Danzo benci menunggu. Ia bukan tipikal orang yang penyabar. Mungkin ketika berhadapan Naruto ia bisa bersabar tapi diluar itu jangan pernah minta Danzo untuk bersabar.
Dulu, ketika Danzo berhasil membalaskan dendamnya, hal pertama yang ia lakukan adalah mencari Naruto. Danzo tau ia sudah tak waras karena menaruh hati pada seorang bocah. Saat itu ia hanya ingin melihat Naruto dari kejauhan. Melihatnya tumbuh tanpa mengusik kehidupannya sama sekali. Danzo sadar dunianya terlalu gelap untuk Naruto.
Niat awalnya segera berubah ketika tahu bahwa kedua orang tua Naruto telah tiada. Melalui detektif yang ia sewa Danzo mengetahui kenyataan bahwa Naruto tinggal bersama pamannya semenjak kedua orang tuanya tewas dalam kecelakaan.
Danzo iba mendengar kabar tersebut. Namun sekali lagi ia tak berniat jauh. Hanya ingin mengamati Naruto. Akan tetapi begitu ia tahu mengenai cara Juugo merawat Naruto, Danzo berubah pikiran.
"Kasihan tuan, kasihan nyonya"
Danzo tak berkutik melihat kondisi Naruto saat itu. Tubuhnya begitu kurus. Pakaian yang dikenakannya pada saat itu sungguh tak layak pakai. Rambut pirangnya yang dulu mengkilap terhilap kotor tak terawat. Danzo nyaris tak mengenali kondisi Naruto saat itu. Ia terlihat jauh berbeda dibanding saat mereka pertama bertemu dulu.
Ragu-ragu Danzo mendekati Naruto yang kini tengah duduk dipinggir jalan sambil menadahkan tangannya. Tanpa pikir panjang Danzo segera berlutut dihadapan Naruto.
Melihat sepasang sepatu mahal nan mengkilap berhenti dihadapannya membuat Naruto was-was. Apakah pria itu akan mengusirnya juga? Atau justru pria itu akan memarahinya karena mengemis di tempat ini?
"Nak, siapa namamu?" tanya Danzo dengan suara setenang mungkin.
Naruto tak berani mengangkat kepalanya. Bagaimana jika orang ini orang jahat. Ia takut sekali. Naruto ingin kabur, tapi jika ia melakukanya maka ia tidak akan punya cukup uang untuk ia berikan pada sang paman.
"Na-Naruto. Nama saya Naruto tuan"
Danzo tersenyum pedih. Hatinya seolah tersayat pisau tak kasat mata melihat kondisi Naruto saat ini. Tanpa banyak bicara, Danzo merogoh kantung celananya lalu mengambil dompetnya. Ia mengambil semua uang kertas yang ada didalam dompetnya lalu memberikannya pada Naruto.
"Ambil ini, kau sangat kurus. Makanlah sesuatu yang lezat dan bergizi"
Danzo segera pergi setelahnya. Ia tak kuat berlama-lama disana.
Naruto menatap lembaran uang ditangannya dan tersenyum bahagia. Hari ini ia bisa pulang cepat. Melihat jumlah uang digenggamannya, Naruto yakin ia bisa makan dengan kayak hari ini, dan itu membuatnya sangat bahagia.
"Terima kasih, tuan! Terima kasih!"
Hari itu, untuk pertama kalinya Danzo menitikan air mata. Untuk pertama kalinya ia merasakan sakit yang luar biasa pada hatinya karena melihat penderitaan yang harus Naruto tanggung. Sejak itu pula Danzo berjanji pada dirinya sendiri, bahwa ia akan membawa Naruto. Akan ia pastikan Naruto hidup dengan layak. Akan ia penuhi semua kebutuhan dan keinginannya. Danzo tak akan pernah membiarkan Naruto hidup susah lagi.
"Naru benci. Naru benci. Naru benci Danna!!"
Kata-kata itu begitu menusuk hatinya. Sakit pada kakinya yang terluka karena tembakan tak seberapa dibanding sakit hatinya karena mendengar ujaran kebencian itu.
"Hiks.....hiks....Danna pergi!! Naru tak mau lihat Danna! Danna pergi!!!!!!"
Naruto berteriak histeris lalu menutupi wajahnya dengan bantal. Ia tak mau melihat Danzo. Setiap kali melihat Danzo rasanya ia ingin meledak. Kecewa, marah, sedih dan rindu semua melebur menjadi satu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Danna
FanfictionKepergian kedua orang tuanya membuat Naruto terpaksa tinggal bersama pamannya. Selama tinggal bersama pamannya, Naruto harus menerima perlakuan kasar dan tak baik. Akan tetapi kehidupannya berubah drastis setelah ia tinggal bersama seorang pria berw...
