"Obati mereka seperlunya. Jangan biarkan mereka mati. Aku sendiri yang akan menghukum mereka nanti"
Danzo segera mematikan sambungan telpon dengan anak buahnya setelah dirasa pembicaraaanya selesai. Ia tidak akan menyentuh Juugo dan Sakura untuk saat ini. Ia ingin fokus pada kesembuhan Naruto sebelum membalaskan dendamnya.
Danzo menyimpan ponselnya kedalam jantung celana. Ia tak bisa meninggalkan Naruto terlalu lama. Apa boleh buat, pembicaraan ini terlalu sadis untuk Naruto. Ia ingin Naruto hidup didunia yang damai, indah dan dipenuhi cinta tanpa perlu tahu betapa gelap dunianya.
Ketika menuju kamar Naruto, Danzo terkejut. Seingatnya tadi ia menutup pintu, mengapa pintunya terbuka? Danzo kemudianberpikir positif, mungkin dokter atau suster yang datang untuk memeriksa keadaan Naruto.
Begitu memasuki kamar Naruto, Danzo dibuat sangat terkejut. Saking terkejutnya Danzo sampai membeku ditempat. Sesosok remaja lelaki tengah mendekap belahan jiwanya. Tak hanya itu, wajah anak lelaki itu berjarak terlalu dekat.
Tubuhnya bergerak secara otomatis. Ia berjalan cepat mendekati keduanya lalu menarik kerah baju anak lelaki yang tengah menyentuh Naruto. Sekali hentakan, tubuh anak itu jatuh tersungkur.
Sasuke meringis merasakan punggungnya membentur tembok. Sejenak, kepalanya terasa pening, membuat pandangannya kabur. Ketika pandangannya kembali normal, barulah Sasuke bisa melihat dan merasakan suasana yang begitu menegangkan.
Naruto terdiam dengan wajah terkejut. Mata bulatnya membesar tak bisa menyembunyikan keterkejutannya akibat perlakuan Sasuke. Kedua tangannya meraba bibirnya yang baru saja dikecup Sasuke.
Mengapa rasanya berbeda dengan yang biasa Danna lakukan?.
Tatapan tajam Danzo arahkan pada bocah ingusan yang berani menyentuh miliknya. Hanya 15 menit ia beranjak keluar, itupun tak jauh, hanya beberapa langkah, dalam waktu singkat itu bocah ingusan itu berhasil membuatnya kalang kabut.
"Pergi dari sini sebelum aku mematahkan tanganmu" ancam Danzo dengan suara setengah menggeram. Ia tak mau memperlihatkan sisi buruknya dihadapan Naruto. Ia masih berusaha menahan diri.
"Tidak, aku ingin bicara dengan Naruto"
Kesabaran Danzo semakin diuji. Satu sisi ia ingin menghabisi bocah ingusan itu, tapi ia tak mau menodai mata Naruto dengan tontonan tak layak.
"Pergi. Ini peringatan terakhirku"
Entah mengapa ancaman itu membuat nyali Sasuke gentar. Orang dewasa dihadapannya memiliki aura yang begitu menyeramkan.
"Na-Naruto. Aku pamit, lain kali aku akan datang lagi"
Sasuke segera meninggalkan ruangan. Punggungnya terasa panas ketika berlari menjauh. Tatapan tajam Danzo seolah mengeluarkan radiasi panas yang menusuk punggungnya.
Danzo berbalik menatap Naruto yang masih meraba bibirnya sendiri dengan tatapan bingung. Ketika kedua mata mereka bertemu, untuk pertama kalinya Naruto menyaksikan sorot mata berbeda dari Danzo.
"Danna...."
Naruto tak tau harus berkata apa. Melihat ekspresi Danzo yang begitu terluka membuat sudut hatinya terasa sakit.
Danzo tahu cinta tak bisa dipaksakan. Ia tahu sejak awal perasaannya tak bermoral. Meski begitu Danzo berusaha memperlakukan Naruto sebaik mungkin. Ia tak pernah memaksa Naruto membalas perasaannya. Ia tak pernah memaksa Naruto tumbuh dewasa sebelum waktunya. Ia menjaga dan menyayangi Naruto setulus hatinya dan menginginkan segala hal yang terbaik.
Selama ini, ada satu ketakutan terbesar dalam diri Danzo. Bagaimana jika Naruto menjatuhkan hatinya pada orang lain? Jika saat itu tiba, apa ia akan siap? Lebih dari itu, apa ia akan bisa rela membiarkan Naruto menjatuhkan pilihannya pada orang lain sementara hatinya mendambakan pemuda cantik itu?
KAMU SEDANG MEMBACA
Danna
FanfictionKepergian kedua orang tuanya membuat Naruto terpaksa tinggal bersama pamannya. Selama tinggal bersama pamannya, Naruto harus menerima perlakuan kasar dan tak baik. Akan tetapi kehidupannya berubah drastis setelah ia tinggal bersama seorang pria berw...
