Bab 23. |penyesalan

1K 45 0
                                        

"Sampai kapanpun kita harus bertahan bersama, dan pulang dengan keadaan bersama"
-Aimar Arshad Ar Rasyid-

.
.
.
.
.
.
.
.
.
_____________________

Aimar Akmal dan zahwa pun telah sampai di ponpes Hidayatul Qur'an, Akmal sedari tadi hanya menatap abangnya yang sedari tadi diam dan tatapannya kosong.

"Bang ayo turun sudah sampai" ucap akmal sambil menepuk-nepuk bahu Aimar

"Bang ayolah, klo abang kaya gini pasti mbak Alma bakal sedih" ucap Akmal

"siapa pelakunya?" lirih Aimar dengan nada yang sangat lemah

"Abang ngga perlu tau" ucap Akmal

"KASIH TAU ABANG, AKMAL, HUAAKHHH SIAPA YANG BERANI MENYAKITI ISTRI SAYA HIIIKSSS" tangis Aimar yang histeris dan memberontak

"ISTIGHFAR BANG, TATAP AKMAL SEKARANG, TATAP AKMAL" ucap akmal berteriak sambil memegang pipi Aimar lalu menatapnya

"bang mau sampai kapan seperti ini hm?, kita dikasih Allah ujian, Allah pasti tau kemampuan kita, ngga semuanya itu instant bang, pasti ada Lika liku perjuangannya bang, Abang juga jangan terus seperti ini, kasian mba Alma, Abang tau?, mba Alma pasti menangis dialam bawah sadarnya, mba Alma akan ikut gelisah, dan mba Alma bakal kesusahan menemukan jalan keluar, jadi tolong jangan seperti ini bang" ucap Akmal sambil menatap lekat wajah Aimar

"Astaghfirullah haladzim" ucap Aimar sambil mengatur nafasnya agar stabil

"Sudah tenang?, ayo turun" ucap akmal

"yakinlah bang, Allah maha penyayang, pasti mba Alma akan baik baik saja" ucap Zahwa menenangkan

"yaudah ayo segera masuk bang, lalu kita kerumah sakit" ucap Akmal

"na'am mal" ucap Aimar

keesokan harinya

saat ini Abah Ahmad sedang menghubungi keluarga Abi Abdurahman, dan akhirnya keluarga Abi Abdurahman sudah perjalan menuju rumah sakit

"permisi, dengan keluarga pasien atas nama Salma Rahmania Az Zaqran" ucap dokter tiba tiba

"iya saya mertuanya" ucap Abah Ahmad

"maaf bapak, kondisi pasien semakin tidak memungkinkan, sudah sangat menurun, mungkin ini akibat penyakit hipoksemia pasien telah menyebar keseluruhan badan, dan sekarang kita hanya bisa meminta bantuan kepada yang maha kuasa, sekian terimakasih, apakah ada yang mau menyampaikan sesuatu kepada pasien?" ucap dokter

"SAYA, SAYA MAU BERBICARA SESUATU" teriak seorang pria dari belakang, yaa dia adalah Rafka kakak kandung dari Alma

"silahkan bisa masuk menemui pasien" ucap dokter

Rafka pun masuk keruangan ICU dengan pakaian apd lengkap, ia tak tega melihat adiknya terbaring lemah di brankar, Rafka pun membisikkan sesuatu kepada Alma

"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh adik, bagaimana kabarnya?, ayo bangun yo, kasian suami kamu, kamu tau? suami kamu tadi menangis histeris dan memberontak, kamu ngga kasian?, Abang juga kangen sama kamu bocil tengil " ucap Rafka sambil tersenyum sendiri dan meneteskan air mata

Pancaran Sepertiga MalamCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang