"Tuan.... Hiks.... Hikssss....bagaimana ini....?"
Danzo mengernyitkan dahinya ketika mendengar suara tangisan Karin dari sebrang telfon. Ia yang semula ingin marah karena Karin berani menghubunginya langsung terdiam.
"Tuan muda... Hiks.... Tuan muda..."
Deg...
Jantung Danzo langsung berdetak mendengar Karin membahas Naruto. Ada apa dengan rumah kecil kesayangannya itu? Tadi malam Naruto terlihat baik-baik saja. Rin bahkan bilang jika Naruto sudah bisa pulang jika seminggu kedepannya keadaannya terus membaik.
"Apa yang terjadi dengan Naruto?!" bentak Danzo frustasi.
"Tuan muda.... Hiks.... Tuan muda tidak sadarkan diri.... Anda harus segera kemari"
Danzo langsung diliputi rasa khawatir dan cemas. Mengapa tiba-tiba sekali? Padahal semalam tak ada gejala apa-apa?
Mendengar tak ada sahutan dari Danzo, Karin melanjutkan perkataannya.
"Tuan muda tadi mengeluh. Katanya ia sangat merindukan anda. Tuan muda meminta saya agar membujuk anda datang. Saya bilang tuan sedang sibuk, dan akan datang kalau pekerjaannya sudah selesai. Tuan muda bersikeras agar saya menghubungi anda. Saya tidak mengerti apa yang terjadi, tiba-tiba tuan muda mengeluh sakit kepala ditengah rengekannya. Saya memanggil dokter Rin dan ketika kembali tuan muda sudah pingsan.."
Danso menelan ludah gugup. Apa ada luka lain yang tidak terdeteksi kemarin dan baru terasa sekarang?
"Tunggu disana, kabari aku apapun yang terjadi. Aku akan segera datang"
Danzo melempar ponselnya sembarang lalu bergegas pergi menuju rumah sakit. Ia menjalankan mobil seperti orang kesetanan. Dengan kecepatan tinggi ia menerjang jalanan yang pada saat itu sedang dalam keadaan padat kendaraan.
Dalam pikirannya hanya ada satu tujuan, Naruto.
Danzo merasa tingkahnya beberapa hari ini begitu kekanakan. Ia cemburu pada seorang bocah ingusan yang baru dikenal Naruto beberapa hari. Lebih parahnya ia memilih untuk menghindar dan bukan membicarakannya baik-baik.
Seharusnya kemarin ia jujur saja pada Naruto bahwa ia tak suka Naruto dekat dengan orang lain. Dengan begitu ia akan selalu berada disamping Naruto dan tidak ketinggalan berita seperti ini.
"Masfkan aku, Naru. Jangan tinggalkan aku. Aku mohon"
Dengan nafas tersengal Danzo berlari menuju kamar rawat Naruto. Ia merasa dejavu. Perasaan ini pernah ia rasakan ketika mendengar Naruto masuk rumah sakit karena di dorong temannya di sekolah.
Danzo benci harus merasakan kembali perasaan ini. Terlebih kali ini alasan Naruto sakit adalah karena dirinya. Sepanjang perjalanan Danzo tak berhenti mengutuk dirinya sendiri.
"Ada apa ini? Kenapa kalian berdiri diluar?" tanya Danzo ketika melihat Karin dan pengawalnya diam diluar ruangan.
"Hiks...hiks...Tuan muda.... Tuan muda...."
Wajah Danzo seketika pucat. Ia tak sanggup jika harus mendengar kabar buruk tentang Naruto.
"Ada apa dengan Naruto?!"
Para pengawal hanya diam. Badan besar mereka terlihat kaku. Sementara itu, karin tak sanggup berkata-kata. Ia hanya bisa menangis sambil membenamkan wajahnya dikedua telapak tangannya.
Danzo semakin ketakutan. Ia bergegas membuka pintu kamar rawat Naruto. Suasana didalam terasa sunyi. Terlalu sunyi padahal ada Naruto di dalamnya.
"Naruto..."panggil Danzo dengan suara reecekat.
KAMU SEDANG MEMBACA
Danna
FanfictionKepergian kedua orang tuanya membuat Naruto terpaksa tinggal bersama pamannya. Selama tinggal bersama pamannya, Naruto harus menerima perlakuan kasar dan tak baik. Akan tetapi kehidupannya berubah drastis setelah ia tinggal bersama seorang pria berw...
