghampiri Zavas dan mengangkat tubuh Zavas dengan penuh bangga. Dan yang tidak kalah penting, mereka menerima uang taruhan malam ini.
"Guys, gue lupa. Gue belum ngerjain PR sejarah. Kalian udah belum?" celetuk Kelvin secara tiba-tiba yang membuat teman-temannya diam seketika.
"Pertanyaan lo ngga tepat banget banget, bodoh! Tapi gue juga belum sih." Raka juga menyadari, karena sejak sore tadi dia sibuk mempersiapkan motor Zavas yang akan dipakai malam ini.
Entah sejak kapan mereka mulai peduli dengan nilai, bahkan dengan PR. Sepertinya berada di kelas anak-anak jenius membuat mereka tertular jiwa ambisius meskipun hanya dua puluh persen. Memang inilah tujuan para guru sebelumnya. Mereka tidak bermaksud mengganggu konsentrasi para bintang kelas, mereka hanya menularkan semangat belajar ke setiap anak yang bahkan tidak sudi membawa buku ke sekolah seperti Zavas. Menurut mereka, tidak adil jika pembagian kelas hanya berdasarkan nilai, maka sama saja membuat anak yang bermasalah semakin bermasalah karena bertemu dengan orang-orang yang problematik juga.
"Ya udah kerjain di rumah gue aja. Bokap nyokap gue lagi pergi," jawab Zavas. Mereka segera meninggalkan area balap.
Di rumah Zavas, mereka benar-benar terlihat berpikir. Ada yang membuka buku, ada yang melihat tutorial YouTube, dan ada juga yang mencari di internet.
"Oh, gampang ini mah. Searching juga kelar." Zavas mulai mengetikkan berbagai soal di komputernya.
"Iya, kalo soal begini mah easy yang susah tuh kalo penalaran," ujar Rio sambil menunggu Zavas mendapatkan jawabannya.
Semua menuliskan jawaban mereka dan menyelesaikan PR hingga pukul setengah tiga pagi. Rupanya tidak semudah itu, karena jawaban per soalnya terlalu panjang. Sebetulnya bukan karena terlalu panjang, melainkan mereka menulis semua jawabannya tanpa di pilah mana yang penting dan tidak.
Merasa lelah dan mengantuk, semua pun tidur.
Hari sudah pagi dan semua anak sudah berada di dalam kelas. Bahkan Zavas dan teman-temannya yang hanya tidur beberapa jam pun kini terlihat sangat bugar tanpa terlihat mengantuk. Hebat.
Bel masuk telah berbunyi sedari tadi, tetapi belum ada tanda-tanda guru masuk. Aneh. Jeysen pun berinisiatif untuk pergi ke ruang guru dan menanyakan apa yang terjadi. Tidak lama, Jeysen kembali dengan wajah malas.
"Gimana, woy? Ngomong! Malah diem lo!" seru Zavas yang tidak sabar menunggu kabar dari Jeysen.
"Ada rapat lagi ternyata, katanya buat persiapan UAS bulan depan."
Zavas dan teman-temannya pun kecewa karena sudah begadang semalaman. Akhirnya dia bangkit dan menghampiri meja setiap anak agar mereka menyerahkan buku sejarah mereka. Dia tidak ingin usahanya sia-sia. Zavas meminta buku seakan tengah memalak uang jajan mereka. Usai mengambil semua buku sejarah semua anak di kelas, dia menyerahkan kepada Jeysen agar ketua kelasnya lah yang mengantarkan ke ruang guru. Tentu saja karena dia malas berjalan.
"Kesambet tuh anak kayaknya," ujar Rea yang suaranya masih terdengar oleh Zavas.
"Kenapa? Gue keren, ya? Gue tuh sebenernya pinter, cuman males pamer aja. Takut banyak yang makin naksir." Usai mengatakan itu, Zavas mengajak anak buahnya keluar kelas.
Zavas tetaplah Zavas. Setidaknya ada sedikit cahaya perubahan dalam dirinya. Tidak lama setelah Zavas keluar, terdengar suara histeris anak-anak yang terlihat sedang mengintip dari dalam jendela. Seperti biasa, Zavas dan teman-temannya harus mencari perhatian dengan bermain basket dan melepas baju mereka dengan menyisakkan kaos hitam. Sehingga mereka terlihat lebih cool.
"Hadeh," ucap Livi sambil memutar bola matanya malas.