Popularity merupakan cerita yang mengangkat kisah siswa SMA Negeri Pelita Bangsa yang berusaha keras untuk mendapatkan popularitas. Berbagai hal mereka lakukan agar keberadaan mereka dapat terlihat. Mulai dari selalu menjadi bintang kelas bahkan bin...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Hari demi hari sudah dilewati. Daun yang telah gugur tidak bisa kembali ke dahannya lagi. Waktu yang berlalu kini tengah antre untuk mengumpulkan kenangan yang telah dilalui akhir-akhir ini. Semua berjalan maju tanpa bisa memutar stir ke belakang. Mencari sebuah kesempatan untuk mengulang hal-hal yang diinginkan. Andai saja bisa, pasti akan sangat menyenangkan. Bahkan bisa meminimalkan manusia dari rasa sesal.
Di dalam sebuah mobil yang melaju sedang, dua insan terus terdiam. Sibuk dengan isi pikiran masing-masing. Mungkin memikirkan bagaimana dan apa yang akan terjadi ke depannya. Sampai akhirnya Leo mengusap lembut punggung tangan Livi. Memutus lamunan gadis itu dari berbagai hal buruk.
"Are you okay?" tanya Leo. Bodoh kalau Leo tidak tahu. Dia hanya ingin memastikan, bagaimana keadaan tetanggannya itu.
"No worries. I will be okay soon," jawab Livi sambil tersenyum.
Leo terus melajukkan mobilnya sampai kini mereka sudah tiba di bandara. Leo memeluk Livi sangat erat. Begitupun dengan Livi. Leo mengurai pelukan mereka untuk melihat apakah gadis itu menangis.
"Gue tau lo bakal kangen sama gue. Jadi mending sekarang kita fotbar dulu." Tanpa menunggu persetujuan, Leo sudah bersiap untuk mengambil gambar mereka berdua. Tidak ingin wajahnya terlihat aneh, Livi segera mengambil pose. Keduanya tersenyum simpul.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Okay Li, udah waktunya gue pergi." Leo menepuk pelan bahu Livi untuk menguatkannya. Meskipun Leo sendiri tengah berusaha keras agar tetap tegar.
"Jaga diri lo baik-baik. Jangan lupa makan, jangan lupa waktu kalo lagi belajar. Lo boleh ambis, tapi harus tetep jaga kesehatan. Percuma nilai lo bagus kalo akhirnya lo sakit kaya yang udah-udah. Fokus sama nilai, ngga usah aneh-aneh lagi." Leo menjeda kalimatnya, sejenak dia melihat iris mata Livi. Dia sangat ingin jika keduanya bisa sukses bersama. Andai saja nilai Livi tidak turun kala itu, pasti kini mereka berdua akan berangkat bersama. Namun, ya sudahlah.
"Li, ayo berjuang bareng-bareng."
Kini Leo sudah pergi menjauh dari Livi. Livi hanya bisa melihat bahu lelaki itu yang kini kian memudar, hilang. Livi kembali ke mobilnya. Pagi tadi Leo yang menyetir, kini dia seorang diri. Sejak kepergian Leo tadi, kalimat terakhirnya terus terngiang-ngiang di kepala Livi.
***
Mentari pagi telah menyapa dengan membawa suasana yang berbeda. Livi terbangun dengan rasa malasnya. Kini tidak ada lagi suara berisik yang meneriaki namanya dari arah balkon maupun dari luar halamannya. Livi berjalan gontai ke arah kamar mandi.
Mulai hari ini, Livi akan menggunakan mobilnya untuk berangkat ke sekolah. Motornya dia simpan untuk dia pakai di lain waktu. Mungkin.
Sekolah tetap ramai seperti biasanya. Tidak ada yang berubah. Seperti yang saat ini tengah terjadi di kelasnya. Ada Zavas yang tengah membuat karya di papan tulis. Ada Kelvin yang tengah asik bermain game, ada Raka yang tengah bermain gitar, juga Rea yang tengah menyembunyikan kepalanya di lipatan tangan, tidur. Oh, iya. Dari kejuaraan kemarin, Rea mendapatkan juara dua. Dia nyaris mendapatkan juara satu, hanya saja di akhir babak mendadak kakinya kram hingga akhirnya mendapatkan serangan dari lawan.
Benar. Tidak ada yang berubah. Livi tidak boleh bersedih.
"Li, ayo berjuang bareng-bareng."
Kalimat itu. Livi harus berusaha lebih keras kali ini. Ada banyak hal yang telah dia lewatkan. Ada nilai yang meminta untuk diselamatkan. Ada Rea, yang beberapa bulan terakhir dia abaikan. Setidaknya, semua memberikan pembelajaran. Yang terpenting adalah, bagaimana kita menjalani kehidupan ke depannya.
Pembelajaran hari ini telah selesai. Livi kini tengah merapikan bukunya dan hendak bergegas pergi.
"Li, mau ke mana lo hari ini?"
"Gue mau ke perpusnas, Re. Lo mau ikut?"
"Boleh deh, udah lama gue ngga ke sana. Wait, gue beres-beres dulu."
"Rea, gue nitip Livi, ya. Gue tau dia bisa ngelakuinsemuanya sendiri. Gue juga tau dia suka menyendiri, tapi dia ngga suka kesepian."
Itu adalah kalimat yang Leo ucapkan kala itu kepada Rea. Di sini, Rea menyadari. Bahwa baik Leo maupun Livi, kedua sama-sama saling mencemaskan satu sama lain. Rea penasaran, bagaimana akhir kisah mereka berdua nantinya.